Kali ini, Kribo ditemani Dik Richa dan Dik Alvin dari Generasi K LPM Siar, berkesempatan mewawancarai sosok yang sering berkeliaran di sekitaran Universitas Negeri Malang (UM) dan sukses bikin kami penasaran, siapa sih sebenarnya dia?

“Heh Jomblo! Daripada mikirin mantanmu mending beli ini aja”

Suaranya langsung menggema ke seluruh ruangan ketika ia tiba di lokasi. Sembari membawa kotak besar berisi beberapa nasi dan kue, ia sempat menjajakan dagangannya ke beberapa orang. Mochammad Zuber Syamsudin namanya, kerap disapa Udin, namun kita lebih mengenalnya dengan julukan Mas Jomblo.

Mas Jomblo sekarang kuliah dimana?

Sekarang aku S2 di Universitas Hasanudin. Dulu aku S1 di UB jurusan Antropologi.

Sekarang tinggal di mana?

Aku di Malang sama keluarga. Di Makassar cuma pas kuliah.

Sejak kapan mulai jualan ini?

Dari tahun 2012 waktu jadi Maba di UB, kemudian di UMM 4 tahun sampai 2016, setelah itu  POLTEK, dan paling akhir ini UM. Tapi akhir-akhir ini aku lebih sering jualan ke UB.

Awal mulanya jualan itu gimana sih? Apa dari sebelum kuliah juga jualan?

Aku kan satu keluarga ada 8 orang, juga orang tuaku kurang mampu. Nah, waktu SD aku punya cita-cita jadi dokter. Tapi dalam bayanganku dokter itu banyak biayanya. Waktu aku SMP, ortuku bilang nggak sanggup untuk membiayai sekolahku, karena mahal. Mau nggak mau aku terjun jualan. Dari kelas 4 SD itu jualan, entah itu ke pasar, jualan bakmi, jualan baju.
Yang penting bagiku dapat uang untuk sekolah.

Jam 7 sekolah sampai jam 12, sore ngaji, habis itu jualan lagi di pasar. Jualan kayak gini untuk memenuhi kebutuhanku sehari-hari. Meskipun aku menerima beasiswa, tapi kan kurang buat mencukupi kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, aku perjuangkan dengan cara jualan-jualan ini.

Mas Jomblo anak ke berapa? Semua saudara apa juga kuliah?

Kelima. Keluargaku lulusan SMP semua, untuk adikku yang ke-6 udah lulus S1 Ekonomi Universitas Widyagama.

Gimana pengalaman pahit manis selama berjualan?

Pengalaman menyenangkan itu ada dek, dengan jualan ini aku bisa mengenal banyak orang dan belajar mengenal karakter seseorang. Kemudian bisa belajar untuk meningkatkan kualitas diri kita, jualan kita tuh harus gimana sih. Jadi, kita harus mikir inovasi jualan, itu pakai metode yang bagaimana. Menurutku itu hal yang menyenangkan.

Kalau dukanya?

Hal yang menyedihkan itu ketika aku jualan di hari wisuda. Kalau wisuda kan aku selalu di tenda. Saat itu, aku mendengarkan anak-anak disebutkan namanya dan diumumkan peringkat terbaik. Jadi, pada sesi-sesi wisuda itu aku selalu nangis (terharu). Bagiku, itu adalah sebuah proses dimana nanti apakah aku bisa di titik yang sama? Mengingat perjuanganku lebih sulit dan tidak sama seperti teman-temanku yang selama kuliah selalu tercover oleh orang tuanya, sementara aku cari sendiri.

Ketika mendengar itu, hatiku menangis sekaligus ada rasa syukur, yang kedua ada rasa was-was, apakah aku bisa mempersembahkan seperti mereka yang di sana, karena banyak sekali hambatan-hambatan yang aku lalui untuk bisa mencapai ke sana dan tidak semudah teman-teman untuk mencapai ke sananya. Ini bukan masalah pendidikan, tapi masalah ekonomi. Aku jualan sampai malem-malem itu agar bisa wisuda, bisa mengurus finansial tanpa harus merepotkan orang tua.

Bisa dibilang kan cara jualan Mas Jomblo ini ‘unik’. Sejak kapan dan gimana ceritanya bisa punya ide seperti itu?

Sejak Maba. Aku lebih suka pendekatan dengan guyonan, karena dengan memberikan guyonan ini membuat mahasiswa tidak stres. Biasanya mahasiswa kan stres mikir masalah kuliah gitu.

Kenapa identik sama kata ‘jomblo’ dan ‘mantan’?

