Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) resmi dinyatakan sebagai bencana nasional oleh Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden (Keppres) Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2020 yakni tentang Penetapan Bencanan Nonalam Penyebaran Covid-19 pada Senin 13 April 2020. Sejak saat itu berbagai provinsi di Indonesia memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Bahkan D.K.I. Jakarta telah menerapkan PSBB sebelum ketetapan itu berlangsung (10/4).

Hal tersebut membuat sebagian orang harus Work From Home (WFH)—tetap bekerja atau melakukan sebagian besar aktivitas di rumah

Aktivitas di rumah yang monoton, membuat siapapun merasa penat, bosan, bahkan stress. Berbagai alternatif dilakukan sebagian besar oramg untuk mengatasi jenuh yang berkepanjangan akibat WFH, seperti membaca buku, berkebun, bermain games, membuat kopi dalgona, dan aktivitas menyenangkan lainnya.

Jagat maya sempat dihebohkan oleh pemblokiran Netflix oleh IndiHome, namun pada 7 Juli 2020 pagi, sejumlah pengguna IndiHome mengaku bisa mengakses Netflix. Sebuah langkah yang tepat dari Telkom Group untuk membuka pemblokiran, mengingat sebagian besar Warga Indonesia yang sudah muak dengan berbagai hiburan gimik media televisi. Menonton film merupakan salah satu obat manjur untuk mengatasi jenuh kala WFH.

Meski berbeda media, film dan karya sastra memiliki keterkaitan satu sama lain dalam hal fungsi dari karya tersebut. Deleyto (1999:218) menyatakan bahwa terdapat perbedaan narasi film dan prosa, dalam novel terdapat narasi, sedangkan dalam film terdapat narasi, focalisasi, dan representasi.

Tim Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Siar melakukan riset “Tontonan Film Selama Pandemi” dengan membagikan link google form yang diikuti oleh 149 responden per tanggal 18 Juni hingga 12 Juli 2020. Berikut hasilnya,

Infografis: Widhi/Siar

Diketahui bahwa sebanyak 59,5 persen seseorang lebih menyukai film daripada buku dan 68,9% responden menyukai buku yang sudah difilmkan. Alasannya pun beragam, lantas kenapa film digandrungi oleh banyak orang?

Dzinnu Roini, seorang responden, menceritakan bahwa membaca buku untuk menyelesaikan suatu cerita membutuhkan waktu yang lama. Ia juga menambahkan bahwa melalui film atau bentuk visual ia merasa lebih mudah dalam memahami unsur-unsur yang terkandung dalam cerita daripada tulisan.

Sonia Rizka Maulidina, salah satu responden memaparkan bahwa ia lebih dapat menikmati, menghayati, ikut hanyut dalam konflik, dan terbawa penasaran dengan akhir cerita pada film.

Menurut salah satu responden, dengan film, visualisasi tampak lebih nyata daripada tulisan.

Ada temuan menarik dari riset yang telah dilakukan tentang film yakni sebanyak 85,1 persen sering mengulang film yang sudah ditontonnya atau bahkan menonton kembali film secara berkali-kali, berikut kata responden:

“Karena penyampaian dan alur ceritanya menarik sehingga tidak bosan menontonnya berulang kali,”

“Menonton berulang karena ingin menelusuri lebih dalam sudut pandang atau maksud dari film itu,”

Seringkali kita melewatkan pesan-pesan tertentu dalam film yang membuat kita ingin mengulang kembali untuk menemukan pesan yang hilang itu.

Era globalisasi membuat batas antar negara bias membuat mudahnya hal-hal dari luar negeri mudah masuk ke dalam negeri. Begitu juga dengan film, bahkan menurut riset Tim Litbang LPM Siar, 96,6% responden lebih berminat menonton film luar negeri daripada film dalam negeri yakni, 89,2% responden.

Perkembangan teknologi membuat manusia dapat menikmati hiburan berupa film dengan mudah, bahkan bisa saja menonton film tanpa harus keluar rumah dan pergi ke bioskop terdekat. Kemajuan teknologi menjadi alternatif untuk menikmati film hanya dengan mengandalkan smartphone. Salah satu contohnya yaitu dengan mengunakan jasa berlanganan Netflix, perusahan media terbesar di dunia, mengalahkan Disney. Sementara itu, menonton film secara illegal juga masih sering digunakan sampai saat ini. Berdasarkan data yang dikumpulkan setidaknya ada  54,1% resonden yang menonton film secara legal dan 45,9% menonton dengan cara illegal. Hasil tersebut berbanding tipis memang, berbagai cara untuk menangani polemik tersebut tidaklah mudah. Melansir dari Kompas.com pada 25 Desember 2019, Kementrian  Komunikasi dan Informatika mengatakan telah memblokir 1.000 lebih situs streaming film illegal. Ibaratkan pribahasa mati satu tumbuh seribu, situs yang menyediakan film illegal semakin banyak dijumpai. Terlepas dari hal itu, polemik film illegal dan legal tidak bisa terhindarkan.  

Film yang kebanyakan menampilkan adegan luar biasa, tidak sedikit membuat para penonton merasa kagum degan setiap adegannya atau bisa jadi kagum terhadap salah satu tokoh yang memainkan peran dalam film. Seperti El Profesor dalam serial Film Money Heist, yang menjadi pusat perhatian banyak orang. Terlepas dari itu semua, konteks dalam alur film mempunyai karakter yang berbeda, kesan menyenangkan dan kagum dengan film yang telah ditonton menjadi hal lurah dan diburu setiap orang. Karena dengan kesan yang sempurna dan alur yang mengesankan dan mudah ditebak terkadang malah membuat penikmat film merasa bosan, tahap ini berlaku bagi penonton yang sudah lama berkecimpung dalam dunia perfilman.

Gambaran seperti itulah membuat orang memilih tontonan film yang agak berbeda dengan tontonan sebelumnya. Persoalan rating film tidak menjadi persoalan, memilih film random yang sekiranya membuat bingung dan kesan yang tidak mudah ditebak menjadi tantangan tersendiri ketika menonton film. Berdasarkan hasil data yang dikumpulkan oleh Tim Litbang LPM SIAR, sebanyak 74,3 % responden mengaku pernah menonton film yang membuatnya bingung, 25,7% mengaku tidak pernah menemukan/menonton film yang membuatnya bingung. Tentunya dalam mengekspresikan cerita dalam bentuk visual tak luput akan teknik dalam pengambilan momen untuk menunjang pembawaan tokoh dalam cerita. Begitu juga dengan ujar salah satu responden yang mengatakan bahwa alasan menonton film berulang karena mempelajari segi teknik pembuatan filmnya.

Film juga dapat merubah pola pikir seseorang. Tidak hanya menikmati secara visual saja, secara tidak langsung seseorang melakukan analisis terhadap tindakan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam video. Hal ini membuat seseorang menginterpretasikan makna yang terdapat dalam suatu film juga berbeda antara satu sama lain.

Ketertarikan seseorang terhadap film tak luput dari genre film yang disukainya. Menurut (McQuail, 2011), kebutuhan individu yang tidak sama atau beragam membuat daya kepuasan setiap individu juga berbeda. Pemenuhan dan pemuasan kebutuhan penonton dalam media adalah untuk menjadikan hiburan, informasi, pendidikan, dan kebudayaan. Berdasarkan hal tersebut 81,1% berpendapat bahwa menonton film dapat mempengaruhi pemikiran. Genre dalam film adalah salah satu alasan yang paling kuat terhadap preferensi ketertarikan seseorang akan film. Kami mendapati bahwa tiga genre yang berada di posisi teratas artinya yang paling digemari oleh kebanyakan orang yakni action, romance, comedy.

Rata-rata seseorang membutuhkan waktu satu hingga lima jam dalam sehari untuk menonton film, sementara yang lainnya bahkan dapat menonton film selama seharian. Karantina memang membuat seseorang lebih menikmati waktunya sendiri. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton film adalah jalan ninja menghilangkan rasa bosan yang melanda.

Penulis: Agilia An`amta dan Widhi Hidayat

Penyunting: Mita Berliana

Tinggalkan Balasan