Malang (1/5) sejumlah aliansi menggelar aksi menyambut Hari Buruh Internasional. Mereka bergerak dari Pasar Besar menuju Alun-alun Kota Malang. Kemudian, berkumpul di depan Balai Kota (Balkot) Malang untuk melawan kebijakan fasis Rezim Jokowi-JK melalui selebaran dan poster-poster yang mereka bawa.

Dua aliansi, yaitu Aliansi Rakyat Malang dan Aliansi Rakyat Malang Bersatu melebur menjadi satu di depan alun-alun. Kemudian, bergerak menuju Balkot dengan menyuarakan orasi, menyanyikan lagu Buruh Tani, serta menyuarakan tuntutannya masing-masing.

Aksi ini dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat. Yulia Salsabila, siswa kelas  X SMAN 5 Malang mengaku sempat grogi karena pengalaman pertama bagi dirinya dan tidak ada teman yang seumuran dengannya, tetapi kemudian dia merasa senang dan ikut hanyut dalam suasana perjuangan dari kawan-kawan mahasiswa. “Lewat aksi ini saya berharap bisa turut serta membantu dan berperan untuk kesejahteraan buruh di Indonesia,” ungkap siswi SMA ini.

Sebelum melakukan aksi, Purwo Eko, Koordinator Aksi dari Aliansi Rakyat Malang Bersatu mengatakan ada beberapa tahapan berupa kajian-kajian dan beberapa hal yang telah disepakati bersama. Kesepakatan tersebut menghasilkan delapan tuntutan mengenai hak normatif buruh yang tidak dinikmati oleh buruh itu sendiri, terkait upah buruh yang masih rendah, serta mengenai Putus Hubungan Kerja (PHK) yang sepihak. Hal tersebut, bertentangan dengan UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Adapun tuntutan yang diajukan oleh Aliansi Rakyat Malang, yaitu; pertama, wujudkan demokratisasi serta lindungi kebebasan berserikat, berekspresi, dan berpendapat. Kedua, wujudkan kesejahteraan buruh, hentikan kebijakan upah murah, hapus sistem kontrak, outsourcing, dan PHK sepihak, ciptakan regulasi yang melindungi buruh sektor non formal.

Ketiga, wujudkan Reforma Agraria Sejati. Keempat, wujudkan situasi lingkungan kerja ramah perempuan dan penyandang disabilitas, dan ciptakan regulasi yang menjamin kemananan dari potensi kekerasan. Kelima, hentikan kriminalisasi, penangkapan, intimidasi, teror dan penghilangan paksa rakyat yang memprotes kebijakan tidak pro rakyat .

Keenam, wujudkan pendidikan murah bagi seluruh anak generasi penerus bangsa Indonesia. Ketujuh, wujudkan Jaminan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Terkhir, tolak agresi militer dalam rana sipil, intervensi imperialis Amerika Serikat dan sekutuhnya.

Putut Prabowo, Koordinator Aksi dari Aliansi Rakyat Malang mengatakan bahwa proses persatuan membutuhkan ruang dan waktu. Meskipun belum bisa bergabung dengan semua elemen rakyat yang ada di Malang Raya, ia akan tetap berupaya untuk menjakau setiap elemen itu dan bercita-cita mewujudkan kedaulatan rakyat.

Yustus Samon, Koordinator Lapangan mengatakan bahwa tindaklanjut dari aksi ini, yaitu dengan melakukan kajian–kajian untuk mempersiapkan agenda selanjutnya. Rencananya, akan diadakan aksi kembali pada tanggal 20 tepat pada saat hari Kebangkitan Nasional dan menjelang hari Reformasi. Selain itu, akan dijadwalkan pula evaluasi dalam merancang tuntutan-tuntutan yang perlu untuk diangkat. (irm//bia)

Tinggalkan Balasan