Warganet Twitter heboh dengan ditemukannya sampah kondom bekas di area–yang diduga–UM. Temuan itu pertama kali diungkap oleh akun autobase @um_fess secara anonim pada Senin malam (17/10). Cuitan @um_fess itu segera disusul oleh beragam respon dari warganet UM. Beragam respon itu mulai dari mempertanyakan, memaki, hingga mengutuk si pembuang kondom bekas.¬†Bahkan, muncul beberapa komentar yang mengaku juga melihat kondom bekas tersebut.

Tetapi menurut saya, ada hal yang tak kalah penting daripada mengoreksi tindakan moral asusila orang lain. Di sini saya rasakan angin segar ketika tau wahhh ternyata ada mahasiswa yang sadar akan penggunaan alat kontrasepsi. Meski, ya, saya sendiri belum terlalu yakin apakah si pengguna itu benar-benar mahasiswa.

Dari unggahan tersebut tampak kondom bekas itu dibuang sembarangan di atas paving, lengkap dengan teman-teman sampahnya lain seperti potongan tali rafia dan bekas filter rokok harga 20rb-an. Satu benang merah yang terhubung adalah, pola pikir dan kesadaran mahasiswa terhadap kebersihan lingkungan termasuk pembuangan sampah. Yang jelas, bukan hanya persoalan asusila yang perlu ditelisik. Saya pun tak terlalu peduli menanggapi cuitan viral tersebut. 

Belum lama ini akun autobase itu juga sempat beberapa kali mengunggah keluhan mahasiswa tentang pembuangan sampah sembarangan. Beraneka ragam sampah mulai dari plastik bungkus makanan, styrofoam, botol minuman bermacam rasa, dan banyak lagi. Meski belum ada riset pasti tentang pembuangan sampah di UM, tetapi berdasarkan pengamatan sekilas saya, sampah banyak ditemukan menumpuk di kantin-kantin dan workspace atau bahkan di gazebo. 

Pertama yang perlu dipertanyakan adalah bagaimana kesadaran mahasiswa memandang kebersihan lingkungan sebagai kenyamanan bersama. Persoalan ini jika diperdebatkan pasti selalu berujung argumen kembali pada diri masing-masing. Malah nggak selesai-selesai kalo nunggu yang namanya si kesadaran masing-masing ini. Padahal, jika diusut lebih lanjut mahasiswa dengan berbagai macam isi kepala bukanlah faktor tunggal. Ada faktor lain yang sifatnya terstruktur, yakni regulasi dari kampus. Nah, dalam hal ini melalui regulasi tersebut bisa mengupayakan aturan tentang lingkungan kampus terutama pembuangan sampah. Tetapi regulasi hanyalah kumpulan tulisan yang membentuk wacana larangan belaka. Maka butuh upaya lebih seperti sosialisasi dan penindakan pelanggaran. 

UM sendiri pernah menerbitkan regulasi tentang pelarangan penggunaan plastik melalui Keputusan Rektor Universitas Negeri Malang Nomor 14.9.130/UN32/OT/2020 tentang Larangan Penggunaan Kemasan Makanan dan/atau Minuman Berbahan Plastik Sekali Pakai dan/atau Kantong Plastik di Lingkungan Universitas Negeri Malang. Regulasi tersebut secara spesifik mengatur tentang pelarangan penggunaan plastik, tetapi tidak mengatur pembuangan sampah sembarangan. 

Nah, sekarang masalah parkir sembarangan saja kampus cukup tegas mengerahkan razia penggembosan ban. Tapi kenapa tidak dengan buang sampah sembarangan? Ya, mungkin jawabannya ada pada ketiadaan regulasi yang mengatur hal tersebut. Padahal kalau bisa dikomparasikan antara buang sampah sembarangan dengan parkir kendaraan sembarangan sama-sama bermuara di kesadaran mahasiswa. Tetapi di kasus parkir kendaraan sembarangan pihak kampus bisa menanganinya dengan regulasi dan penindakan yang tegas. 

Selain kesadaran dan regulasi tadi, sekarang coba kita perhatikan ketersediaan sarana pembuangan sampah. Ini juga belum terdapat riset pasti mengenai berapa jumlah ketersediaan tempat sampah di kampus. Semoga dalam waktu dekat segera ada pihak yang merilis riset mengenai hal ini. Kuantitas tempat sampah di kampus saya rasa hampir bisa ditemui di setiap sudut. Di Gedung Kuliah Bersama (GKB) A19 dan A20, misalnya. Di gedung kuliah dengan delapan lantai itu, disediakan tempat-tempat sampah yang sudah ditentukan masing-masing titiknya di setiap lantai. Itu di dalam gedung yang sudah pasti terjamin kebersihannya. Gedung yang notabenenya baru berdiri sekitar dua tahunan, ya, pasti masih benar-benar diperhatikan perawatannya. 

Lain lagi jika itu di luar gedung, di trotoar misalnya. Ruang bagi pejalan kaki tersebut harusnya dilengkapi dengan tempat sampah. Meski saya bilang begitu, bukan berarti trotoar di UM tak dilengkapi dengan tempat sampah. Ada. Tetapi layak tidaknya tempat sampah itulah yang saya rasa cukup aneh. Mungkin jika teman-teman berjalan menuju gerbang Jalan Surabaya, tepat di gazebo seberang Gedung Psikologi Lama kalian akan melihat ada 3 tempat sampah yang dipilah. Nah, anehnya, tempat sampah tersebut tidak memiliki alas di bagian bawahnya. Jadi ketika kita membuang sampah di situ ya sampahnya akan tembus ke bawah karena tidak ada alasnya, alias tempat sampah itu sudah tidak layak dan perlu diganti. Itu hanya satu contoh dari sekian tempat sampah yang saya rasa kurang layak. 

Masalah kebersihan di lingkungan kampus ini bukan hal yang baru dibahas sebenarnya. Bisa kita lihat kalau kampus kita memiliki lembaga bernama Universitas Negeri Malang Green Campus (UMGC) dan juga Unit Kegiatan Mahasiswa Bersama Hijaukan UM dan Indonesia (UKM Bhumi). Dua lembaga itulah yang mestinya memiliki tupoksi untuk mendorong kesadaran mahasiswa terkait lingkungan. Entah melalui sosialisasi, kampanye, aksi langsung, dan sebagainya. 

Jadi, pada intinya kasus ditemukannya kondom bekas seperti itu bisa kita lihat bahwa ada masalah pokok dari pola pikir mahasiswa terutama terkait kebersihan lingkungan. Coba saja misal si pembuang kondom ini membuang sampah pada tempatnya. Ya … nggak bakalan viral, sih, mestinya. Selain itu, kebersihan lingkungan tidak bisa bergantung penuh pada kesadaran mahasiswa. Ada kekuatan sistematis yang bisa mendorong lahirnya regulasi. Dan dari situ pihak kampus harus bisa menindak tegas pelanggaran di lapangan.

7 KOMENTAR

  1. Dari tulisan ini, aku pikir kondom bekas menarik juga dijadikan kedok pembuka cerita anjuran serius membuang sampah. Dalam bayanganku, pada akhirnya tempat sampah perlu dibuat sungguh nyaman bahkan bayi yg dibuang ke situ akan dapat terlelap pulas (seharusnya ini masih nyambung dengan kondom). Bayangkan juga gaya penulisan absurd dan jenaka satirik. Oh, mungkin juga realismenya cantik itu luka. Selanjutnya, terserah si pemikir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here