Cucuran peluh membasahi tubuh Surahman (47) yang membungkuk menebas rerumputan liar. Panas terik matahari membuat kulitnya yang bersih menjadi memerah pada siang itu. Tak hanya seorang istri dan dua orang anaknya saja yang harus ia hidupi, namun juga beberapa kambingnya. “Udah saya anggap seperti anak sendiri sih, jadi punya banyak anak,” tuturnya sambil mengusap peluh tanpa melunturkan sedikit senyumnya.

Meskipun telah memiliki keluarga kecil yang harus ia penuhi kesehariannya, bakti terhadap orang tuanya tak pernah luntur. Setelah mengumandangkan Adzan Subuh dan mengimami jama’ah Salat subuh, Surahman bergegas menjemput ibunya, untuk berdagang di pasar. Sepulangnya membantu berdagang, pria yang kerap dipanggil Cak Man ini mencari rumput untuk kambing-kambingnya. Tak jarang ia juga bercocok tanam di kebun belakang rumah miliknya. Sesibuk apapun kegiatannya, Surahman jarang sekali absen untuk memimpin ibadah di Musholla dekat rumahnya. “Kadang kalo capek, abis adzan ya ketiduran padahal jamaah udah nunggu. Untung dibangunkan, gak kabur duluan.” ujarnya sambil terkekeh.

Rutinitas baktinya terhadap keluarga tak menyurutkan iman dan tekadnya. Tak hanya mengumandangkan Adzan dan memimpin jama’ah tiap 5 waktu, namun ia juga mengajarkan baca Al-Qur’an setiap harinya. Pria paruh baya ini melakukan rutinitas mengajarnya sejak 3 tahun yang lalu. Sekitar 35 orang yang bertempat tinggal di Desa Dilem menjadi anak didiknya. Mulai dari balita hingga dewasa berguru pada beliau. Tentu saja asam manis mengajar ngaji sudah dirasakan. “Sukanya ya, saya jadi tau macam-macam karakter anak dan untuk mengatasinya kan beda-beda. Kalo dukanya ya, ada beberapa anak yang susah dibilangin, tapi ya harus sabar,” tuturnya kala itu selepas mengajar ngaji.

Terlepas dari asam manis yang beliau rasakan, tekad bulat untuk memperbaiki akhlak anak-anak di lingkungan sekitarnya menjadi sokongan baginya. Pendidikan formal yang sangat diunggulkan menjadikan anak-anak generasi saat ini mengabaikan akhlak dan perilaku dalam bermasyarakat. “Jaman dulu kalo guru mukul murid, udah lumrah. Sekarang guru nyubit aja udah dilaporin. Anak jaman dulu akhlaknya baik walaupun tidak sepintar anak sekarang,” ucapnya diselingi tawa.

Kecintaannya terhadap sholawat juga ia terapkan dengan mendirikan perkumpulan sholawat Al-Amin. Kegiatan rutin diadakan seminggu sekali pada hari sabtu yang tempatnya bergantian di setiap rumah anggota. “Kalo rutinnya malam minggu kan enak, anak-anak gak galau mau malmingan. Daripada dipake kegiatan gajelas mending sholawatan to?” ucapnya sambil terkekeh pelan. Selain kegiatan rutin mingguan, Al-Amin juga kerap kali diundang untuk mengisi acara hajatan maupun syukuran. “Lumayan buat nambahin uang jajan,” tutur Dita, salah satu anggota aktif Al-Amin.

Di balik kegigihannya untuk membangun karakter agamis pada anak-anak di lingkungannya, Surahman mengakui tidak pernah terbesit sebuah pikiran untuk menetapkan tarif. “Namanya juga ilmu kan harus diamalkan. Ilmu gaboleh dijual gitu. Namanya guru ngaji ya berjuang fisabilillah,“ ujarnya sambil terkekeh. “Biasanya para orang tua ngasih jariyah. Harapannya biar ilmunya barokah,” lanjutnya.

Tinggalkan Balasan