Siapa yang tak kenal Tan Malaka? Lelaki bertubuh pendek, kurus, tetapi memiliki semangat juang yang luar biasa, gugur 21 Februari 70 tahun lalu. Sesosok yang suaranya lebih kencang dari dalam kubur. Berbagai karya telah ia hasilkan. Salah satunya adalah Madilog, yang dapat dianggap sebagai opus magnum-nya.

Selain Madilog, lelaki dengan 23 nama samaran itu juga menulis Massa Actie dan Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia). Sayangnya, Tan Malaka tak sempat melihat tahap akhir perjuangan kemerdekaan bangsanya. Ironisnya, ia tewas tragis lalu dilupakan oleh bangsanya sendiri.

Selama masa hidupnya, Tan Malaka sudah melakukan
berbagai macam pekerjaan, di antaranya menjadi guru sekolah dan mandor kebun teh di Deli, Sumatera Utara pada 1919-1920. Lalu, guru di Sekolah Rakyat di Semarang, Pekalongan, Bandung, dan Yogyakarta pada 1920-1922.

Kemudian, pada 1924-1927 menjadi penulis lepas Koran El-Debate di Filipina. Pada 1927, Tan bekerja di Singapura sebagai kerani perusahaan import. Tan juga pernah menjadi guru di Foreign Language School di Amoy, Cina pada 1936-1937. Pekerjaan guru (mengajar Bahasa Inggris dan Matematika) juga ia tekuni saat berada di Nanyang Chinese Normal School, Singapura. Kembali ke Indonesia ia pernah bekerja sebagai tukang jahit di Kalibata kemudian jadi juru tulis pertambangan batu bara di Bayah, Banten.

Jika dilihat, pekerjaan mana yang paling Tan Malaka sukai, kemungkinan jawabannya adalah menjadi guru. Tan sejak awal bercita-cita menjadi seorang guru. Bagi Tan Malaka, mengajari anak-anak Indonesia ia anggap pekerjaan tersuci dan terpenting. Hal itu ia ungkapkan pada karyanya: Dari Penjara ke Penjara (yang diterbitkan oleh Penerbit Narasi, 2017:47). Betapa bahagia mereka yang pernah langsung belajar kepada Tan Malaka.

Sejarah kemudian bercerita. Namanya diburamkan. Memori bersama bangsa tentangnya kemudian dihapus. Sungguh, nama pahlawan yang satu ini seakan “tercabut” dari rekam jejak perjuangan Bangsa Indonesia. Tetapi, seperti karakter lain yang bermain dalam panggung sejarah negeri ini, ia tetap ada. Ia hadir dalam setiap nafas yang dikeluarkan oleh bangsa ini, seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir, Soedirman dan yang lain. Diakui atau tidak, suka atau tidak suka, Tan Malaka telah memberikan sumbangsih yang besar terhadap perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Tinggalkan Balasan