M. Soewardi Soerjaningrat atau yang lebih dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara (KHD) merupakan tokoh Pendidikan Indonesia yang fenomenal. Meskipun gelar dokter gagal diraihnya, tetapi KHD justru menjadi tokoh di bidang jurnalistik, politik hingga pendidikan. Penghargaan yang tinggi dari Pemerintah Indonesia diberikan kepada tokoh ini dengan menjadikan tanggal lahirnya sebagai Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei.

Kehidupan Awal: Sekolah Dokter hingga Jurnalis

KHD lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889. Nama kecilnya R. M. Soewardi Soerjaningrat. KHD merupakan putra Kanjeng Pangeran Ario Soerjaningrat dan cucu Sri Paku Alam III.

Sebagai keturunan bangsawan, KHD bisa mengenyam pendidikan Europeesche Lagere School (ELS), sekolah rendah untuk orang Eropa. Kemudian, melanjutkan pendidikannya ke School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA), sekolah untuk pelatihan dokter-dokter pribumi orang menyebutnya Sekolah Dokter Jawa. Wiryopranoto (2017:10) mengatakan bahwa kondisi kesehatan KHD yang tidak memungkinkan, menyebabkan KHD tidak tamat sekolah ini.

Profesi yang digeluti KHD adalah Jurnalis. KHD aktif di sejumlah surat kabar dan majalah, di antaranya: Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Tulisannya komunikatif, tetapi keras, berisi kritik sosial-politik kaum Bumiputera kepada pemerintah kolonial.

Karir Politik hingga Dibuang

Selain aktif sebagai Jurnalis, KHD juga aktif dalam organisasi politik. Ia bergabung dengan Boedi Oetomo dan mendapat tugas bagian propaganda. Bersama dengan Dr. E. F. E. Douwes Dekker (keluarga jauh E. Douwes Dekker-Multatuli) dan dr. Cipto Mangunkusumo mendirikan Indische Partij pada 1912. Namun, pemerintah kolonial tidak mau mengakui partai ini.

Pada tahun 1913, pemerintah kolonial Hindia Belanda berniat untuk merayakan 100 tahun kemerdekaan Belanda. Timbul berbagai reaksi dari tokoh-tokoh pergerakan, termasuk dari KHD. Melalui surat kabar De Express tanggal 13 Juli 1913, ia menulis “Als ik een Nederlander was”, Seandainya Aku Seorang Belanda. Isi artikel yang ditulis KHD membuat pemerintah kolonial meradang.

Pemerintah kolonial sampai mengadakan rapat khusus untuk menentukan “enaknya diapakan si inlander ini”. Tidak hanya KHD yang disasar untuk dihukum, dua sahabatnya di Indische Partij, Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo juga menjadi sasaran pemerintah kolonial.

Tanggal 18 Agustus 1913, keluarlah keputusan untuk membuang tiga serangkai ini ke negeri asal penjajah, Belanda. Ricklefs (2005:357) mencatat Cipto dibuang hingga 1914, Douwes Dekker hingga 1918, sedangkan KHD hingga 1919.

Berkecimpung di Dunia Pendidikan hingga Wafat

Setelah kembali ke Hindia Belanda, KHD sempat aktif di dunia politik. Akibat tulisannya yang tajam, ia sering berurusan dengan pihak berwajib pemerintah kolonial. Usai menjadi orang buangan, KHD akrab dengan penjara.

KHD menjadi jurnalis pertama Indonesia yang terkena ranjau “delict pers”. Herlina (2017:158) mengatakan bahwa KHD dihukum penjara pada 5 Agustus 1920 karena pidato dan tulisannya yang pedas. Kemudian, kali kedua pada November 1920 KHD terkena tuduhan menghina Ratu Wilhelmina, Badan Pengadilan dan Pangreh Praja hingga menghasut orang untuk membenci pemerintah kolonial.

Jalan perjuangan KHD berubah ketika istri KHD, R. Ayu Sutartinah jatuh sakit. Atas saran dari istrinya, KHD bertekad untuk mendirikan suatu lembaga pendidikan. Tekad KHD terealisasi dengan didirikannya Nationaal Onderwijs Instituut Taman Siswa atau Lembaga Taman Siswa pada 3 Juli 1922.

Taman Siswa murni independen. KHD menolak subsidi dari pemerintah kolonial. Ia juga kerap melawan kebijakan pendidikan yang dianggapnya menyengsarakan Bumiputera.

Usai Indonesia merdeka, Presiden Sukarno meminta KHD untuk menjadi Menteri Pengajaran (Pendidikan), meskipun jabatan ini tidak lama KHD ampu. Pada 26 April 1959, KHD wafat di Padepokan Ki Hadjar Dewantara dan disemayamkan di Pendapa Agung Taman Siswa Yogyakarta. KHD dimakamkan pada tanggal 29 April 1959 secara militer dengan Inspektur Upacara Kolonel Soeharto di Makam Taman Wijaya Brata,Yogyakarta.

 

Daftar Pustaka:

Ricklets. 2005. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.

Wiryopranoto, Herlina, dkk. 2017. Perjuangan Ki Hajar Dewantara: dari Politik ke Pendidikan. Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

 

Tinggalkan Balasan