Didengar-dengar ia jawaban atas segala kerepotan.
Katanya, sejak kehadirannya waktu selesai lebih cepat.
Katanya, sejak suaranya terdengar di jalanan, beban lama akan berkurang.
Katanya, ia diciptakan agar semuanya menjadi lebih mudah.
Brzz… brzzz…
Suara itu kembali melintas di hadapanku.
Penya datang seperti biasa. Dari ujung jalan, berlagak macam sadar akan banyak mata yang menyapanya.
Namun, seperti biasa pula, ada yang membuntuti di belakangnya.
Namanya Pu.
Aku mengamati mereka dari kejauhan. Penya bergerak lebih cepat, lebih besar, dan lebih menarik perhatian. Orang-orang menoleh kepadanya seolah ia sedang mempertunjukkan kehebatannya.
Sementara itu, Pu tetap berjalan dengan langkah yang sama seperti kemarin, minggu lalu, bahkan tahun lalu.
“Penya,” panggilku.
“Ada apa?”
“Katanya kau bisa menyelesaikan banyak hal.”
“Begitulah yang sering dikatakan orang.”
“Lalu mengapa Pu masih mengikutimu?”
Penya tidak segera menjawab.
Pu tetap berjalan di belakangnya.
“Barangkali dia ingin menemaniku,” jawab Penya akhirnya.
Aku tertawa kecil.
“Menemanimu setiap hari?”
Penya terdiam.
Kami kembali berjalan. Di setiap sudut yang terlewati, Pu berhenti sesekali. Ia membereskan hal-hal yang tidak disentuh Penya. Setelah itu ia bergegas menyusul.
Aku kembali bertanya.
“Kalau begitu, apa yang terjadi jika suatu hari Pu tidak datang?”
Kali ini Penya terdiam lebih lama.
Suara mesinnya masih terdengar, tetapi tak ada jawaban.
Aku menoleh ke arah Pu yang sedang bekerja beberapa langkah di belakang.
Tiba-tiba aku merasa lucu.
Begitu banyak orang memuji Penya karena mampu bergerak sendiri.
Namun, setiap kali aku melihatnya, selalu ada Pu yang memastikan pekerjaannya benar-benar selesai.
Mungkin bukan karena Pu mengikuti Penya.
Justru karena Penya tidak pernah bisa benar-benar pergi tanpa Pu.
Brzz… brzzz…
Suara itu menjauh.
Dan Pu tetap berjalan di belakangnya.
Dengan menurut
Dengan bertahan
Dengan bawaanya yang masih terikat.
Aku tetap lebih akrab dengan sepasang tangan yang menggenggam tongkat sapu dan serok usang itu. Bahkan ketika roda-roda itu berputar menyusuri jalanan, langkahnya yang teliti masih harus mengiringi mesin canggih itu, memunguti yang tertinggal, dan menjaga semuanya tampak selesai dengan semestinya.





