Kita seringkali mendengar bahkan selalu digaung-gaungkan tiap kali merayakan hari atau apapun yang berbau buku dan literasi bahwa “Indonesia memiliki minat baca yang rendah”. Tentu ini bukan pelabelan yang mengada-ngada. Beberapa survei dan penelitian membuktikan, misalnya survei yang dilakukan oleh Central Connecticut State University di New Britain kemudian dimuat dalam berita Media Indonesia per tanggal 30 Agustus 2016 yang menyatakan Indonesia diperingkat 60 dari 61 negara terkait minat baca. Hal tersebut didukung oleh data Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan UNESCO yang kemudian dimuat oleh Sragen Pos per tanggal 7 September 2015 bahwa indeks membaca orang Indonesia adalah 0,001 yang berarti dari 1.000 orang yang ada di Indonesia hanya ada satu orang yang memiliki minat membaca buku.

Topik permasalahan minat baca ini cukup menjemukan. Beberapa artikel yang membahas topik terkait terkesan menyalahkan orang-orang Indonesia yang rendah minat dalam membaca. Padahal sebab utama permasalahan minat baca yang rendah ada dua, yakni sebab personal atau berasal dari dalam diri manusia dan sebab institusional atau disebabkan oleh tidak adanya fasilitas membaca. Jadi, bisa saja terdapat anggota masyarakat yang sebenarnya haus membaca namun tidak memiliki akses atau fasilitas untuk melegakan dahaganya.

Mungkin di daerah masyarakat tersebut terdapat perpustakaan daerah namun buku yang ada dirasa kurang menunjang atau kurang lengkap bagi masyarakat yang sudah sangat kehausan tersebut.

Dari sebab institusional ini lahir perpustakaan jalanan. Perpustakaan jalanan secara sederhana dapat diartikan sebagai tempat yang menyediakan buku yang berlokasi di pinggir jalan. Kegiatan dilakukan dengan membuka lapak beralaskan terpal kemudian menjajakan buku. Perpustakaan jalanan diinisiasi oleh sekelompok manusia atau komunitas.

Kehadiran perpustakaan jalanan bisa dibilang mengakomodasi keinginan masyarakat yakni menyediakan bahan bacaan dengan lebih “merakyat”.

Perpustakaan jalanan adalah salah satu solusi dari sulitnya masyarakat dalam mendapatkan bahan bacaan. Mereka hadir di tengah masyarakat dan mengelolah secara sukarela tanpa mendapatkan keuntungan. Bagi mereka, ukurannya adalah kebermanfaatan bagi sesama.

Perpustakaan berkonsep lapak baca gratis sebenarnya sudah banyak ditemukan pada kota-kota di Indonesia. Bahkan pada satu kota terdapat beberapa perpustakaan jalanan.

Kecanggihan zaman membuat komunitas perpustakaan jalanan enggan tertinggal. Banyak perpustakaan jalanan mengabadikan momen lewat akun instagram. Di sana mereka juga mengabarkan di mana dan kapan mereka akan melapak. Tak jarang beberapa di antaranya mengadakan suatu event atau berkolaborasi dengan pegiat seni.

Awak Siar berkesempatan #tanyatanya seputar perpustakaan jalanan bersama tiga dari banyak komunitas perpustakaan jalanan di Indonesia, di antaranya Vespa Literasi dari Probolinggo, Perpus Jalanan Tuban, dan Adventure Book dari Jakarta. Pertanyaan yang dilontarkan merupakan pertanyaan yang dipilih dari Awak Siar dan beberapa orang yang kepo dengan perpustakaan jalanan.

1. Ada alasan atau motivasi mengapa harus perpustakaan jalanan?

Vespa Literasi: Karena nganggur, bingung mau ngapain. Jadi ya diisi dengan ngelapak, kebetulan juga ada beberapa buku punya kawan-kawan yang rela disumbangkan untuk dipajang. Juga karena sayang aja ngeliat buku-buku berdebu di kamar, di lemari. Ndak ada motivasi muluk-muluk pengen mencerdaskan bangsa atau meningkatkan minat baca, tapi sekadar upaya stimulus dan berusaha mendekatkan bacaan ke masyarakat.

Perpus Jalanan Tuban: Sebenernya awal dari Perpusjal Tuban itu dimulai dari keresahan pemuda Dusun Setro Desa Ketambul Palang yang terlalu monoton—yang kerja cuma kerja saja, yang masih sekolah cuma sekolah saja, jadi kita merasa hidup kok gini-gini aja. Dan kebanyakan kawan-kawan yang mempunyai banyak buku bacaan. Dari situ kita mempunyai ide untuk mengumpulkan buku-buku yang kita punyai dan membuka open donasi buku… minggu berikutnya kita mulai melapak di Gor Tuban.

