Aku mengutuk air
Air mata. Juga takdir.
Amat kuingat betul; nuansa hangat rumah di sela air mata hujan,
Sebab telur ceplok buatan Bunda dengan campur tangan cinta
Aku menghirup, aku mengharap, aku menghuruf—
“Tinggal lebih lama.”
Konon, hujan menyimpan iri
Bersekutu dengan setan penebang hutan
Hingga bersumpahlah hujan menjadi atheis
Karena tuhannya [hutan] dibunuh sadis.
Terjadilah malam-malam insomnia
Saat banjir terus menggerus.
Tak mengizinkan jeda air mata.
Supaya bisa kutandas sisa telur entah ke mana.
Ketika pagi dinyalakan.
Para hidup berebut seonggok matahari—
karena terlihat seperti telur ceplok Bunda.
Aku mengutuk air. Air mata.
Di luar—semua lebih tepat disebut luar.
Kulihat malaikat terbirit, dikejar doa-doa yang terburu-buru
Meminta satu persatu harapan terjerat
Saat tak ada lagi kenyang dan lelap.
Menjelang para hidup sekarat.
Sempatlah mereka mengintip warta
Deretan angka buruk mengisinya
Tidak menunggu lama, beberapa sekarat menyumbangkan namanya.
Bunda, aku mengutuk air.
Karenanya tak kutemukan jasadmu yang mulia.
Tak berbentuk darah tak juga belulang
Apalagi nisan untuk kuziarahi.
Seiring berjalan lama.
Laraku belum sembuh, tanahku belum tumbuh.
Bersama nestapa, mimpi buruk nyata.
Izinkan aku tanggal dari takdir ini.
Bunda, ternyata Dia memilih doaku.
Membiar kau tinggal lebih lama di tanah ini
Meski tanpa napas—jasad.
Takdirmu meninggalkanku.
Dan aku. Jauh meninggalkanmu.
Dengan itu.
Aku mengutuk air.
Air mata. Juga takdir.
Penulis: Siti Dewi (Magang Siar)





