“Masyarakat Indonesia Membangun adalah Masyarakat Indonesia Membaca menuju Masyarakat Indonesia Menulis” begitulah semboyan dari Perpustakaan ‘PATABA’.

Perpustakaan PATABA merupakan singkatan dari ‘Perpustakaan Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa’ persis seperti judul sebuah buku karya Pram dalam tertalogi Pulau Buru. 

Pada Sabtu (25/5), saya berkesempatan mengunjungi perpustakaan PATABA yang sudah eksis sejak 30 April 2006 silam. Perpustakaan ini berdiri bersamaan dengan meninggalnya Pramoedya Ananta Toer yang beralamat di Jalan Sumbawa Nomor 40, Jetis, Blora, Jawa Tengah. Saya kira perpustakaan ini berada di pelosok desa, namun dugaan saya salah besar. Lokasi perpustakaan tersebut dekat dengan pusat kota, sekitar 15 menit dari Alun-Alun Kota Blora.

Rumah masa kecil Pram (PATABA) itu buka 24 jam. Datang tengah malam pun dengan senang hati selalu dibukakan pintu, bebas saja. Rumah yang dulu pernah diancam akan dibakar karena tuduhan yang tidak jelas. Kini berubah menjadi ruang terbuka untuk siapa saja yang ingin membaca, diskusi, sekadar mengenang Pram atau mungkin sengaja ingin bertemu dengan Soesilo Toer (Adik Pram).

Hari itu keberuntungan berpihak kepada saya, saya berjumpa dengan Soesilo Toer. Tanpa pikir panjang karena tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, langsung saja saya mengajaknya berbincang.

Soes, nama panggilan lelaki berusia 82 tahun itu, beliau tinggal di PATABA bersama sang istri. Beliau menjadi kepala pengurus Perpustakaan PATABA dan juga sebagai editor. Selain sastrawan terkenal, beliau juga biasa dikenal sebagai lulusan doktor universitas ternama di Uni Soviet.

Soes menjelaskan makna dari lambang PATABA, “Huruf  T  dalam bahasa Rusia berarti tiga kaki yang maksudnya, Koesalah Soebagyo Toer (Penerjemah terbaik dunia) kakak saya, Pramoedya Ananta Toer, dan saya sendiri (Soesilo Toer). Pembentukan Perpustakan PATABA ya 3 bersaudara Toer dan menjadi sumbangan tak ternilai dari Pram bersaudara,” ungkapnya.

Ada sekitar 7.000 sampai dengan 8.000 koleksi buku di PATABA, kalau dijumlah dengan terbitan karya Soesilo bisa mencapai 15.000 koleksi buku. Namun sayangnya tidak ada katalog yang tersedia, untuk mencari buku diperlukan kejelian. Bukan hanya koleksi buku, beberapa lukisan mengenai Pram juga banyak dijumpai. Tidak sedikit orang jauh-jauh dari luar kota bahkan luar negeri datang hanya untuk bertemu dengan Soes.

Tidak sedikit juga orang-orang yang dibuat kecewa. Pasalnya, terkadang Soes tidak sedang berada di perpustakaan yang merangkap kediamannya itu. “Terkadang saya kan nggak di rumah, tadi saya keliling kemana-mana, pasti ada saja yang kecewa. Kalau ingin ketemu, biar nggak kecewa bisa kontak ke nomor anak saya. Nomornya ada di belakang buku terbitan Pataba Press,” jelas Soes sembari menunjukan bukunya.

Soes selalu mengajak para pengunjung berbincang dengan humor yang khas, dan selalu menawari setiap penggunjung untuk menginap di perpustakaan tersebut. Bagi Soes setiap orang yang datang ke sini adalah gurunya. Karena dari obrolan yang tercipta tak sedikit hal baru yang bisa dipetik buahnya. “Semua tamu adalah guru saya, semua orang adalah guru saya, semua tempat adalah sekolah saya. Dalam satu hari minimal Anda melihat dan mendengar 1,5 juta fakta, kalo di lewatkan ya berarti nggak punya ilmu dan pengalaman,” ucapnya.

Hal yang ingin saya tanyakan dan membuat penasaran banyak orang namun takut menyingung perasaannya yaitu, kenapa seorang doktor sepertinya harus memulung ? Namun dugaan tersebut terpatahkan, beliau sama sekali tidak tersingung, bahkan berkenan untuk membagi ceritanya.

“Semua orang dan saya hidup dari pemulung, kamu itu juga pemulung. Jadi kamu sampah bukan? Buktikan kalo kamu bukan sampah, kalo kamu mutiara buktikan, kamu harus tau bahwa diri kamu itu siapa,” ujarnya sambil menunjukan barang bekas yang berhasil dikumpulkan, lalu menjelaskan bahwa itu semua barang pulungan.

Orang datang memberinya hidup, semua sampah yang telah dipilah nanti dikumpulan di  tempat pengumpulan barang, didaur ulang, maka akan memberikan hidup ke orang lain. Baginya pemulung adalah sebuah pekerjaan sekelas penyelamat dunia, hanya saja banyak orang yang tidak mengerti. Banyak orang yang menghina, sarjana kok jadi pemulung.

“Anda manusia harus punya fungsi, kalo Anda nggak punya fungsi berarti sampah, fungsi manusia menciptakan nilai lebih atau nilai tambah: relatif. Kalo pemulung mencipta nilai lebih absolut, tidak ada apa-apa yang keluar cuman tenaga,” katanya sambil tertawa.

Sebelas tahun Soes habiskan di luar negeri, kembalinya ke Tanah Air dipukuli orde baru. “Seharusnya dapat bintang dari Pak Harto karena turut dalam pembebasan di Irian Barat. Pangkat saya Letnan, ditahan enam tahun. Salah saya apa? tidak tahu. Namun saya tidak menyesal. Saya harus mendidik diri saya (sendiri) bukan sebagai serigala, tapi sebagai manusia. Manusia yang berani menang dan kalah lain kali, cuman manusia berani yang menaklukan dunia,” kisahnya.

Seusai perbincangan panjang beliau memberi pesan kepada saya. “Kalau kamu tidak setuju janganlah diam. Kalo nggak setuju bergeraklah dengan cara menulis. Diakui atau nggak urusan belakang. Kalau orang nggak setuju tidak apa-apa, jangan cuma kritik. Buktikan dan jangan asal omong!”

Bagi saya, PATABA bukan hanya sekadar rumah baca biasa. Dari pelesiran saya ke sana, saya memetik banyak pelajaran berharga. Kunjungan ke perpustakaan yang sering dicap ‘perpus liar’ itu tidak hanya mengobati dahaga saya akan kebutuhan literasi, namun juga pelajaran hidup dan perjuangan yang sangat berarti.

Penyunting: Rizka

Tinggalkan Balasan