Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) melaksanakan kegiatan “HMJ Mengabdi” di Situs Petirtaan Ngawonggo yang berada di Dusun Nanasan, Desa Ngawonggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, 17-18 November 2018. Kegiatan pengabdian tersebut dilaksanakan kembali, setelah beberapa tahun sempat vakum.

HMJ Mengabdi merupakan program kerja HMJ Sejarah yang didanai oleh Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UM. Tema yang diusung adalah “Revitalisasi dan Edukasi Situs Sejarah yang Tertinggal untuk Masyarakat”. HMJ Mengabdi tersebut bertujuan menggugah kesadaran masayarakat akan sejarah lokal. “Utamanya menggugah kesadaran sejarah pemanfaatan di desa masing-masing, bahwa sejarah lokal mewarnai sejarah nasional,” tutur Najib Jauhari selaku Pembina HMJ Sejarah UM.

Rifky Hilman, Ketua Umum HMJ Sejarah mengungkapkan alasan pemilihan situs tersebut sebagai tempat pengabdian masyarakat. “Kita orang sejarah, bertanggungjawab atas situs sejarah” tuturnya. Ia juga memaparkan esensi mahasiswa saat ini yang menyebut sebagai agen perubahan tapi tidak pernah melakukan tindakan ke masyarakat. “Mahasiswa terlalu fokus pada olimpiade, lomba karya dan work shop tetapi tidak ada efeknya ke masyarakat yang notabenenya berpendidikan rendah. Masyarakat awam seperti ini sangat sulit mengerti mengenai nilai sejarah, perlu mahasiswa sejarah turun ke masyrakat untuk memberikan wawasan.” Imbuhnya.

Kegiatan HMJ Mengabdi tersebut dihadiri oleh Pembina HMJ Sejarah, dua dosen sejarah sebagai pemateri, dan 40 orang peserta dari masyarakat serta mahasiswa jurusan sejarah. Peserta cukup antusias dalam mengikuti kegiatan. Beberapa mahasiswa baru juga turut berpartisipasi.

Hari pertama (17/11), dilakukan diskusi dengan materi Kesejarahan Situs Ngawonggo yang disampaikan oleh Drs. Mudzakir Dwi Cahyono, M.Hum dan Kepariwisataan dan Media Pengembangan untuk Situs Ngawonggo yang disampaikan oleh Ulfatun Nafi’ah, M.Pd. Pada hari kedua (18/11) dilakukan kegiatan membersihkan situs secara gotong royong dan menambahkan tulisan nama-nama pada situs supaya pengunjung mengetahui nama setiap bagian di Situs Petirtaan Ngawonggo.

Ainun Maulana, Mahasiswa Jurusan Sejarah selaku peserta berbagi pengalamannya selama mengikuti kegiatan HMJ mengabdi. “Dapat ilmu baru kemarin, dijelasin tentang situs Ngawonggo. Taunya kan cuma air, ternyata di sini tempatnya air suci masuk dalam 5 bangunan suci,” tuturnya.

Situs Petirtaan Ngawonggo ditemukan pada bulan April 2016 oleh Rahmad Yasin yang bertempat tinggal dekat situs tersebut. “Saya iseng-iseng gak ada unsur kesengajaan, dari pada diam bengong, saya ke bawah membersihkan situs itu langsung saya foto lalu saya upload ke media sosial,” terangnya. Berselang 3 hari dari pengunggahan foto situs tersebut, Balai Pelestarian Cagar Budaya datang ke lokasi situs untuk melakukan penelitian.

Selama kurang lebih 5 bulan sempat banyak wisatawan datang untuk melihat situs baru ini. Saat ini hanya terlihat bekas gubuk-gubuk sederhana yang pernah digunakan sebagai warung. Pengunjung yang semakin hari semakin berkurang menjadikan alasan penutupan warung-warung tersebut. “Tahun 2017 iku baru rame-ramene, terus moro sepi maneh (tahun 2017 itu rame-ramenya, lalu sepi lagi),” tutur Novel selaku anggota HMJ Sejarah. Ia juga mengungkapkan pertama kali berkunjung ke situs tersebut masih bagus dan tertata rapi, namun saat ini banyak barang yang hilang karena kurangnya penjagaan dan sosialisasi. Artefak yang hilang ini sebagai tanda bahwa pemahaman masyarakat mengenai nilai sejarah masih kurang. (snt/wis)

Tinggalkan Balasan