Cukup BBM Aja yang Naik, Mie Ayam Jangan!

Kalo harga plastik naik, saya masih bisa diam. Dollar naik, mungkin belum terlalu paham. Tapi, ketika seporsi makanan

Ahmad Naufal/Magang Siar

Kalo harga plastik naik, saya masih bisa diam. Dollar naik, mungkin belum terlalu paham. Tapi, ketika seporsi makanan favorit ikut naik, saya akan lawan!  

Mungkin kalimat diatas terdengar seperti lelucon. Akan tetapi, daripada bermain kata dengan istilah-istilah ekonomi yang sulit belakangan ini, saya rasa hampir semua orang paham rasanya ketika uang yang sama tidak lagi mampu membeli hal yang sama.

Semangkuk mie ayam bisa terlihat lebih rumit daripada sekadar pilihan makanan di trotoar. Ketika gerobak-gerobak tidak hanya menawarkan kekenyangan, tapi juga banyak menyimpan cerita tentang daya beli, distribusi, dan biaya hidup. 

Ketika harga mie ayam naik, yang berubah bukan hanya angka pada daftar menu, tetapi juga kebiasaan kecil masyarakat.

Bagaimana jika makanan itu tak lagi menjadi penghiburan sederhana di tengah kesibukan, dikarenakan harga bahan bakar mengalami kenaikan? 

Efek domino Hingga ke Semangkuk Mie Ayam

Tepatnya dari 10 Juni 2026, PT Pertamina Patra Niaga mulai melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi pada Pertamax dan Pertamax Green. 

Kenaikan ini disebut-sebut sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan energi dan penyaluran BBM berkualitas bagi masyarakat.

Memang, bensin hanya diisi ke tangki kendaraan, kita semua tau itu. Tetapi efeknya bisa sampai ke piring makan.

Naiknya harga BBM ini ikut mengerek biaya distribusi dan berbagai kebutuhan. Ketika ongkos distribusi meningkat, harga bahan baku ikut terdorong, dan biaya operasional bertambah, semangkuk mie ayam pun perlahan kehilangan predikatnya sebagai makanan murah meriah. 

Inilah yang disebut dengan efek domino, satu kenaikan harga mendorong kenaikan harga lainnya. Seiring berjalannya waktu, masyarakat tak lagi hanya membayar mahal untuk bensin, tetapi juga untuk keperluan sehari-harinya.

Mungkin kenaikannya hanya seribu atau dua ribu rupiah, tetapi dari situlah banyak orang mulai merasakan bahwa kenaikan harga BBM bukan sekadar angka di papan SPBU. Kadang, dampaknya baru benar-benar terasa ketika dompet dibuka dan penjual mie ayam berkata, “Maaf, sekarang harganya naik.” 

Lonjakan harga yang terjadi tidak semata-mata dipicu oleh kenaikan harga BBM. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat juga turut memberikan dampak, terutama bagi komoditas yang bergantung pada barang impor. 

Ini sesuai dengan apa yang disampaikan dari Menteri UMKM bahwa kondisi tersebut berdampak pada pelaku usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor. Ketika nilai rupiah melemah, maka biaya yang dikeluarkan untuk barang-barang tersebut lebih tinggi.

Oleh karena itu, kenaikan harga yang terjadi tidak semata-mata dipicu oleh satu faktor, melainkan oleh berbagai tekanan ekonomi yang saling berhubungan.

Jangan Ganggu Mie Ayam Kami!

Dalam semangkuk mie ayam bahan-bahan mulai dihemat, sementara konsumen harus membayar lebih mahal. Tak dapat dipungkiri dampak inflasi kini sudah sampai ke lidah masyarakat. 

Saat makanan kesayangan diusik, ingin rasanya membela sampai titik darah penghabisan. Memang tampak berlebihan, sampai ingin mengajukan petisi ke penjualnya kalau semangkuk mie ayam adalah kesenangan kecil yang tak seharusnya dikorbankan karena naiknya biaya kehidupan.

Bagi sebagian orang, semangkuk mie ayam sudah cukup menjadi hadiah setelah menjalani hari yang panjang. Seseorang dapat pesan tanpa perlu melirik daftar harga terlalu lama. Namun kini, kebebasan itu perlahan sirna, tergantikan oleh pertimbangan dan penuh perhitungan. 

Sedikit yang sadar efek perubahan harga ini. Mie ayam tambah bakso ataupun ceker di dekat sini saja masih belum berubah harganya, masih sekitar Rp15 ribu. Tapi ada yang beda, rasanya kurang dan porsinya makin menyusut. 

Ketika harga-harga kian melambung naik akibat efek domino, pedagang menghadapi pilihan yang tidak mudah untuk menaikkan harga atau mengurangi porsi.

Banyak yang memilih opsi kedua karena khawatir pelanggan akan berpaling jika harga tiba-tiba naik terlalu tinggi. Potongan ayam diperkecil, sayuran dikurangi, atau penggunaan bahan-bahan dihemat agar harga di daftar menu tetap terlihat terjangkau. 

Sekilas, langkah ini terlihat melindungi dompet konsumen. Namun pada kenyataannya, konsumen tetap membayar harga yang hampir sama untuk porsi yang lebih sedikit atau kualitas yang perlahan berubah. 

Hal ini menunjukkan bahwa inflasi tidak selalu hadir dalam bentuk lonjakan harga yang mencolok. Kadang inflasi bekerja secara diam-diam ketika semangkuk mie ayam yang dulu mengenyangkan kini terasa lebih sedikit daripada sebelumnya. 

Pada titik inilah, masyarakat menyadari bahwa krisis tidak lagi berhenti pada angka-angka ekonomi, melainkan telah sampai ke meja makan. 

Barangkali karena krisis paling mudah dikenali bukan dari grafik ekonomi atau nilai tukar rupiah, melainkan dari perubahan sederhana dalam keseharian. Semangkuk mie ayam yang dahulu terasa biasa kini menjelma seperti permata yang sulit untuk dibeli. 

Loh, kenapa justru mie ayam yang menanggung rumitnya persoalan ekonomi? 

Pasalnya, krisis tidak selalu datang dengan bunyi alarm. Kadang ia hadir diam-diam, menyelinap ke daftar belanja, mengurangi lauk di meja makan, dan membuat orang berpikir dua kali sebelum membeli makanan favoritnya. 

Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan ekonomi bukan lagi sekadar pembahasan formal para ahli. Ia telah hadir dalam keputusan-keputusan kecil sehari-hari. Ketika kebutuhan dan keinginan harus terus ditimbang di tengah harga yang merangkak naik, dan masyarakat dipaksa untuk beradaptasi. 

Lalu, siapa yang turun? Mungkin yang turun bukan harga. Yang turun adalah kemampuan masyarakat untuk menjangkau harga-harga itu. Yang turun adalah kesabaran publik yang terus diminta untuk memahami keadaan? 

Atau, malah saldo rekening yang pertama kali turun?

Editor: Moch Fahmi A

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA


šŸ”Ž Apa yang ingin kamu cari?
Search
šŸ”„Terbaru