Ketika berkunjung ke Taman Kanak-kanak (TK) hal pertama yang terbersit dalam benak adalah anak-anak lucu yang sedang belajar dan bersenang-senang dengan banyak mainan dan coretan gambar yang lucu dan berwarna. Hal tersebut juga kita dapati ketika berkunjung ke TK Eksperimental di Dusun Mangunan, Yogyakarta. Namun, ada hal menarik yang  dimiliki oleh TK ini yang lain dari TK pada umumnya.

Hal pertama adalah perihal lokasi TK yang tidak umum, yakni terletak di tengah-tengah perkampungan penduduk. Ruangan kelas benar-benar menyatu dengan tembok rumah warga. Tidak ada kesan eksklusif di sana, karena betul-betul menyatu dengan perkampungan.

Berawal dari sebuah sejarah yang panjang sang pendiri, yakni Romo Mangunwidjaya, memiliki pandangan bahwa sekolah adalah masyarakat dan masyarakat adalah sekolah. Pandangan ini betul-betul diwujudkan oleh Romo Mangunwidjaya dengan bukti bahwa segala bentuk pengajaran di sekolah bersinggungan langsung dengan masyarakat.

Di TK Eksperimental anak-anak bebas dibiarkan mengeksplor apa yang mereka inginkan. Di sini mereka dibebaskan dari yang namanya aturan seragam sekolah. Sementara, halaman bermain mereka adalah tanah yang biasanya digunakan warga untuk beraktifitas. Kurikulum di sekolah juga dirombak sedemikian rupa menyesuaikan dengan budaya sekolah dengan tetap berpedoman pada peraturan yang diterbitkan oleh  pemerintah.

Sekolah ini memegang prinsip bahwa kurikulum atau pedoman belajar yang dimiliki sekolah sudah sepatutnya bersumber dari anak. Dengan kata lain “Anak adalah kurikulum itu sendiri” seperti kata Romo Edi selaku Kepala Kantor TK Eksperimental.

Memupuk karakter bermasyarakat anak sejak dini memang sangat dianjurkan, karena pada masa 0-6 tahun anak mengalami masa pertumbuhan yang sangat pesat dan apa saja yang didapatkan anak pada masa ini maka akan membekas seumur hidupnya. Menurut Hurlock, anak yang mengikuti pendidikan prasekolah melakukan penyesuaian sosial yang lebih baik dibandingkan dengan anak yang tidak mengikuti pendidikan prasekolah.

Dasar kehidupan bermasyarakat memang harusnya sudah ditanamkan sejak berada di sekolah. Sudah sepatutnya bahwa sekolah menghadirkan konsep nyata bermasyarakat dengan tidak terlalu mengekslusifkan anak-anak di dalam sekolah dan menganggap bahwa memisahkan pendidikan dari masyarakat adalah hal benar, padahal sebaliknya. Anak-anak yang memiliki basic life education tentu akan memiliki kepedulian yang lebih dibandingkan yang pendidikannya hanya terkait dengan teori saja. Karena perlu diingat bahwa sekembalinya dari sekolah, anak-anak akan memulai kehidupan yang sebenarnya di masyarakat.

Di TK Eksperimental tidak ada pelajaran agama, yang ada adalah bagaimana cara mempraktikkan pengetahuan agama dari masing-masing anak. Semua keyakinan dihargai dan tidak ada yang diistimewakan. “Di TK inilah justru pengetahuan agama mereka dipraktikkan, jika satu agama mengajarkan untuk memiliki kepedulian apakah hal tersebut benar-benar diterapkan disini, inilah tugas utama kami dalam membentuk dan menguatkan karakter beragama mereka,” tutur Bu Ika yang merupakan salah staf pengajar disana.

Pada beberapa kesempatan, ketika ada warga desa yang meninggal, maka saat itu juga proses belajar mengajar dialihkan menjadi kegiatan melayat, yang dalam materi bahan ajar sering kali kita sebut dengan kegiatan incidental. Selain itu, ada satu pekan yang dikemas khusus untuk melihat bagaimana kepedulian anak-anak muncul, yang didapatkan dari pengamatan guru selama anak berada di kelas. Kegiatan ini juga dilakukan holistic atau terpadu dengan pembelajaran sehingga tidak disadari oleh anak.

Sangat disayangkan jika melihat kondisi taman kanak-kanak yang terlalu mengekang hak-hak anak seperti kebebasan bermain atau yang lebih parah memberikan pelajaran yang memang belum waktunya diberikan tapi sudah dipaksa untuk dijejalkan. Sementara karakter-karakter yang luhur belum diserap sepenuhnya oleh anak. Ini akan menjadi bumerang bagi para pendidik, orang tua, atau siapa saja yang memaksa anak untuk melepaskan hak-haknya.

BAGIKAN
Berita sebelumyaPutih Biru dalam Aksi: Konformitas untuk Solidaritas
Berita berikutnyaPemilu: Hajatan Demokrasi yang Semakin Pilu
Lisa adalah mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan di Universitas Negeri Malang, program studi PG-PAUD Selain menjadi mahasiswa, Lisa juga menjadi freelancer di bidang jasa desain dan fotografi. Perempuan kelahiran 4 Juli 1998 ini mulai menyukai dunia jurnalistik dan kepenulisan sejak Sekolah Dasar kelas 6 dan aktif mengikuti kegiatan kepenulisan hingga kini.

Tinggalkan Balasan