Indonesia memperingati hari Batik Nasional pada tanggal 2 Oktober. Hari itu, saya pun ikut mengapresiasi batik dengan cara menggunakan baju batik. Selesai dengan pakaian, saya berjalan menuju kampus dan melihat banyak mahasiswa yang menggunakan baju batik.  Namun, ada juga yang tidak menggunakan baju batik. Di tengah jalan saya bertemu dengan teman sekelas dan dia bertanya kepada saya “tumben kamu pakai rok, biasanya pakai celana jeans.” Saya sempat berpikir, bukan masalah rok atau celana jeans tapi sangat disayangkan jika teman saya tidak menyadari pakaian yang saya pakai. Pengalaman itu membuat saya berperasangka bahwa teman saya sangat tidak menghargai hari batik.

Tiba di kelas, ternyata saya terlambat sepuluh menit dan di kursi dosen sudah ada seorang wanita dengan kacamata dan buku di mejanya, Lilik Indrawati itulah namanya. “Apa kalian tahu apa yang kalian pakai saat ini?” tanya wanita yang duduk di kursi dosen tersebut. Saya berpikir karena hari ini adalah hari batik nasional sehingga banyak mahasiswa yang menjawab bahwa yang dipakai adalah baju batik. Lalu, dosen wanita tersebut hanya menjawab dengan senyum meremehkan.

“Tadi pagi ketika saya berada di dalam angkot, saya bertemu dengan anak SD yang duduk bersebelahan dengan ibunya, dan anak tersebut memakai baju batik,” sang dosen mulai bercerita. “Bu, apa karena hari ini hari batik nasional jadi anaknya memakai baju batik?” Ibu anak tersebut mengiyakan pertanyaan dari Ibu Lilik.

Dosen wanita tersebut berdiri dan mendekati mahasiswanya sambil bercerita bahwa ia merasa miris melihat bangsa Indonesia yang hanya memakai baju batik untuk memperingati hari batik nasional saja. Bangsa Indonesia minim pengetahuan akan esensi batik yang sebenarnya. Memakai baju hanya sekadar untuk memenuhi rasa gengsi terhadap budaya. “Saya juga kasihan dengan kalian, sebagai mahasiswa kalian juga sama seperti anak kecil yang saya temui di angkot tadi, memakai batik saat hari batik,” akunya.

“Tahukah kalian bahwa baju batik yang kalian pakai saat ini bukanlah batik yang sesungguhnya?” Dosen itu bertanya kepada mahasiswanya. Baju itu bukan asli buatan Indonesia, bukan juga batik Indonesia. Baju itu adalah buatan Cina yang diproduksi secara massal oleh pabrik. Meskipun kalian memakai batik tapi sesungguhnya kalian tidak memakai batik melainkan motif batik. Tidak ada sejarahnya batik dijahit sehingga motifnya terpotong seperti yang kalian pakai.

Batik adalah sebuah doa yang dituangkan di atas kain dengan cara menuliskan atau menorehkan malam pada kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu. Dalam setiap goresan canting di atas kain pembuat batik memasukkan doa melalui simbol-simbol yang digambarkan. Bahkan dari peralatan yang digunakan semua memiliki filosofi kehidupan. Sesungguhnya, kain batik tidak bisa dijahit karena hal tersebut akan merubah makna yang ada. Motif  batik pun tidak bisa dipotong dan dibentuk baju dengan model-model kekinian. Oleh karena itu, zaman dahulu batik hanyalah berbentuk hamparan kain yang dililitkan di tubuh.

Jenis-jenis motif batik tercipta sesuai dengan kebutuhan, seperti ketika prosesi pernikahan. Motif batik yang dipakai di adat Jawa ialah motif Batik Parang Kusuma yang didalamnya memiliki doa bahwasanya hidup harus dilandasi oleh perjuangan untuk mencari keharuman lahir dan batin sebagaimana wangi harumnya bunga. Bagi orang Jawa keharuman yang dimaksud adalah keharuman batin dan perilaku, keharuman pribadi, taat pada norma-norma yang berlaku, dan bisa membawa diri agar dapat terhindar dari berbagai bencana. Itu adalah salah satu makna filosofi batik klasik, masih banyak motif-motif lainnya yang memiliki nilai luhur yang terkandung didalamnya.

Cara memperingati hari batik nasional bukanlah seperti itu. Pendekatan dengan batik justru yang sangat dibutuhkan. Mengenali batik luar dan dalam akan membawa kita mampu memahami makna-makna yang sesungguhnya. Hal ini akan menumbuhkan rasa kecintaan terhadap batik itu sendiri. Perasaan cinta yang sesungguhnya, bukan hanya untuk hal-hal yang berbau pragmatis saja. Saat ini digencarkan pemakaian batik karena batik direbut oleh negara lain. Miris sekali bukan? Kita akan mengaung merdu ketika milik kita direbut orang lain, sedangkan kita adem ayem saja jika milik kita musnah tanpa jejak.

Tinggalkan Balasan