“Sejak jaman nabi sampai kini, tak ada manusia yang bisa terbebas dari kekuasaan sesamanya, kecuali mereka yang tersisihkan karena gila.”*

Mendengar celetukan Rais yang tiba-tiba, Risa yang tengah asyik menyimak kanal YouTube Remotivi jadi menekan tombol pause dan mendongak dari layar ponselnya. “Ha?” Risa terheran-heran. Pasalnya, sedari tadi Rais hanya menyibukkan diri dengan Harian Kompas di hadapannya. “Ada berita apa? Staf Khusus Presiden yang milenial?” tanya Risa, kini ia letakkan ponselnya dan mulai berniat membuka obrolan lebih lajut dengan rekan sesama pers mahasiswa itu.

“Selama ada yang diperintah dan memerintah, dikuasai dan menguasai, orang berpolitik,”* tambah Rais dan melipat korannya lalu merogoh saku celana dan mengeluarkan dompet. Ia keluarkan Kartu Tanda Mahasiswa dengan warna keunguan memudar di atas meja. “Sebelum kita dikuasai orang yang salah, gunain hak pilih kita yok?” lelaki kurus dengan ikat kepala megamendung merah itu nyengir. Risa menghela nafas berat dan menggeleng. “Liputan!” ditariknya tangan Risa, mereka beranjak dari Kafe Pustaka.

Begitulah kisahnya hingga Rais dan Risa terjun sebagai awak media dalam Pemilu raya Universitas Negeri Malang 2019. Rais mengajak Risa karena teror dari Herman Willem Daendels alias Redaktur Pelaksana Online Siar. #SiaranPemira harus tetap ada dan berjalan sebagaimana mestinya!

“Eh, milih di TPS sono dapat ciki, hehehehe,” Risa pamer kegirangan, padahal hanya sebatang cokelat.

“Dapat dari paslon nomor berapa?”

“DARI PANITIANYA! CUMA BUAT YANG NYOBLOS AJA! YANG LAGI BERUNTUNG!” Mampus kena semprot.

Daendels berkali-kali mengirim pesan ke grup #SiaranPemira, kali ini ia meminta Rais dan Risa mewawancarai mereka yang tidak memilih dalam Pemira.

“Ngapain sih nih Daendels, yang gak nyoblos juga palingan nggak tau kalau ada Pemira. Secara biasa diumumin di IG, kita semua kan main TikTok!”

“Tinder!”

“Twitter! Mereka pasti lebih suka rebahan sambil Twitter-an.”

“Berani taruhan?”

Rais mengangguk. “Mari kita lihat!”

**

Alasan untuk (tidak) memilih…

Kenapa kamu tidak memilih dalam Pemira?

Karena lagi libur. – (Cindyaxx)

Gak lagi di kampus. – (Yunitaxxx)

“Tuh kan!” protes Rais sembari ketawa. “Tapi kan bukan rebahan atau males, is!” sanggah Risa.

Wis lulus. – (Asrofxxx)

Karena aku sudah alumni. – (anwuxxx)

“Lah, ya gimana ya kan emang gak masuk DPT, qaqa~” Rais geleng-geleng kepala, Risa hanya mengikik.

Calon tunggal yang membuat saya memilih untuk tidak memilih. – (tajjxxx)

Karena pilihan tidak bisa dipilih. – (aghixxx)

Calon e siji! – (piyexxx)

“Nah ini, mereka bukan diberikan opsi lagi tapi ya memang sudah cikal bakal yang pasti. Tidak ada pilihan, hanya ada hidangan!” komentar Rais.

“Tapi, bukannya justru hal ini terjadi karena kelesuan dan ketidakantusiasan mereka juga dalam dunia politik kampus? Gak politik deh, organisasi aja deh,” ucap Risa. “Atau mungkin sudah mendaftar namun tidak memenuhi syarat?”

Rais mengedikkan bahunya.

Kurangnya sosialisasi tempat pemilihan dan calon. – (sarixxx)

Lah, lupa kalau ada Pemira hehe. – (syunxxx)

“Sosialisasi dan publikasinya kurang efektif ya kayaknya?”

“Bisa jadi. Kan memang sekarang banyak di sosmed, sementara orang buka sosmed juga bakal mantengin yang sesuai interest mereka kan?”

Tidak mempercayai siapapun. – (awlcxxx)

“Mantap! Percaya sama Tuhan aja!”

Karena kita tahu kalau persaingan Pemira itu tidak sehat. – (majdxxx)

Sangat tau kotornya Pemira. – (irmaxxx)

“Dimanapun itu kalau sudah menyangkut dunia politik memang pakai trik,” sahut Risa.

Masih belum nemu arti “penting” yang bener-bener penting dalam Pemira. – (aruxx)

“Ya kalau bukan karena perintah Daendels juga kamu ga bakal terjun kan, Sa? Ini kamu ya yang nulis? Ngaku!” Risa Cuma geleng-geleng kepala mendengarnya.

Maleslah, aku berasumsi mereka gak bergerak sendiri, ada penggerak di belakangnya. – (gummxxx)

Calon didominasi oleh omek dimana orang-orang itu sarat akan kepentingan. – (alfaxxx)

“Wow! Pemira ditunggangi!” nyinyir Rais yang disambut tawa renyah Risa.

Saya merasa hak suara saya tidak dilindungi, panitia bisa mengetahui lewat NIM kan kalau saya milih. – (exarxxx)

Risa mengangguk dan menceritakan bahwa terkadang ia juga memikirkan hal serupa.

Karena tidak diperbolehkan. – (rizqxxx)

“HA? Apa maksudnya? Dia tidak mendapatkan hak pilihnya?” Rais naik pitam, bagaimana bisa tidak diperbolehkan. Rais sudah mulai merapal pasal-pasal yang mengatur Hak Asasi Manusia, mukanya merah menyala. Risa mencoba menenangkan Rais, tidak berhasil. Hingga akhirnya Daendels mendapat konfirmasi bahwa rizqxxx adalah siswa SMA yang memang suka main ke Siar dan follow instagram Siar sejak aksi #ReformasiDikorupsi pada September yang lalu.

Doakan aku bisa kuliah di sana, ya kak. Tulisnya.

*) Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca

Penulis: Daendelsiar

Penyunting: Elvira

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here