Judul Buku: Akheiron
Penulis: Rifky Syarani Fachry
Penerbit: Penerbit Trubadur
Tahun Terbit: 2022
Tak ada yang lebih nista selain puisi yang meludahi dunia tanpa gentar, puisi yang menggerayangi tubuhnya sendiri hingga hanya tersisa luka yang bernanah. Akheiron adalah tubuh yang dikuliti perlahan, dijemur di bawah matahari hingga dehidrasi, lalu dipaksa mengakui keberadaan Tuhan di bawah moncong revolver. Namun, yang ia muntahkan bukanlah pertobatan, melainkan bara.
Rifki Syarani Fachry dalam Akheiron menyusun puisi bukan sebagai perayaan estetika, melainkan sebagai mutilasi. Ia mengamputasi bahasa, membakarnya, lalu menyebarkan abunya ke angin yang murung.
Puisi sebagai Reruntuhan
Dalam sejarah sastra, kita selalu melihat penyair yang ingin menjadikan puisinya sebagai sesuatu yang suci, sesuatu yang kekal. Tetapi dalam Akheiron, kita justru melihat sebaliknya: puisi yang tidak menginginkan tempat di tatanan yang ideal.
Dalam buku ini, kata-kata bukanlah juru selamat—sebaliknya, mereka adalah virus yang menggerogoti nalar hingga hanya tersisa limbah mental yang menggenang. Puisi-puisi dalam Akheiron menolak keindahan yang banal. Mereka menari di atas reruntuhan kesadaran, merayakan absurditas sebagai bentuk tertinggi dari kebebasan.
Jika sastra arus utama masih berkutat dalam ketertiban gramatikal dan makna berbunga-bunga yang koheren, maka Akheiron mengkhianati konsep itu secara brutal. Puisi-puisi di dalamnya adalah sebuah sabotase terhadap konsep “bahasa sebagai komunikasi.” Seperti Novatore yang menganggap hukum sebagai ilusi kolektif, Rifki menempatkan bahasa dalam ruang yang sama: bahasa tidak lagi menjadi alat komunikasi, tetapi senjata penghancuran.
Ada puisi dalam Akheiron, yang cukup ikonik, berjudul Inori. Puisi ini berbicara dalam nada doa yang sudah menjadi mayat
“…tuhan,
sisakan
satu
neraka
untuk puisi-puisiku…”
Hanya tujuh kata dalam lima baris. Sebuah pernyataan yang lebih tajam dari esai panjang tentang spiritualitas. Rifki tidak memohon agar puisinya diselamatkan atau dibawa ke surga. Ia meminta agar puisinya dilempar ke neraka. Ini adalah bentuk paling ekstrem dari kesadaran seorang penyair tentang kebangkrutan bahasa. Jika puisi adalah jalan menuju kebenaran, maka Inori mengatakan bahwa kebenaran itu sudah tidak ada.
Dalam Dari Dalam Jurang, ia menulis:
“…tuhan, membusuklah bersama puisi
puisiku yang bangkai, yang belatung…”
Rifki merancang sebuah sistem sastra yang membakar dirinya dalam ketiadaan. Ia tidak ingin mencipta; ia ingin meruntuhkan. Puisi adalah bangkai, dan ia menolak untuk direstorasi.
Dalam tafsir Battailean, ini adalah transgresi yang paling murni. Jika manusia bisa memberontak kepada Tuhan dengan mengingkarinya, maka puisi ini memberontak dengan merayakan hukuman-Nya. Jika dalam tradisi Agama-agama Samawi neraka adalah hukuman, maka dalam Akheiron, neraka adalah tujuan. Neraka adalah perayaan.
Puisi Sebagai Akta Kematian: Atau Ketika Segalanya Adalah Pemakaman Yang Terlambat
“…Neraka ditemukan tewas tanpa kepala
di depan gerbang nyawa…”
Akheiron adalah hasil eksperimen yang gagal—bukan karena kesalahannya, tetapi karena ia memang didesain untuk gagal. Ini adalah kebangkrutan total dari kepercayaan terhadap makna.
Maka puisi-puisi ini adalah semacam akta kematian bagi bahasa, makna, harapan, dan setiap upaya untuk menulis sesuatu yang berarti.
Akheiron adalah adalah teks yang tidak membawa apa pun ke permukaan. Sebaliknya, ia mengubur semuanya lebih dalam, memastikan bahwa tidak ada yang bisa diselamatkan.
Dalam Menikahlah dengan Mayatku, Rifki menulis:
“…seseorang yang hidup dengan jantungku
menikahlah dengan mayatku
suntuki lebih lama hampa-hampa…
Mayat adalah metafora bagi eksistensi yang tidak bisa dihindari. Mayat adalah kita semua yang terus berusaha mencari arti dalam sesuatu yang sudah lama kehilangan fungsinya. Kemudian berkomitmen untuk hidup dalam keterasingan yang permanen. Yangi tidak lagi memiliki harapan, dan menerima bahwa kehidupan hanyalah pengulangan dari keheningan dan kematian yang sama. Bahwa kematian bukan sebagai sesuatu yang datang di akhir perjalanan. Namun kematian sebagai sesuatu yang terus-menerus hadir dalam setiap detik kehidupan, dan eksistensi itu sendiri adalah pemakaman yang akan/sedang/terus berjalan.