Adventure Book: Alasan kita memiliih perpustakaan jalanan karena banyak dari mereka, anak dari pedagang, anak dari pemulung atau bahkan anak jalanan yang sebenarnya tuh memiliki minat yang tinggi dalam belajar. Alhamdulillah advenbook memilih untuk tidak tutup mata, menutup telinga, bahkan menutup mulut untuk semua itu. Sebisa mungkin kita bakal merangkul dan menjadikan keluarga dalam ranah pendidikan. Motivasi kami memilih perpustakaan jalanan, karena masih banyak anak kota yang buta akan pendidikan, dimana-mana memang banyak yang berorasi bahwasannya kita harus mengusir kebodohan. Namun nyatanya hanya segelincir orang yang sadar dan peka terhadap lingkungan dan sosial itu sendiri. Malah Duta Membaca, Najwa Shihab, pernah berkata bahwasannya Indonesia ini terendah nomor 2 untuk populasi manusia membaca.. Target membaca kita segala usia kok, karena buku yang kita sediakan itu memang untuk bervariasi usia, namun yang lebih kita perhatikan anak-anak, karena bagaimanapun anak-anak tetap perlu arahan dan bimbingan.

2. Bagaimana awal terbentuknya? Karena penggeraknya pasti tidak hanya satu orang kemudian memiliki satu visi dan bagaimana managenya?

Vespa Literasi: Semua dimulai dari iseng-iseng di warkop (warung kopi). Ketika beberapa kawan punya beberapa koleksi bukunya menganggur. Dan ada satu celetukan untuk memajang buku, awalnya di kampus.

Iya, Beda kepala beda isi, tapi sejauh ini kita aman-aman saja. Selagi masih sesuai dengan prinsip awal, yakni mendekatkan bacaan dan merangsang masyarakat dengan independen.

Perpus Jalanan Tuban: Awal terbentuknya ya tadi yang kita paparkan, kalau memanage biar satu visi kita mengalir saja sih, perdana kita melapak hanya sekitar 5 orang aja sih yang sevisi, tapi alhamdulillah sekarang banyak sekali yang merapat. Dan perpusjal ini tidak ada strukturalnya, siapa saja boleh gabung.

Adventure Book: Awal mula terbentunya Adven.book ini dipelopori dua orang. Memang semua tercipta karena keresahan juga sih. Akhirnya secara sadar kita berpikir kenapa kita nggak ngelakuin hal yang sedang dibutuhkan untuk saat ini. Terciptalah ide untuk mendirikan perpustakaan jalanan ini dengan dimodali buku-buku koleksi pribadi ya alhamdulillah kita bertekad untuk membuka adven.book ini walaupun harus adu konflik dulu sama petugas pada saat ngelapak. Tapi karena yang kita lakuin ini benar dan nggak merugikan akhirnya diizinkanlah oleh petugas taman ini untuk melapak sampai saat ini. Sebenarnya kita semua cuma butuh penggerak aja kok buat nyatuin pemikiran kita semua dan memang pada dasarnya kawan-kawan pun memang selalu setuju dengan hal dan tujuan baik yang sering kita programkan atau kita jalankan.

3. Apakah perpustakaan jalanan pernah mengadakan kerjasama dengan perpustakaan kota?

Vespa Literasi: Kami sejauh ini ndak mau untuk kerjsama dengan instansi pemerintah. Kami cuma kerjasama dengan kolektif-kolektif lainnya. Misal, kolektif penggerak seni. Saling support ketika ada kegiatan.

Perpus Jalanan Tuban: Kalau kerjasama dengan perpusda (perpustakaan daerah) nggak ada sih.

Adventure Book: Mungkin dalam berkolaborasi dan membentuk tali silahturahmi kita melibatkan banyak kawan lapak baca ya agar terciptanya persaudaraan dan persatuan. Kita berkolaborasi dengan perpustakaan desa dan kota kok.

4. (Khusus Vespa Literasi) Kenapa sih namanya Vespa Literasi? Kan awam mengira komunitas vespa yang gemar baca? Hehe

Karena motor yang buat ngangkut adanya cuma Vespa. Sering emang disalahpahami dikira komunitas Vespa.

5. Kira-kira sudah berapa buku yang ada?

Vespa Literasi: Sekitar 200an.

Perpus Jalanan Tuban: Mungkin sekitar 300an buku.

Adventure Book: Wah kalau untuk buku banyak, bahkan sampe banyak yang kita sumbangkan juga ke kawan perpus lain.

6. Buku-buku yang dikelola itu disimpan dimana? Ada basecamp atau bagaimana?

Vespa Literasi: Kebetulan kami di Probolinggo timur. Tepatnya di Paiton-Kraksaan. Buku-bukunya disimpan di salah satu rumah punggawa kami. Sementara belum ada basecamp, hanya memanfaatkan rumah salah satu punggawa kami.

Perpus Jalanan Tuban: Kalau basecampnya di Dusun Setro Desa Ketambul Palang.

Adventure Book: Sebenarnya di mana ada tempat persinggahan kawan adven.book, di situlah basecamp adven.book hehehe.

7. Biasanya perpusjal buka lapak di event apa saja? Atau ada hari khusus buat buka lapak?

Vespa Literasi: Untuk saat ini, kami masih belum berani melapak, karena kasus suspect virus corona di Probolinggo masih terus bertambah. Tapi biasanya kita buka lapak sabtu dan minggu.

