Malang (12/3) – Berlangsung Aksi Kamisan di depan gedung Balai Kota Malang.

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk penolakan dari Omnibus law yang dirasa menguntungkan investor dan merugikan rakyat. Tak hanya itu, dalam Aksi Kamisan ini mereka mengajak bersama-sama dalam merefleksikan kekerasan dari rentang awal tahun.

“Isu kali ini adalah refleksi penindasan dari rentang awal tahun hingga memulai cara baru bagaimana kita mencintai jalur perlawanan ini,” ungkap koordinator lapangan Aksi Kamisan, Ahmad Kevin Arif Al-Firdaus.

Tak hanya tentang Omnibus Law saja, dalam Aksi Kamisan ini mereka membawakan isu-isu yang lain. Berikut adalah pernyataan sikap dalam Aksi Kamisan kali ini:

1. Gagalkan Omnibus Law

2. Stop represi gerakan rakyat yang memperjuangkan Demokrasi

3. Hentikan Diskriminasi atas Petani Tegalrejo

4. Hentikan izin PLTB Geotermal di lereng Gunung Arjuno dan sekitarnya karena dapat merusak kelestarian lingkungan hidup

5. Menuntut Kepolisian untuk mengungkapkan pembunuh Buruh PT. Flow di Pasuruan

6. Menuntut kepada Kemenaker untuk menindaklanjuti secara hukum PT. Alpen Food Industry (Aice) dan meminta PT. AFI untuk memberikan hak normatif kepada buruh yang bekerja.

Aksi Kamisan selalu menggunakan cara-cara baru untuk bersolidaritas. Contohnya adalah acara Solidaritas Banyuwangi Bu Khofifah, Dengarkan Seruan Kami yang diadakan di Surabaya pada 20 Februari kemarin. Kevin menyadari bentuk solidaritas dapat dilakukan dalam bentuk apapun. Pada aksi kali ini akan dilakukan tahlilan bersama buruh, pembacaan kasus daerah Tegalrejo dan Gunung Arjuno, dan juga ada panggung seni.

“Tadi sih rencananya ingin menguatkan tekanan emosional dengan tahlilan. Cuma karena salah seorang buruh tidak hadir dan hujanpun datang, meski sempat berhenti, tapi semangat teman teman yang terus berdatangan. Akhirnya kami hujan-hujanan sampai petang,” jelas Kevin.

Kevin juga menambahkan bahwa sederhananya ia ingin tetap berdiri dengan metode gerakan apapun. “Seperti melawan dengan bahagia, meski pun kita sendiri ditindas habis oleh negara atas konflik akhir akhir ini,” ucapnya.

Ridho yang biasa disapa dengan Samanesna, seorang musisi asal Gresik yang ikut dalam Aksi Kamisan, mengaku sengaja datang ke Malang. Selain ingin mengikuti Aksi Kamisan di Malang, pemuda yang mengikuti Aksi Tolak Omnibus Law di Surabaya kemarin juga ingin bersilaturahmi kepada teman-teman sesama pendukung aksi.

“Aku juga ngerasa senang banget bisa hadir di Aksi Kamisan Malang,” tambahnya.

Selain itu Kevin juga berharap agar solidaritas terus berlanjut dan konsolidasi jalanan terus lahir. Sebab hanya jalanan kemenangan kecil bagi para pejuang HAM yang berharap akan perubahan.

Penulis: Widhi Hidayat
Penyunting: Suti Mega Nur Azizah

Tinggalkan Balasan