Sejak resmi menjadi mahasiswa baru, entah sudah berapa kali saya mendengarkan orasi yang berapi-api. Entah itu dosen atau kakak tingkat, di PKKMB maupun acara lain, pokoknya perkataan bung Karno yang akhirannya: “…Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia!” atau pernyataan bahwa “generasi muda harus menjadi agent of change“. 

Sepanjang pengamatan saya, sudah menjadi kutipan yang haram hukumnya kalau sampai tidak disampaikan dalam setiap orasi. Mengguncang dunia? Mengguncang yang bagaimana? Agent of change? Separah itukah kondisi bangsa ini sampai perlu agen khusus untuk mengadakan perubahan secara terstruktur, sistematis, dan masif?

Kalau dilihat dari drama tanah air belakangan ini. Seperti razia buku, rasialisme terhadap Papua, penggusuran paksa atas nama pembangunan, pembatasan internet di tengah konflik, sampai kampus sahabat kita yang mahasiswanya demo perihal UKT itu. Maka benar, kondisi bangsa ini boleh dibilang parah.

Tapi apa perlu, maba-maba yang polos dan menggemaskan seperti saya dan kawan-kawan ini terus-menerus diberi keyakinan bahwa Indonesia sedang dalam keadaan rusak total, dan menjadi tugas kami untuk memperbaikinya? Seolah-olah tidak ada kebaikan yang tersisa dari negeri kita yang tercinta ini. Kan, sedih.

Memangnya kami para maba bakal nyantol mendengar kutipan bung Karno tadi? Atau kami bakal mengerti makna dari agent of change (agen perubahan) itu sendiri? Jangan-jangan, kutipan tersebut hanya sebagai bunga; sebagai hiasan dalam orasi-orasi kampus yang sejatinya membosankan dan tiada berarti. Pokoknya yang penting ada quote-nya bung Karno, pasti orasinya jadi keren.

Tidak, tidak. Jangankan menjadi agen perubahan, mengatur uang bulanan saja sudah bikin pusing bukan kepalang. Sebagai ARB alias anak rantau baru, jujur, saya nyaris gila. Terlebih lagi jika di awal perkuliahan ternyata hampir semua dosen mengimbau mahasiswa-nya agar punya buku tertentu dengan ketebalan hampir 500 halaman itu.

Gimana, ya, mau beli yang asli tapi dompet tipis, mau beli bajakan tapi merasa bersalah. Jangankan menjadi agen perubahan, ditawari selebaran saja kami sudah kabur, was-was kalau itu selebaran propaganda ekstrem—lebih tepatnya takut melanggar peraturan PKKMB, sih. Padahal setiap paham berhak atas propaganda, dan sekadar propaganda tidak akan membuat kami oleng dengan mudahnya. Lucu juga, maba takut selebaran, tentara takut buku kiri, hehe, mirip.

Jadi tolonglah, berhenti meneriakkan narasi berat bahwa kami, generasi muda harus menjadi agent of change, social control, iron stock, moral force, aduh… cukup istilah-istilah asing itu saya baca di caption twibbon kawan-kawan saya saja.

Trus itu lagi, pake meminta kami mewujudkan perubahan mendasar dan menyeluruh segala… Kan tidak mungkin kami mengangkat bambu runcing lagi; menggulingkan presiden lagi; menduduki gedung DPR lagi?—meskipun dua hal terakhir ini bisa saja terjadi.

Waduh, berat, Pak… Kami memulai perubahan dari yang ringan-ringan saja, seperti tidak mangan-turu tok, misalnya. Yhaa daripada terus-terusan berteriak bahwa negara ini butuh perubahan, mending mengubah diri sendiri dulu, gitu. Gimana mau perubahan kalau sedikit-sedikit rebahan.

Harapan yang muluk-muluk kepada mahasiswa itu rasanya perlu dipikirkan ulang. Idealisme memang perlu dipegang karena itulah kemewahan yang hanya dimiliki oleh kaum muda, kata Tan Malaka. Namun terlalu mendewakan dan terobsesi pada predikat agent of change juga tidak baik.

Ibarat kekasih, semakin kita berusaha mengubahnya, semakin menjauh ia. Maka terima saja dia apa adanya. Terima saja apa adanya bangsa ini, baik dan buruknya. Yang buruk diubah secara bertahap; yang baik dipertahankan. Biar tugas kami sebagai mahasiswa agak enteng dikit, gitu lur. Biar nggak cuma jadi agent of change, tapi juga agent of defense, mempertahankan kebaikan-kebaikan yang masih ada di negeri ini. Jangan mentang-mentang agen perubahan, lalu segala hal segala sisi pengin diubah. Itu mah bukan perubahan, tapi memaksakan keadaan.

Pada akhirnya, harapan saya adalah suatu kondisi di mana kaum muda tidak melulu dibangkitkan semangatnya melalui narasi-narasi pesimistis, melainkan narasi yang optimis, yang adem, yang tidak sampai membuat urat leher oratornya hampir putus. Jadi mahasiswa yang selow, ojo ngoyo, Mbak, Mas…

BAGIKAN
Berita sebelumyaPerihal Kehilangan Helm, Kita Semua Biasa
Berita berikutnyaCeleng-Celeng
Dipanggil Avif, sudah biasa dikira laki-laki. Berdarah Jawa tapi lahir dan besar di Denpasar, Bali. Sedang menempuh pendidikan S1 Bahasa dan Sastra Indonesia UM.

Tinggalkan Balasan