SIAR berusaha menjadi lembaga indipenden yang tidak terikat akan kepentingan pihak manapun. Hal ini diharapkan akan membuat karya yang dihasilkan bersifat obyektif . tulisan yang ada di SIAR sepenuhnya harus berdasar kode etik yang ada pada Jurnalistik serta mengedepankan sikap kritis. Tentu harapan utamanya memang untuk melatih sikap kritis mahasiswa. Sayangnya, hal ini seperti tidak mendapat dukungan yang baik dari pihak kampus.

Tidak disambut baiknya SIAR sebagai sarana kreatifitas mahasiswa dapat dilihat dari minimnya dana yang dikucurkan hingga berbagai hambatan lainnya. Semisal dalam peliputan, anggota SIAR sering kesulitan mendapatkan data yang pasti dari kampus dengan berbagai alasan. Padahal selain sikap kritis, tulisan yang baik juga harus mengedepankan adanya data yang berimbang.

Kampus sendiri telah mengembangkan suatu lembaga pers sendiri dengan hasil karyanya berupa majalah Komunikasi. Tentu secara tampilan majalah ini lebih baik karena mendapatkan biaya yang cukup. Memang, dalam suatu kampus, menurut Yunan (dosen UNMUH) idealnya dalam suatu kampus ada 3 lembaga pers yaitu lembaga pers mahasiswa, lembaga pers kampus dan penerbitan kampus. Ketiganya sebenarnya memperoleh hak yang tidak jauh beda dalam hal anggaran. Dan sayangnya itu tidak terjadi di UM. Majalah Komunikasi sendiri banyak dikritik oleh kalangan pers mahasiswa karena tulisannya yang kurang kritis.

Meski dengan segala keterbatasan yang ada, SIAR masih bisa mempertahankan karyanya yang kritis. Tulisan yang dimuat dalam bulletin atau majalah serta mading selalu bermuatan mempertanyakan sesuatu yang dianggap salah. Meski begitu, bukan berarti tulisan di SIAR hanya mencari kejelekan kampus. Hal ini dikarenakan pengartian kritis bukan mencari-cari kejelekan, namun juga harus sadar akan prestasi yang sudah dicapai oleh kampus.

Tinggalkan Balasan