Sebuah Tanzih Radikal dalam Postulat
Akheiron bukanlah sekadar kematian, kekecewaan, kehampaan, atau ketiadaan. Akheiron adalah sesuatu yang lebih canggung, lebih membingungkan, lebih paradoksal—sebuah teks yang tampak nihilistik, tetapi menyembunyikan sesuatu yang justru berlawanan dengan nihilisme itu sendiri.
ada satu titik dalam buku ini yang menghantam ekspektasi nihilisme pembaca. Yaitu dalam puisi Postulat.
“…tuhan tak mengalami apa-apa
tuhan tak pernah belajar…”
Ini adalah momen di mana nihilisme di Akheiron bertemu dengan sesuatu yang justru sangat metafisik, bahkan sangat teistik.
Rifki menulis:
“Tuhan tak mengalami apa-apa”
Ini adalah bentuk pemurnian tanzīh (penafian segala keserupaan antara Tuhan dan makhluk) secara radikal. Menegaskan bahwa Tuhan, sebagai wujūd mutlaq (keberadaan mutlak), berada di luar waktu dan perubahan. Jika Tuhan mengalami sesuatu, berarti ada keadaan sebelum dan sesudahnya, yang justru menunjukkan ketidaksempurnaan. Karena itu, pernyataan Rifki bukan tentang meniadakan Tuhan, melainkan menegaskan bahwa pengalaman adalah batasan bagi makhluk, bukan bagi Tuhan.
Dalam baris kedua:
“Tuhan tak pernah belajar.”
Lagi-lagi, ini adalah negasi yang bukan ateistik, tetapi justru mengafirmasi bentuk Tuhan yang murni dalam konsep ta‘ṭīl. Belajar (ta‘allum) adalah konsekuensi dari ketidaktahuan (jahl), dan sesuatu yang Maha Mengetahui (al-‘Alīm) tidak mungkin mengalami keadaan ketidaktahuan untuk kemudian mendapatkan pengetahuan.
Jika Tuhan belajar, maka Tuhan tidak mengetahui sesuatu sebelumnya, dan ini bertentangan dengan konsep Tuhan yang sempurna.
Di sini, Postulat menyentuh inti dari ta‘ṭīl, yaitu bahwa Tuhan, jika benar-benar absolut, tidak boleh dinisbatkan dengan sifat-sifat manusiawi seperti pengalaman atau pembelajaran.
Dalam teologi apofatik (via negativa), Tuhan tidak dapat dijelaskan dengan istilah manusiawi, karena segala deskripsi hanya akan membatasi-Nya. Seperti yang dikatakan Pseudo-Dionysius, Tuhan bukan besar atau kecil, bukan baik atau jahat—Ia berada di luar semua kategori pemahaman manusia. Postulat menolak upaya menempatkan Tuhan dalam batasan bahasa dan logika manusia, bukan sebagai bentuk nihilisme, tetapi justru sebagai pengakuan atas kemutlakan-Nya.
Dan di titik inilah Akheiron menjadi lebih menarik daripada sekadar selebrasi kehampaan.
Dunia Tanpa Diriku: Bunuh Diri Sebagai Strategi Metafisik
Bayangkan sebuah tubuh tanpa nama. Bayangkan sebuah subjek tanpa kesadaran diri. Bayangkan sebuah keberadaan yang mencoba menghindar dari keberadaannya sendiri. Inilah apa yang ingin dilakukan Akheiron. Sebuah usaha membebaskan diri dari diri, tapi bukan dalam bentuk spiritualitas atau mistisisme, bukan pelepasan menuju nirwana atau ketiadaan Zen. Ini adalah mutilasi terhadap konsep Aku itu sendiri—suatu revolusi negatif, di mana keberadaan hanya memiliki satu tujuan: menghapus jejaknya sendiri.
Akheiron mencoba mengajukan langkah yang lebih ekstrem: bahwa yang tidak bermakna itu harus dihabisi, bahkan dalam batasan bahasa, bahkan dalam batasan keberadaan.
Puisi ini tidak merayakan kehampaan, tetapi merancang arsitektur bagi kepunahannya.
Jika kita melihat Aku/1, kita menemukan sebuah adegan di mana subjek mencoba mengubur dirinya dengan nama orang lain. Ini bukan sekadar metafora alienasi, ini adalah penolakan mutlak terhadap kepribadian sebagai sebuah konsep.
“…dalam peti mati yang disebut diri sendiri
kukubur batu di jantungku
dengan nama orang lain…”
Nama, adalah penanda bagi identitas. Namun, dalam Akheiron, nama menjadi sesuatu yang tidak lagi memiliki kepastian. Subjek mencoba membunuh dirinya sendiri bukan hanya dalam bentuk fisik, tetapi dalam bentuk bahasa. Ini adalah upaya untuk keluar dari penjara semiotika, dari batasan bahasa yang telah menamai segala sesuatu, dari kutukan bahwa setiap eksistensi harus diidentifikasi.
