“Apa arti bunuh diri jika kapan pun aku bisa mati?” –Terapi Minor

p

Bayangkan jika dalam hidup ini tak pernah ada yang namanya musik. Lalu yang terngiang di telinga kita hanya suara-suara riuh manusia yang tak indah. Alangkah buruk dan sunyinya hidup tanpa alunan gitar atau apa pun yang melahirkan nada. Kemudian musik lahir. Dan seperti yang kita semua ketahui, dalam hidup ini, musik dan manusia saling berkaitan. “Music makes the world goes around”. Semua orang mendengarkan musik.

Euforia hari Musik Nasional pada 9 Maret kemarin masih terasa di benak para musisi maupun penikmat musik tanah air. Momen ini membawa kami pada sebuah kesempatan wawancara ekslusif dengan Terapi Minor, musisi hip-hop underground oldschool asal Jakarta. Kedatangannya ke Kota Malang beberapa waktu lalu membawa gambaran baru hip-hop yang menyajikan lirik satir dan tajam yang bikin terngiang-ngiang di kepala pendengarnya.

Kami berkesempatan menemuinya di sebuah kamar indekos daerah Lowokwaru, Malang. Rio– nama asli Terapi Minor–menceritakan seluk-beluk Terapi Minor dan lirik-lirik lagunya. Sebelumnya, ia pernah membuat project serupa dengan nama Double O Rap pada 2012. Pada 2019 barulah terbentuk Terapi Minor yang bergerak di jalur independen.

Hasilnya, lahirlah single berjudul Hegemoni di tahun yang sama. Selang dua tahun berikutnya, lahir album bertajuk Proyeksi Bunuh Diri yang berisikan 7 lagu yakni Intro, Sel Kanker, Obscura, Kiaroskuro, Proyeksi Bunuh Diri, Realitas Panoptikon, dan Outro. Pada tahun yang sama pula Terapi Minor–bersama beberapa pihak–menyukseskan tur berjudul “Stoner and Colony” ke beberapa kota di Jawa Timur.

Lalu bagaimana Terapi Minor menanggapi hari Musik Nasional? Bagaimana proses kreatif di balik lagu Proyeksi Bunuh Diri? Simak hasil wawancara kami.

p

Sebelumnya, apa sih arti dari nama Terapi Minor?

Kalau nama Terapi Minor sendiri karena lagu dari Terapi Minor adalah musik yang menjadi terapi dengan nada minor dan membawa isu dari suara orang-orang kecil (terpinggirkan). 

Karya-karya seperti apa yang menginspirasi Terapi Minor?

Banyak, sih. Buat karya ku nggak cuman dari hip-hop aja. Dari musik-musiknya pun aku ambilnya dari musik-musik lain. Kan hip-hop itu musiknya ngga original banget. Disample juga dengan musik-musik lain seperti musik-musik lawas tahun 90-an, 1920, 1930 gitu.

Kalau dari musisinya, aku terinspirasi dari Pink Flyod. Lalu di hiphop itu House Of Pain, Wu-Tang Clan, Immortal Technique, NWA, Homicide, Bars of Dead dan banyak lagi lah. 90’s hip-hop itu kan progresif gitu kan arahnya politis. Dan sejarah hip-hop juga awalnya emang kultur resistan sebenarnya. Kalau buku sebenarnya nggak banyak-banyak banget. Beberapa novel, puisi, dan buku-buku teori yang pasti tidak jauh dari filsafat.

Kalau begitu, siapa filsuf yang paling berpengaruh terhadap karya Terapi Minor?

Kalau aku sebutin beberapa Albert Camus, Derrida, Max Stirner, terus Bakunin, Karl Marx pun iya.

Melawan melalui musik?

Kalau menurutku ya menyampaikan aspirasi yang memang pertama dari diriku sendiri. Sebagai masyarakat biasa yang aku merasa adanya penindasan oleh negara dan kapitalisme gitu lah kalau bahasa fafifu nya. Karena aku suka menulis tapi keahlian menulisku ngga seberapa untuk bikin sebuah buku jadi kutulis aspirasiku dalam bentuk lirik. Lirik hiphop itu kan puitis gitu. 

“Dakwah ideologi dalam musik”, apakah Terapi Minor melakukan itu?

