Generasi ke generasi telah berulang kali berganti menempati rumah ini.
Mereka lahir,
Mereka tumbuh,
Mereka hidup.
Yang kuncup bertaruh peluh menimba hikmah,
Dan yang rimpuh bertaruh peluh mengais nafkah.
Setiap tahun mereka selalu menggema, bahwa hidup ini telah merdeka.
Namun entah apa makna merdeka bagi mereka.
Karena selama apa, keringatnya tak pernah menjelma harta.
Bahwa hidupnya seperti sengaja tuk dibuat tak sejahtera.
Pantaskah kau sebut hidup ini telah merdeka, jika harga pendidikan tak sebanding dengan upah keluarga.
Pantaskah kau sebut hidup ini telah merdeka, jika dapatkan nafkah yang tak seberapa saja masih susah.
Dan pantaskah kau sebut hidup ini telah merdeka, jika hasil jerih payah kita justru tumbuh di perut mereka.
Mereka yang berlagak melebihi kuasa Sang Pencipta,
Dengan lancang mengenyahkan siapa yang menuntut merdekanya,
Seolah rumah ini milik pribadinya.
Sedang Tuhan saja, tak pernah menghalau hambanya,
Barang ia seorang pendosa.
Rumahku,
Semoga kau tak harus menunggu hingga usia yang keseribu,
Tuk temukan tuan yang dapat menyejahterakan seisimu.
Penulis: Hertina Novia S (Anggota Magang)
Ilustrasi: Riska Yulistiya/Siar
Baca Juga
Menggambar Hujan
31 Juli 2026
Barangkali Kita Hidup dalam Ampas Kopi
26 Juli 2026
Ya, Coba Biarkan Tanpa Tangan-Tangan Itu
5 Juni 2026
Tanggal Kau Tinggal Aku
28 April 2026

Target Pasarnya Bukan āKitaā
31 Juli 2026

Menggambar Hujan
31 Juli 2026

Barangkali Kita Hidup dalam Ampas Kopi
26 Juli 2026

Ya, Coba Biarkan Tanpa Tangan-Tangan Itu
5 Juni 2026


Tanggal Kau Tinggal Aku
28 April 2026