Di kaki Gunung Wilis, tepatnya di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, jasad Ibrahim Datuk Tan Malaka dikebumikan. Lokasi makam Tan terpencil, hening. Beliau beristirahat jauh dari hiruk-pikuk dunia, dalam pelukan alam.

Mengunjungi makam Tan bukan perkara mudah. Namun, Anda tak perlu khawatir, saat ini telah terpasang penunjuk arah menuju lokasi Makam Tan Malaka, jalannya pun sudah beraspal.

Bahaya mengintai jika tidak berhati-hati dalam perjalanan menuju Makam Tan. Jalan selebar kurang lebih tiga meter menuju ke sana amat rawan, sejumlah kelokan tajam, turunan dan tanjakan curam melengkapi perjalanan. Bisa dikatakan, ini jalur maut, jika Anda tidak lihai mengendarai kendaraan. Pastikan dulu, kondisi Anda dan kendaraan Anda dalam kondisi yang prima.

Sesampainya di gapura kompleks pemakaman, jangan harap makam Tan berada di pinggir jalan atau seperti pemakaman umum lainnya. Meskipun berada di kompleks pemakaman Desa Selopanggung, makam Tan berada di bawah lembah. Peziarah harus menapaki anak tangga yang curam sebelum mencapai makam.

Makam Tan tampak bersih dan terawat. Tidak ada rumput liar di pusaranya, hanya ada bunga yang sudah nampak layu dan guguran daun. Tan benar-benar beristirahat dalam kesunyian. Pengumuman tes DNA yang pernah dilakukan, tidak pernah ada. Latar belakang Tan yang tokoh kiri, diduga menjadi alasan.

 

Kediri, 1948-1949

Menurut Harry A. Poeze dalam “Tan Malaka, Gerakan Kiri, Dan Revolusi Indonesia Jilid 4: September 1948-Desember 1949”, Tan Malaka di Kediri pada tanggal 19 Desember 1948 hingga saat terakhir hidupnya. Buku karya Poeze ini, berisi babak terakhir perjalanan hidup Tan Malaka.

Selama di Jawa Timur, Tan menuangkan cita-cita negara sosialis di setiap pertemuan maupun pamflet. Melalui Gerpolek (Gerilya, Politik, Ekonomi), Tan menjelaskan ide-idenya. Propaganda Tan yang menentang diplomasi Sukarno-Hatta melawan Belanda, dianggap sebagai ancaman yang serius bagi pemerintah republik.

Dalam perjalanan gerilyanya menyusuri lereng Gunung Wilis, Tan ditangkap oleh satu regu serdadu pimpinan Letnan Dua Sukotjo-pernah menjabat sebagai Wali Kota Surabaya 1972-1974–dari Batalyon Sikatan, Brigade II, Divisi I Brawijaya. Menurut Poeze (2014: 219), Sukotjo yang tahu siapa tahanannya, memerlukan sedikit waktu sebelum mengambil keputusan: Tan Malaka seorang komunis yang berbahaya, yang terhadapnya harus diberlakukan hukuman militer. Kemudian Sukotjo memberi perintah dan yang ditugaskan mengeksekusi Tan ialah Suradi Tekebek. “Tentang ini tidak dibikin laporan atau dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Tan Malaka dimakamkan di tengah hutan. Agaknya, itu terjadi pada petang hari 21 Februari,” imbuh Poeze.

Menurut Poeze pula, Sukotjo melaporkannya pada Letnan Satu Soekadji Hendrotomo, atasannya. Soejoedi Soerachmad dalam “Satu Abad Memorabilia Soerachmad, Pejuang Kemerdekaan, Pendiri Divisi Brawijaya (2004:138),” menyatakan bahwa Soerachmad, Komandan Brigade II pernah menanyai Hendrotomo perihal Tan Malaka. “Di mana Tan Malaka?”, Hendrotomo menjawab, “Sudah ditembak mati, pak, dan sudah ditanam”, “Apa melalui proses?”, “Ya, proses yang singkat pengadilan perang di lapangan,” jawab Hendrotomo.

Tan Malaka, walaupun namanya diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 28 Maret 1963, masih saja disingkirkan dari buku-buku sejarah karena perbedaan sikap politik di akhir masa hidupnya. Tan dianggap pemerintah Republik Indonesia sebagai oposisi berbahaya lalu ditembak mati oleh prajurit republik, semoga jiwa Tan Malaka beristirahat dengan tenang, dalam damai.

Tinggalkan Balasan