Mantan itu bukan istilah orang atau pacar di masa lalu. Mantan yang kumaksud adalah, mungkin kita pernah mencintai tapi tidak pernah dicintai, atau mungkin kita punya angan yang tak pernah terwujud. Anggap saja mantan itu sesuatu yang pernah di pikiran kita lalu keluar (pergi), entah itu nyata atau tidak nyata, itulah namanya mantan. Jadi mantan bukan hanya masalah cinta masa lalu.

Kalau Jomblo?

Aku biasa pakai sapaan ‘Jomblo, itu karena setiap mahasiswa tujuan utamanya kan belajar. Ketika mahasiswa mendengar jomblo, pasti mikirnya berhubungan sama masalah percintaan. Tapi aku manggil jomblo karena buat hal lelucon, hal itu  membuat mahasiswa nyantol. Oleh customer-ku pun aku dipanggil ‘Mas jomblo’ karena aku sedang berjuang sendiri.

Terus biasanya aku ngatain, “Eh kamu tak putusin lo”, “Hey kamu tak doain diputusin pacarmu lo”. Maksud dari perkataanku itu adalah semoga kamu diputusin untuk segera dihalalkan dan beralih ke arah yang lebih serius. Filosofi ini biasanya ada yang salah tangkap, biasanya anak-anak menganggap putus itu ya selesai, bukan berpikir seperti apa yang kumaksud.

Baca juga: Maba Ojo Bingung – Hal Ini Sering Terjadi Pada Kita Semua

Gimana sih caranya biar pede waktu jualan?

Awal-awal pasti ya malu. Tapi mau gimana lagi karena untuk memenuhi kebutuhan mau tidak mau ya harus pede untuk berjualan. Semua akan mudah karena sudah terbiasa.

Tiap hari kan jualan, gimana cara mas menjaga kesehatan?

Kuncinya semangat dan  motivasi. Kita kan punya mimpi, jadikan itu sebagai semangat. Tapi ya kita juga harus tahu porsi kekuatan tubuh kita. Kalau merasa nggak enak badan, ya harus dikurangin (jualannya), karena uang tidak selalu menjadi prioritas.

Oh ya, dengar-dengar mas mendirikan yayasan pendidikan?

Iya, Yayasan Jantung Inspiratif. Yayasan pendidikan yang berfokus untuk membantu pemerataan akses pendidikan di daerah-daerah.

Pesannya buat mahasiswa kayak kami gini dong mas…

Kalian harus punya kreativitas yang harus dibangun. Pendidikan itu yang utama, tapi kita harus punya skill yang punya nilai jual. Nggak harus jualan kayak aku untuk sukses.  Tiap orang punya cara sendiri. Setidaknya kamu harus punya skill, harus dikembangkan supaya kamu punya kemandirian. Jangan menggantungkan satu peluang saja seperti kamu kerja di suatu perusahaan, tapi kamu harus mengembangkan skill ketika kamu menjadi mahasiswa, entah itu membuka olshop, menjadi reseller. Setidaknya ketika belum punya pekerjaan, paling tidak punya modal untuk mencari uang.

Demikian kiranya wawancara eksklusif yang Kribo, Dik Richa, dan Dik Alvin lakukan bersama Mas Jomblo, tokoh tidak terduga yang menginspirasi dengan segala kegigihannya dalam memperjuangkan masa depan dengan cara yang unik.

Baca juga: Nanti Kita Cerita Pemilu Hari Ini (Catatan Si Kribo)

Sebagai informasi, ini adalah sesi akhir sebelum Kribo vakum dari LPM Siar. Kribo bermaksud berkelana, mencari lebih banyak lagi kisah di luar sana, dari tokoh-tokoh inspiratif yang mungkin tidak pernah kita duga. Jangan khawatir, Kribo akan kembali dengan cerita-cerita lainnya.

Sebelum itu, sedikit pesan dari Kribo. Tanpa disadari, banyak tokoh menginspirasi yang sebenarnya ada di sekitar kita. Bagaimana cara kita menjadi lebih terbuka terhadap lingkungan dan menerima perilaku-perilaku ‘unik’ orang di sekitar sebagai sumber inspirasi, itulah kepentingan yang selayaknya kita lakukan. Salam hangat dari Kribo~

(crn/vin)

Tulisan ini adalah tulisan untuk rubrik spesial bagi mahasiswa baru yang Siar gagas, bertajuk #MOB, Maba Ojo Bingung. Siar juga menerima kontribusi tulisan mahasiswa UM yang berisi informasi segar, dapat juga berupa pengalaman seputar PKKMB ataupun kampus UM. Tulisan dapat dikirim ke [email protected] atau 083111646499.

2 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan