Target Pasarnya Bukan ‘Kita’

“Permisi! Ini toko baru, ya?” Ujarnya sedikit berteriak. Rupanya tak ada orang di dalam sana. Karena terlampau penasaran

Nurul/Siar

“Permisi! Ini toko baru, ya?” Ujarnya sedikit berteriak.

Rupanya tak ada orang di dalam sana. Karena terlampau penasaran dengan isi daripada bangunan baru bercat merah putih itu, Poki mulai mengelilingi deretan rak yang tak lengkap terisi. Barang-barang di sana tampak familiar baginya, namun ia tak menemukan barang yang sedang dibutuhkan.

“Kenapa toko ini tidak menjual pakaian? Pakaianku sudah lusuh sekali, saatnya ganti.”

Poki berjalan mendekati karung beras yang terletak di pojok dekat pintu gudang, menyobek lima karung dan mengeluarkan semua isinya. Ia mulai menjahit karung itu menggunakan jarum dan benang yang selalu ia bawa. Gerakan tangannya luwes karena sudah biasa membuatkan baju untuk para tetangganya, dulu saat masih hidup. Setelah selesai, ia langsung berganti pakaian di dalam gudang dan segera beranjak meninggalkan toko. 

Pukul delapan pagi, para pegawai toko itu mulai berdatangan. Tak banyak, hanya empat. Masing-masing sibuk dengan pekerjaan—dengan rak toko yang masih banyak kosongnya — yang entah apa.

“AAHHHH!” Salah seorang pegawai berteriak dari dalam gudang.

Kain putih polos yang sudah lusuh terjuntai di gantungan pojok gudang, dekat keran air dan tumpukan karung yang entah apa isinya. Kehebohan itu mendatangkan warga asli yang datang jauh-jauh hingga ke ujung desa ini.

Di bawah pohon kamboja yang tak jauh dari sana, Poki bersama temannya memicingkan mata penuh tanda tanya. Pakaiannya semalam terlihat seperti sedang ‘dievakuasi’.

“Mengapa heboh sekali? Kan aku hanya menitip, tapi kok dibawa keluar?” Ujarnya kebingungan.

“Kenapa kamu letakkan di sana?”

“Ya karena di sana juga ada baju-baju lusuh lain. Aku kira bisa menitip sekalian dicucikan.”

Mulutnya terus mencibir. “Salah sendiri, kenapa toko itu tidak menjual barang sesuai kebutuhan ‘warga’ terdekatnya? Padahal jaraknya hanya lima belas langkah dari rumah ‘kita’.” 

“Sepertinya, target pasar mereka bukan ‘kita’.”

“Kalau begitu mengapa mereka membangun toko di sini? Jelas-jelas yang tinggal di dekat sini hanya ‘kita-kita’ saja,” final Poki tak terima. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA


🔎 Apa yang ingin kamu cari?
Search
🔥Terbaru