Keamanan Yang Tidak Nyaman

Rektorat Universitas Negeri Malang telah memberlakukan kebijakan parkir baru terhadap mahasiswa dan seluruh sivitas akademika Universitas Negeri Malang. Kebijakan ini mendapat tanggapan yang beragam dari pihak mahasiswa. Ada yang pro dan sebagian yang lain memandang bahwa masih butuh banyak perbaikan disana-sini.
Kampus memberikan prioritas utama terhadap keamanan kendaraan, terbukti dengan diberlakukannya sistem “gate” dimana keluar masuk kampus kendaraan harus menunjukkan STNK. Hal ini perlu diapresiasi sebagai upaya awal melindungi kendaraan mahasiswa terhadap “maling motor”.
Namun saya ingin memberikan catatan berkaitan dengan keamanan ini. Menurut saya “safe” untuk kendaraan mengacu pada dua hal yang tidak boleh dilupakan satu dengan yang lainnya.
Pertama, keamanan yang terkait dengan “Human Erorr. Sangat bagus upaya kampus untuk meminimalisasi masyarakat luar yang masuk UM dengan memberlakukan stiker. Namun ancaman terhadap kendaraan tidak hanya dari pihak luar namun juga dari kalangan pihak sivitas akademika yang mempunyai penyakit “human erorr” tadi. Dengan diberlakukan sistem parkir terpusat tenaga yang mengurusi parkiran menurut saya sangat kurang sehingga khawatir terhadap tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab.
Kedua, keamanan yang terkait dengan “Natural Erorr”. Selain kendaraan harus diamankan dari orang yang tidak bertanggung jawab ini yang sering dilupakan bahwa alam juga bisa membawa kerusakan. Lahan parkir yang kurang memadai di beberapa tempat parkir kendaraan tidak terlindung dari sinar matahari dan hujan. Disadari maupun tidak keadaan ini juga membawa damak negatif bagi kendaraan.
Selain keamanan yang menjadi banyak perhatian adalah kesemrawutan kantong-kantong parkir. Kemacetan terjadi dibeberapa ruas jalan didalam kampus akibat mahasiswa memarkir kendaraannya dipinggir jalan akibat kapasitas tempat parkir kurang memadahi. Sering juga mahasiswa mencari tempat teduh diluar parkiran untuk memarkir kendaraanya.
Tentunya ini harus mendapat perhatian serius dari pihak rektorat mengingat perubahan ini tidak akan ada artinya jika tidak dilakukan secara tuntas. Keamanan juga harus diikuti dengan rasa nyaman terhadap mahasiswa. Terutama disaat pembanguna seperti saat ini jika masalah-masalah kecil tidak diatur tentunya akan mengganggu ketertiban kampus.
*Oleh : Deni Yuga Permana

Tinggalkan komentar