Dalam rangka pengabdian masyarakat, Rani bersama mahasiswa lainnya mengunjungi sebuah desa yang terletak di kaki gunung serta dikeliling oleh perbukitan. Entah atas pertimbangan apa, panitia menempatkan Rani bersama teman-temannya di desa yang terpencil tersebut.

Pada malam kedua rombongan itu tinggal, warga desa mengajak mereka untuk menghadiri pertemuan warga desa di balai desa. Selain untuk membahas kegiatan yang akan dilakukan oleh Rani dan kelompoknya, juga untuk merekatkan hubungan antara warga desa dan mahasiswa pengabdian.

“Terimakasih atas penyampaian rencana kegiatan yang akan kalian lakukan untuk desa kami,” ujar tetua desa setelah perwakilan mahasiswa menjelaskan rencana kegiatan mereka.

“Namun, satu hal yang harus kalian ketahui. Bahwa kami sudah tidak mempercayai para Dewa.” Beberapa mahasiswa nampak terkejut dengan ungkapan tetua desa, karena berbeda dengan informasi yang mereka dapat bahwa warga desa disini masih mempercayai Dewa.

Rani, yang menjadi penanggung jawab salah satu kegiatan, melontarkan tanya, “Kalau boleh tahu, apa yang menyebabkan warga desa sudah tidak mempercayai para Dewa, Pak?”

Tetua desa itu mulai bercerita. Dahulu sesuai dengan tradisi, setiap lima tahun sekali warga desa memilih perwakilan Dewa dari beberapa Dewa yang ada untuk mereka sembah. Menggunakan sebagian uang pajak, mereka melakukan perawatan kuil tempat menempatkan Dewa-dewa yang telah dipilih. Kuil tersebut terletak lumayan jauh dari pemukiman desa. Agar patung dewa-dewa itu tidak dirusak oleh pendaki gunung yang nakal, kuil tersebut dijaga oleh beberapa anjing penjaga.

Beberapa bulan yang lalu, warga desa terjangkit wabah yang menyerang orang tua dan anak kecil. Warga desa tidak dapat bekerja seperti biasanya dan harus menjaga jarak antar warga satu dengan warga yang lainnya agar warga desa yang masih sehat tidak ikut terjangkit. Ditambah lagi, sebelum wabah ini muncul, seorang dukun meramalkan bahwa akan ada masa dimana desa akan dilanda musibah yang akan menyebabkan krisis ekonomi berkepanjangan.

“Warga berpikir satu-satunya cara adalah memohon kepada Dewa agar tidak didatangkan oleh musibah itu. Sehingga akhirnya pemuda desa dan warga desa yang masih sehat berencana untuk melakukan ritual ke kuil tempat para Dewa-dewa itu.”

Dengan membawa persembahan, warga desa berbondong-bondong naik ke atas gunung melakukan ritual. Rupanya anjing-anjing penjaga sudah berjaga di setiap jalanan menuju kuil. Selama perjalanan ke kuil, warga desa tidak merasakan apa-apa. Begitu sampai di kuil, ritual segera dilakukan. Tetua desa memanjatkan doa kepada Dewa. Persembahan mulai diletakkan dengan rapi ke tempat biasanya.

“Saat itu kami pikir Dewa membalas permohonan kami. Tapi setelah peristiwa itu kami berpikir kembali bahwa tidak ada gunanya memohon kepada Dewa.” kenang tetua desa.

Rani kembali bertanya, “Memangnya peristiwa apa yang terjadi?”

Saat itu, tetua desa belum sempat menyelesaikan memanjatkan doa, tiba-tiba anjing penjaga mulai menggonggong keras dan warga yang ada di sana mulai berlarian menyelamatkan diri. Warga desa berhasil menyelamatkan diri, namun ada warga yang terjerat oleh perangkap. Warga desa yang masih selamat berusaha menyelamatkan mereka yang terperangkap.

“Padahal kami telah memberikan persembahan kami, sesuai dengan kerja keras kami selama ini,” sambung warga desa, yang mendapat sahutan setuju dari warga yang lain.

“Kami sudah memberikan persembahan ‘lain’ yang kami rasa cukup untuk memuaskan para dewa.”

“Persembahan ‘lain’ … seperti apa?” Doni, yang duduk di sebelah Rani angkat bicara.

“Tetes darah dari setiap warga, dan tetes keringat kami selama kami bekerja untuk menghidupi keluarga kami.”

“Dewa memang memberikan balasan, namun bukan balasan seperti ini yang kami harapkan.

“Memang balasan apa yang kalian dapatkan?”

“Lemparan gas air mata.”

Tinggalkan Balasan