Di Sana Kita Makan Besar, Gerogoti hingga Lepas Tulangnya

(risalah tak resmi dari sebuah ruang jamuan yang pintunya selalu tertutup rapat) Saya pernah menonton video seekor rusa

Moch. Fahmi/Siar

(risalah tak resmi dari sebuah ruang jamuan yang pintunya selalu tertutup rapat)

Saya pernah menonton video seekor rusa berjalan mendekat ke arah singa, bukan karena terpojok, tapi seolah sudah lupa cara membaca bahaya. Singa itu sampai diam beberapa detik, heran mengapa mangsanya sendiri yang datang menyerahkan diri? Saya kira itu anomali di alam liar, sampai saya sadar sedang menyaksikan versi lain dari itu, setiap hari, di sekitar sendiri.

Ada Meja Panjang di suatu tempat yang tak pernah benar-benar terlihat, tapi keberadaannya terasa lewat bekasnya. Harga naik tanpa alasan jelas, proyek selesai setengah jadi lalu dilupakan, jabatan berpindah dari satu nama ke nama yang mirip, seolah ada garis keturunan tak tertulis. Di meja itu, seseorang sedang makan. Bukan makan biasa, dia hanya menyisakan tulang bagi yang menunggu di luar meja. Namun, anehnya mereka yang hanya kebagian tulang itu masih sempat berterima kasih karena diberi remah.

Yang menarik dari proses ini bukan kecepatannya, tapi kesabarannya. Tak ada yang mengambil semua sekaligus, sebab itu memancing perlawanan. Yang terjadi lebih halus, sedikit demi sedikit sampai suatu hari kita bertanya-tanya ke mana perginya sesuatu yang dulu terasa milik bersama?

Bagian yang paling sulit dijelaskan adalah Kenapa yang sedang kehilangan justru sering menjadi pembela paling setia bagi yang mengambilnya. Sebagian karena takut, ketakutan samar bahwa bersuara berarti dianggap tak tahu diuntung. Ada juga yang paling popular, pembela yang langsung menyebutnya barisan sakit hati, seolah kritik hanya bisa lahir dari dendam pribadi, bukan dari sesuatu yang benar-benar hilang. Sebagian karena harapan kecil yang dirawat, bantuan yang datang tepat sebelum musim tertentu, janji yang selalu diperbaharui sebelum sempat ditagih, kemudian  dan ada satu alasan yang jarang diakui diam-diam berharap suatu hari ikut ke bagian tempat duduk di meja itu bukan karena percaya, tapi karena ingin pindah posisi dari yang disantap jadi yang turut menyantap.

Tapi ada batas untuk kesabaran yang dipaksakan lewat rasa takut dan harapan palsu. Ketika yang digerogoti bukan lagi daging berlebih tapi sudah menyentuh sumsum. Rasa sakit itu sulit dibantah dengan pidato secantik apapun.

Saya tidak mengajak siapapun marah memberi buta. Yang dimaksud lebih sederhana Berhenti sejenak, menoleh ke bagian tubuh sendiri yang masih tersisa, dan bertanya jujur, apa yang sebenarnya masih utuh dari yang dulu dipunyai bersama. Sebab meja itu tak akan berhenti terisi dengan sendirinya. Ia baru berubah ketika yang selama ini duduk di lantai rumah sambil tersenyum, akhirnya sadar bahwa dari awal, merekalah yang membangun meja itu, dan karena itu, merekalah yang paling berhak duduk di sana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA


šŸ”Ž Apa yang ingin kamu cari?
Search
šŸ”„Terbaru