Sadar nggak sih. Tiba-tiba bumi sakit, katanya gara-gara satu kelelawar yang membawa virus. Entah sejak kapan si kelelawar memproduksi virus itu, kemudian enggak sengaja dimasak dan dikonsumsi salah satu orang yang doyan makan kelelawar. Virus itu hinggap ke tubuhnya dan menulari orang lain, hingga yang enggak ikut makan pun tiba-tiba jatuh sakit, kejang-kejang, dan bahkan mati. Semua itu terjadi tanpa memerlukan waktu yang lama.

Orang-orang mengira virus itu mungkin hanya endemik di wilayah itu saja. Ternyata salah besar. Virus itu mendunia, go international. Eropa, Afrika, Timur Tengah, semua kena dampaknya. Bahkan teknologi canggih buatan manusia pun engga bisa menghalau radikalisme virus ini dalam menjangkit tubuh manusia.

Tiba-tiba virus ini sudah asyik melancong ke berbagai penjuru dunia. Dari manusia satu ke manusia lainnya. Entah sampai kapan mereka lelah. Rumah yang sebelumnya baik-baik saja menjadi waspada–sekali pun dindingnya terbuat dari kaca. Tiba-tiba ada anggota keluarga besoknya demam tinggi, pilek, dan batuk kering. Keluarga panik, tetangga panik, grup-grup WhatsApp pada panik. Panik menjadi laris. Orang-orang membelinya gratis.

Kamu tau yang kupikirkan saat ini? Aku mencoba kilas balik 3-4 minggu lalu. Kita asik ngopi bareng, nggosipin apapun, ketawa hahahihi sampai ludah muncrat kemana-mana gak ada yang peduli, kita baik-baik aja. Tapi sekarang, kita yang biasanya suka nyicip minuman atau makanan temen tiba-tiba jadi takut, nyentuh aja ngga berani. Kita yang biasanya mau makan malas cuci tangan tiba-tiba hobi cuci tangan sampai-sampai deterjen habis di pasaran. Kita yang biasanya enjoy ke mall, ke pasar atau ke bioskop, tiba-tiba takut karena mereka adalah tempat kerumunan.

Kita tiba-tiba rebutan beli hand sanitizer yang padahal ngga ada di anggaran bulanan. Semuanya membeli, nggak peduli biarpun harganya meninggi. Beberapa orang bahkan rela menimbun untuk kepentingannya sendiri. Kita yang biasanya pakai masker karena takut gosong kena matahari, tiba-tiba pindah orientasi: pakai masker takut besok tiba-tiba mati.

Bulan ini seharusnya menjadi bulan yang dipenuhi kebahagiaan untuk orang-orang yang merayakan pernikahan. Nyatanya, mereka memaksakan kebahagiaan karena sebenarnya mereka juga dirundung kekhawatiran.

Mungkin masih banyak ketakutan lain di luar sana. Saat ini, mungkin orang-orang sedang berdoa biar virus ini tiba-tiba lenyap dari pikiran dan tubuh manusia, bagaimana pun caranya. Tapi entah, aku masih mengira-ngira ini hanya mimpi belaka.

Penulis: Risma Nur Habibah- Alumni Jurusan Sosiologi UM

Penyunting: Mita

*)Ayo berkontribusi! Selengkapnya cek linkĀ https://siarpersma.id/mari-berkontribusi/ atau hubungi 08971684646 melalui WhatsApp

Tinggalkan Balasan