Kalau aku mungkin nggak berdakwah soal ideologi ya. Karena aku sendiri secara pribadi sebenarnya nggak berideologi, nggak anarkisme, komunisme, sosialisme, atau apa. Cuman semisal aku dikatakan berdakwah ya aku cuman berdakwah soal kebebasan yang ku mau aja sih. Apa yang ada di pikiranku aja.

Kebanyakan (musik) hip-hop dianggap identik dengan hedonisme, seksisme, dan pergaulan bebas. Mengapa Terapi Minor membawa warna berbeda?

Karena aku punya kesadaranku sendiri untuk melakukan hal itu lah. Meski nggak semua rapper sih, bedanya mungkin aku rapper yang membaca buku aja.

Menurutmu, bagaimana kebebasan bermusik hari ini?

Sebenarnya relatif, sih. Sudah cukup bebas sih walau gabisa dikatakan bebas sepenuhnya. Karena kan definisi bebas gimana, sih? Tapi ya menurutku sudah karena aku sendiri tidak pernah ditangkap. Atau mungkin belum mencapai kebebasan yang cukup ideal, lah. Tapi memang ada perkembangan dari zaman ke zaman. Dari orba ke sekarang kan agak beda. Kita bisa aja mengkritik pemerintah, walaupun nggak sebebas yang dikira juga. Kalo kamu bilang, “Presiden anu-anu” ya tetep ditangkap.

Lagu ciptaanmu yang paling berkesan?

Sebenarnya semua berkesan. Tapi ada satu yang paling berkesan dan paling ngena. Ya sesuai sama judul album yang aku keluarin itu berjudul Proyeksi Bunuh Diri.

Dan apa yang mendorongmu menciptakan itu?

Lalu yang mendasari kenapa aku menciptakan itu sih ya menurutku ketika orang lagi di bawah lagi lemah malah di situ kekuatan terbaiknya bisa dikeluarkan. Misal gini contohnya nih kita galau terus bikin puisi. Kalau nggak galau ya kayak kurang gitu inspirasinya.

Isi lagu itu sendiri tentang paradoks bunuh diri. Kalau dalam filsafat sebenernya dikenal dengan absurditas. Judulnya Proyeksi Bunuh Diri, tapi intinya malah berlawanan sebaliknya. “Ngapain bunuh diri gitu?”. ‘Ngapain’ berarti sia-sia gitu maksudnya. Walaupun ya keadaan mental orang beda-beda, ya. Ada juga mungkin yang nggak kuat dan bunuh diri. Sebenernya ini bukan motivasi sih cuman pendapatku aja.

Aku sebenernya nggak sepenuhnya nyorotin banget (bunuh diri). Kebetulan keadaan aku lagi down dan akhirnya aku membuat karya. Aku mikir, “apa sih gunanya bunuh diri?”. Karena buktinya sampai hari ini banyak hal yang bisa aku temukan. 

Sebenernya lagu itu sendiri lagu sampling. Itu kan bukan asli dibuat sama beatmaker-nya. Lagu sampling aslinya itu lagu Praise Of Death tahun 1926 dari penyanyi Korea namanya Yun Sim Deok. Dia bikin lagu ini setelah itu dia bunuh diri. Dan setelah aku coba terjemahin memang liriknya itu depresif banget. Seakan menyatakan bahwa dirinya akan mati. Jadi aku menyebutnya semacam paradoks. Bunuh diri bukan sesuatu kepastian gitu tapi malah ketidakpastian. Kita udah coba bunuh diri, belum tentu itu langsung berhasil mati. Misalkan loncat dari lantai 30 terus ada mukjizat malah cacat, gimana?

Terakhir. Sebagai musisi, bagaimana Terapi Minor menanggapi hari Musik Nasional?

Nothing, sih. Mungkin hari musik nasional sekedar euforia menurutku. Hari musik ya sebenernya kapanpun orang bisa mendengarkan musik, menciptakan musik, atau menikmati musik dengan cara apapun. Mungkin ada peristiwa sejarahnya yang aku aja tahu baru-baru ini ada hari musik nasional. 

Ya, pesanku semoga musik di sini terus berjalan dan berkembang semakin progresif ke arah yang lebih baik.

p

Penulis: Delta Nishfu Aditama

Penyunting: Diana Yunita Sari

Tinggalkan Balasan ke Anonim Batal balasan

Please enter your comment!
Please enter your name here