Dalam Aku/2, kita melihat bagaimana upaya ini semakin memuncak:
“…aku ingin hidup di dunia tanpa diriku
dan itu berarti tak di mana pun…”
Dalam pemikiran Stirner, Aku adalah satu-satunya properti absolut yang dimiliki oleh individu. Namun, dalam Akheiron, Aku adalah kutukan, dan yang ingin dilakukan bukanlah mengklaimnya, tetapi melepaskannya sampai tidak tersisa apa-apa.
Dalam Aku/3, kita melihat bagaimana usaha penghapusan diri ini menjadi semakin problematis:
“…aku kian terpencil dalam diriku
terasing bersama mayat-mayat makna
terpasung dalam kekosongan…”
Ini adalah pernyataan yang lebih jauh dari nihilisme, lebih jauh dari absurdisme. Ini adalah afirmasi dari tidak-mungkinan melenyapkan diri sepenuhnya. Setiap upaya untuk menghilangkan jejak justru menciptakan bekas yang baru. Setiap usaha untuk menjadi kosong justru menciptakan jejak kehadiran.
Di sinilah letak paradoks terbesar dari Akheiron: ia ingin menghapus Aku, tetapi dalam setiap upaya penghancuran itu, ia justru semakin mengukuhkan kehadirannya.
“Aku hanya akan ada di dunia tanpa dunia dan dirinya sendiri.” (Aku/2)
Ini adalah semacam bentuk anarki ontologis: bukan hanya menolak sistem sosial, tetapi menolak sistem keberadaan itu sendiri. Jika anarkisme tradisional menolak negara dan hierarki, maka Akheiron menolak konsep subjektivitas sebagai suatu kategori tetap.
Tapi apa yang tersisa jika tidak ada Aku?
Tidak ada. Dan itulah yang diinginkan.
Akheiron adalah upaya untuk melenyapkan subjek. Ia bukan sekadar kritik terhadap sistem, bukan sekadar perlawanan terhadap norma, tetapi adalah perang melawan eksistensi itu sendiri. Ini bukan postmodernisme, ini bukan sekadar permainan bahasa. Ini adalah upaya untuk menarik diri ke dalam ketiadaan, ke dalam kehancuran yang mutlak.
Barangkali yang ingin dituju Rifky adalah revolusi terakhir (atau devolusi? Entahlah): bukan revolusi sosial, bukan revolusi politik, tetapi revolusi ontologis yang menuntut lenyapnya segala bentuk keberadaan.
Dan saat kita mencapai titik itu, hanya satu hal yang bisa dikatakan:
“Aku ingin hidup di dunia tanpa diriku.”
Tapi jika aku tidak ada, siapa yang bisa mengatakannya?
Se-bual Kesimpulan
“Puisi-puisi dalam Akheiron bukan untuk dibaca, melainkan untuk ditelan dan dimuntahkan kembali sebagai kegelisahan.”
Membaca Akheiron seperti menyaksikan seorang (atau segerombolan?) Penyair Mabuk yang meracau pada hari Senin Pahing di jam 3 pagi: sebuah monolog, tanpa titik, tanpa kesimpulan. Tetapi alih-alih ekstase yang sensual, Akheiron menawarkan ekstase yang mengerikan—perayaan atas kehancuran yang tidak pernah selesai.
Bagi yang datang mencari ketiadaan mutlak, mereka akan menemukan sisa-sisa ketuhanan yang tidak bisa dielakkan. Bagi yang datang mencari konfirmasi tentang keterasingan diri, mereka akan menemukan bahwa ke-Aku-an justru adalah sesuatu yang lebih rumit daripada sekadar menghilang. Dan seterusnya, dan seterusnya. Ketidaksinkronan ini membuat Akheiron menjadi teks yang lebih berbahaya daripada sekadar sebuah buku puisi murung yang ingin terlihat edgy.
Kita bisa saja bertanya, apakah ada “harapan” dalam puisi-puisi ini? Tidak ada. Dan justru di sanalah kekuatannya. Akheiron tidak ingin menawarkan solusi, tidak ingin menjadi obat bagi keresahan, tetapi ingin menjadi keresahan itu sendiri.
Dalam dunia sastra yang sering kali terjebak dalam sentimentalitas dan kepatuhan, Akheiron adalah sebuah ledakan yang tidak bisa diabaikan. Akheiron adalah ladang pembantaian. Akheiron adalah bom Molotov yang dilemparkan ke jantung bahasa, ke dada sastra, ke kepala para pembaca yang masih percaya bahwa kata-kata bisa menyelamatkan mereka.
Karena, pada akhirnya, tidak ada yang bisa diselamatkan.
Dan itulah mengapa Akheiron ada.
Penulis: Muhammad Haidar Sabid/Kontributor
Editor: Tian Martiani