Perpus Jalanan Tuban: Alhamdulillah kita istiqomah melapak seminggu sekali setiap malam minggu. Kalau tempatnya sih nggak pasti, biasanya di kota di Gor Tuban. Karena Gor masih ditutup, untuk sementara kita melapak di kampung kita sendiri.

Adventure Book: Kita buka lapak setiap sabtu dan minggu jam 3 sore sampai diusir satpol pp atau pertugas hehe.

8. Hambatan apa yang selama ini dihadapi? Ada represi dari aparat atau warga seperti yang sudah-sudah nggak?

Vespa Literasi: Juli tahun 2019 lalu dua kawan kami sempat dibawa ke kantor polisi karena ketika itu ada buku Aidit yang dipajang.

Perpus Jalanan Tuban: Untuk sampai saat ini nggak ada hambatan sih, kalau represi dari aparat atau warga juga nggak ada.

Adventure Book: Jadi begini, Adven.book aktif membuka lapak bacaan itu taman dan petugas kebanyakan dari titisan dari Brimob dan AD. Jadi pada saat itu kita berpikir bahwasannya ini taman umum jadi siapapun boleh beraktivitas dengan semestinya dengan digaris bawahi tidak merugikan orang lain. Kita juga berpikir bahwasannya kita tidak berjualan ataupun melakukan hal-hal aneh jadi kita tekadkan untuk melapak. Namun tak lama kita melapak petugas pun langsung nyamperin kita dengan pertanyaan sudah izin kah? Apa ada surat izin untuk melakukan lapakan ini? Dan akhirnya kita jelaskan semuanya pada petugas bahwasannya kita tidak menominalkan segalanya, yang kita berikan segalanya gratis. Akhirnya dengan kekuatan ilmu mantik alhamdulillah petugas menyereti dan mengijinkan kita untuk melapak tanpa surat.

9. Selain membuka lapak buku, kegiatan apa saja yang diadakan?

Vespa Literasi: Selain lapakan buku, kami beberapa kali ikut terlibat dengan kolektif-kolektif lain untuk mengadakan pentas solidaritas dan diskusi.

Perpus Jalanan Tuban: Kita pernah jual merchandise dan keuntungan dari penjualan kita belikan 2 box (tempat buku), sisanya kita buat syukuran satu tahun Perpus Jalanan Tuban tanggal 9 Juli lalu. Selain melapak, biasanya kita diskusi ringan, baca puisi, dan musik. Perpus Jalanan Tuban ini adalah sebuah ruang, jadi silahkan isi apa saja asal bermanfaat untuk semuanya, kalau featuring dengan siapa gitu nggak ada sih, cuma kadang kita diundang disebuah event untuk melapak.

Adventure Book: Selain melapak buku kita ngadain mewarnai, berpuisi, bernyayi, berdiskusi, ngadain kelas bahasa isyarat, games dengan anak kecilnya, dan teatrikal.

10. Ini privasi tapi orang-orang penasaran, memperoleh dana darimana?

Vespa Literasi: Untuk dana sebenarnya ya dari kantong pribadi kawan-kawan Vespa Literasi.

Perpus Jalanan Tuban: Ahahah dana untuk apa? Untuk beli buku? Kan bukunya donasi dari kawan-kawan semua, kita belum pernah beli buku hehe.

Adventure Book: Alhamdulillah banyak orang baik di sekeliling adven.book, selain itu kita memiliki usaha mandiri juga. Usaha mandiri kita yakni penjualan gelang yang kita buat sendiri, notebook daur ulang dengan quotes dan gambar unyu pada covernya, dan yang terakhir insyaallah akan terbit usaha mandiri kopi botolan. Untuk saat ini kita sedang fokus notebook daur ulang dan kopi botolan. Ya alhamdulillah semua kegiatan sosial ataupun kegiatan pribadi adven.book ketutup dengan usaha mandirinya dan tangan-tangan orang baik.

11. Bagaimana cara biar kita bisa donasi buku?

Vespa Literasi: Untuk saat ini, kami berharap kawan-kawan di luar kota mending mendonasi bukunya di perpustakaan jalanan terdekat atau kepada yang lebih membutuhkan. Bukan menolak, tapi alangkah baiknya diberikan kepada yang membutuhkan karena saat ini koleksi Vespa Literasi sudah agak menumpuk.

Perpus Jalanan Tuban: Kalau mau donasi bisa DM ke IG kita. Apabila masih satu kota, nanti kita yang ngambil, bila di luar kota info selanjutnya bisa dibincangkan lewat DM juga.

Adventure Book: Kalau masih dalam kawasan yang terjangkau dari tempat singgah kawan adven insyaallah akan diterima langsung di tempat yang diinfokan. Kalau untuk di luar biasanya banyak yang dipaket—memakai jasa pengiriman.

Bagaimana perpustakaan jalanan di daerahmu? Sudah pernah baca atau bahkan ikut melapak bersama mereka?

Penulis: Mita Berliana

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan