17 April. Pagi itu tempat Pemungutan Suara (TPS) 5 sudah terasa hiruk pikuknya kamagra andorra. Bukan, bukan karena gelora semangat masyarakat untuk turut dalam pemilihan suara. Bukan juga desas-desus tentang apakah mereka datang setelah pintu rumahnya diketuk lalu disodori dengan sekarung beras atau seamplop duit, yang mengherankan adalah kedatangan Kiswoyo, pria paruh baya berjubah hitam berwangikan menyan. Orang-orang menaruh hormat pada pria itu. Bahkan orang-orang yang sudah duluan mengantre mempersilahkan tempat duduknya untuk Kiswoyo. Tentu saja panitia tidak berani menegur.

“Ah, akhirnya.” kata pria itu usai mencoblos capres pilihannya.

Belum genap satu hari, disela-sela quick count yang terpampang nyata di tv muncul sekilas info yang menjeda adegan sinetron kesayangan para emak. Dikabarkan bahwa salah satu capres dilarikan ke rumah sakit karena sakit area kepala dan darah yang mengalir dari sana secara mendadak.

Di rumah, Kiswoyo yang menemani istrinya menonton sinetron, melihat sekilas info dari berita tersebut menepuk jidat. Istrinya menoleh kepadanya sambil menatap tajam. Kemudian berkata,

“Jangan bilang ini ulah Papa.”

“Iya, tadi aku nyoblos gambar kepalanya. Lupa belum non-aktifin jurusku habis nyantet si Bowo semalem.”

Ilustrator: Shafa

Tinggalkan Balasan