Apa yang muncul di benak Anda jika mendengar kata perempuan? Pasti sebagian besar akan menjawab bahwa perempuan adalah sosok yang lembut, sensitif, bahkan mudah menangis dan perlu dikasihani. Stereotip seperti itu harusnya dihindari. Pola pikir yang demikian adalah pola pikir patriarki, yakni menganggap bahwa perempuan dan pria memiliki perbedaan. Pria dianggap memiliki sifat pemberani, kuat dan tidak mudah menangis. Namun, sebenarnya tidaklah seperti itu. Seiring dengan perkembangan zaman, pola pemikiran pun berkembang. Sama halnya dengan perempuan Indonesia yang kini mulai berani mendobrak belenggu yang selama ini menjeratnya.

Semua perempuan pasti mendambakan suatu kebebasan, tidak lagi ingin dikungkung oleh adanya posisi hirarkis yang menyebabkan posisi inferior dan superior di antara jenis kelamin. Para perempuan ini menginginkan adanya kesetaraan hak antara kaum laki-laki dan perempuan dalam berbagai bidang, seperti politik, ekonomi, sosial dan budaya. Usaha memperjuangkan persamaan hak perempuan sebagai manusia yang merdeka seutuhnya ini disebut feminisme.

Picture by: wikipedia

Ketidakdilan gender masih dirasakan dalam kehidupan masyarakat di Indonesia, terutama bagi perempuan. Sebenarnya, feminisme menggugat perbedaan yang mencampuradukkan seks dan gender sehingga perempuan dijadikan sebagai kelompok tersendiri dalam masyarakat. Cara pandang semacam ini, pada akhirnya merupakan salah satu faktor penghambat dari arti pentingnya pengarusutamaan gender dalam seluruh aspek kehidupan. Terkadang berbagai persoalan yang lepas dari konteks yang lebih luas adalah buntut dari ketidakpahaman atas ketidakadilan gender tersebut.

Menilik dari perkembangan sejarahnya, pergerakan perempuan diawali oleh tokoh emansipasi wanita kita, R.A Kartini. Saat itu, Kartini dikekang pergerakannya oleh feodalisme ayahnya. Dia mampu menggugah kesadaran masyarakat pada saat itu, dengan mengubah pola pikir keliru yang menyebutkan bahwa perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan, dengan pola pikir maju yang menuntut kaum perempuan untuk merasakan pendidikan di sekolah sama seperti kaum laki-laki. Sejak saat itulah, mulai bermunculan organisasi-organisasi formal perempuan di berbagai daerah. Kebanyakan, tujuan dari didirikannya organisasi pergerakan perempuan adalah untuk menggalakkan pendidikan dan pengajaran bagi wanita, perbaikan kedudukan sosial dalam perkawinan dan keluarga, serta meningkatkan kecakapan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.

Picture by: biografiku.com

Tak hanya pergerakan dalam ranah politik, pendidikan, sosial dan budaya. Pergerakan perempuan juga tampak dalam dunia sastra. Periode Pasca Reformasi terjadi ledakan produksi di bidang sastra. Hal tersebut, dipicu oleh terbitnya novel “Saman” karya Ayu Utami. Sejak Saman mendapat Penghargaan Sastra Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 1998, Ayu kerap dipandang sebagai pembuka jalan kaum perempuan dalam mengembangkan bakat dan kreatifitas tulis-menulis. Ia juga disebut sebagai pelopor gaya penulisan perempuan yang secara eksplisit melukiskan seks dan seksualitas yang selama ini dianggap tabu. Ayu memopulerkan seks dari sudut pandang perempuan yang selama ini merupakan otoritas kaum laki-laki. Jika para penulis laki-laki masih memakai metafora untuk mengungkapkan alat-alat reproduksi manusia dan aktivitas seks, Ayu justru melakukan revolusi. Menabrak tabu seks dengan menulis istilah-istilah itu secara langsung dan jelas.

Selain Ayu, muncul juga penulis lainnya seperti Djenar Maesa Ayu dan Dinar Rahayu yang bahkan lebih ‘berani’ dibanding Ayu. Djenar terkenal dengan karyanya “Nayla” dan Dinar dengan “Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch”. Meskipun bukan menjadi tema utama tapi seks dijelaskan secara eksplisit dalam karya mereka. Hal tersebut mengusik sebagian pembaca tetapi di sisi lain banyak mendapat pujian oleh berbagai kalangan dan sangat fenomenal di masyarakat.

Picture by: salihara.com

Merebaknya karya-karya penulis perempuan yang berbau seksualitas memunculkan istilah ‘sastra wangi’. Sastra wangi bukanlah sebuah genre sastra, tapi merupakan penamaan atau sebutan bagi penulis perempuan semisal Ayu, Djenar, dan Dinar. Istilah sastra wangi sendiri memiliki konotasi negatif. Karya-karya penulis sastra wangi umumnya berisi masalah seksualitas, glamouritas, sensasi serta menceritakan gaya hidup dan keseharian mereka sebagai selebriti. Hal itu pula yang menjadi salah satu komoditi dan nilai jual dari karya-karya mereka.

Para sastrawati ini melakukan sebuah pergerakan perempuan dengan menunjukkan taring mereka dalam bidang sastra. Sastra merupakan sarana yang sangat tepat dalam menyampaikan sebuah permasalahan kehidupan yang kompleks. Melalui karya sastra, sebuah realita kehidupan dapat digambarkan. Seorang pengarang yang baik akan berusaha semaksimal mungkin dalam menggiring pembaca kepada berbagai macam konflik sosial termasuk di dalamnya masalah feminisme.

Tinggalkan Balasan