Menggambar Hujan

Aku ingin menggambar hujan. Hujan yang tidak tau siapa ibunya, ‎dan langit tak selalu mentantrumkan kepulangannya. Aku ingin

Moch. Fahmi/Siar

Aku ingin menggambar hujan.

Hujan yang tidak tau siapa ibunya,

‎dan langit tak selalu mentantrumkan kepulangannya.

Aku ingin menggambar hujan.

Di arus media utama,

hujan didandani estetika:

filter biru, caption sendu,

Lengkap dengan tembang dari payung teduh yang tak pernah menyelamatkan basah.

Aku tidak tau,

siapa yang berminat menggambar wajah tunawisma kehujanan,

pedagang es teh jumbo yang pulang dengan laba mini

Atau seekor kucing yang lupa membawa mantel

Aku tak tau

Yang kutau sekarang

Aku ingin menggambar hujan.

——————————————

Kertas ini makin basah.

Setiap garis kebanjiran.

‎dinding-dinding rumah saling menahan nafas

Air mencuci dosa kota,

Tak sempat untuk berdialektika

Fenomena-fenomena itu tak beraturan-begitulah gambar hujanku,

ratap

tanpa

nirmana

Tapi dibawahnya

Kuselipkan gambar anak kecil

berlari tanpa payung,

Tertawanya bebas hahahehe

belum tahu cara dikorupsi.

“Jangan tutup jendela!

Jangan tutup jendela!

Ayo kita mencari one piece!!!

…………………………………………

Gambar hujan hampir rampung

Kertas ini makin sobek.

Pensilku patah dua kali.

Tapi tak apa

setiap patah adalah arah,

setiap basah adalah sejarah

Aku telah menggambar hujan.

Hujan yang berisik,

menolak dirayakan

Tak mau disyairkan

Aku menggambar hujan,

yang bergerak dari bawah

mendebat segala stigma dan norma

Sebuah Hujan,

yang membakar habis hujan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA


🔎 Apa yang ingin kamu cari?
Search
🔥Terbaru