19 Juli 2024 7:53 PM
Search

Perempuan Tangguh, Penuh Prestasi

Marisa Rahmawatik Karimah atau yang akrab disapa Marisa adalah seorang mahasiswa baru (maba) angkatan 2018 di Universitas Negeri

Dokumentasi/LPM Siar

Marisa Rahmawatik Karimah atau yang akrab disapa Marisa adalah seorang mahasiswa baru (maba) angkatan 2018 di Universitas Negeri Malang. Marissa merupakan salah satu mahasiswi yang berhasil masuk ke UM melalui seleksi Mandiri Prestasi.

Gadis kelahiran Surabaya, 19 tahun lalu itu merupakan salah seorang atlet dari cabang Olahraga Gulat. Dilansir dari laman wikipedia.com, gulat merupakan salah satu cabang olahraga yang melibatkan kontak fisik antara dua orang, di mana salah seorang pegulat harus menjatuhkan atau dapat mengontrol musuh mereka. Teknik fisik yang ditunjukkan dalam gulat adalah joint lock, clinch fighting, grappling hold, dan leverage.  “Gulat itu lebih kepada teknik bantingan, jadi nggak boleh mukul, di luar bantingan itu bukan gulat, jadi langsung body protecting,” ujarnya.

Ia mengaku mulai menyukai Olahraga Gulat yang terbilang ekstrim sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Marisa mengaku alasannya memilih untuk terjun ke dunia gulat karena dirinya merasa takut jika nilai Ujian Nasionalnya rendah, sedangkan ia ingin masuk ke salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) Favorit. Oleh karena itu, ia memilih untuk menekuni Olahraga Gulat agar bisa berprestasi di bidang nonakademik.

Ketika ditanya alasan mengapa lebih memilih Olahraga Gulat daripada olahraga lain yang lebih familiar di kalangan perempuan, Marisa mengungkapkan bahwa gulat merupakan olahraga yang lebih mudah untuk mendapatkan prestasi. Pilihan tersebut mendapat dukungan sepenuhnya dari kedua orangtuanya. Perjuangan dan kerja kerasnya pun tidak sia-sia. Ia berhasil masuk di SMA Negeri Olahraga Jawa Timur di kota Sidoarjo. Sekolah tersebut merupakan sekolah yang lebih memprioritaskan prestasi olahraga atau nonakademik.

Saat ini, Marisa tinggal di kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.  Anak dari pasangan Abdur Rahman dan Hartatik tersebut sudah lima kali mendapat juara di berbagai kompetisi gulat baik itu tingkat Provinsi maupun Nasional. Tahun 2014 merupakan tahun pertama ia berhasil menyabet juara tiga pada Kejuaraan Provinsi Jawa Timur. Kemudian, di tahun 2015 ia berhasil meraih juara ketiga pada Kejuaraan Gulat Provinsi Jawa Timur. Ketiga, juara dua di Kejuaraan Provinsi Jawa Timur di tahun 2016. Keempat, juara dua di Kejuaraan POPDA di Jember tahun 2016. Kelima, juara pertama di Kejuaraan Gulat Nasional 2016 di Surabaya.

Dari sekian banyak kompetesi yang telah diikuti olehnya, Marisa mengaku bahwa Kejuaraan Gulat tingkat Asia  yang diselenggarakan di kota Nakhon Ratchasima, Thailand merupakan kompetisi yang paling berkesan.  “Saya nggak meraih juara tapi itu yang paling mengesankan saya tanding di Nakhon Ratchasima di Thailand saya di situ memang tidak meraih juara tapi dapat peringkat kempat, Kejuaraan Gulat Tingkat Asia,  kelas berat 59 kg,” imbuhnya.

Selain menyukai Olahraga Gulat, Marisa juga menyukai seni dan musik, terutama alat musik gitar dan drum. Sampai saat ini, Marisa masih rutin mengikuti jadwal latihan  gulat di sebuah camp, tepatnya di Kecamatan Tumpang dengan durasi latihan mulai pukul 14.30-17.00 setiap harinya kecuali hari Minggu.

Empat tahun berkecimpung dengan dunia gulat, bagi Marisa gulat bukan hanya sekadar gulat melainkan sudah menjadi bagian yang penting dalam kehidupannya. “Kayak udah kehidupan saya yang tidak bisa lepas. Jadi, dari pertama gulat yang sudah membantu saya, dan sudah menggodog saya gitu, hari tanpa latihan itu nggak enak,” ungkapnya.

Di samping itu semua, Marisa juga kerap kali mendapat komentar yang agak negatif terkait dengan profesinya sebagai Atlet Gulat. Ia lebih memilih untuk tidak menghiraukan kata orang-orang dan menjadikan komentar itu sebagai saran untuk dirinya agar menjadi lebih baik.

Saat ini, Marisa tercatat sebagai mahasiswa baru angkatan 2018 Jurusan Pendidikan Psikologi di UM. Ia sendiri masuk ke Jurusan Pendidikan Psikologi karena dua faktor. Pertama, karena dirinya ingin belajar tentang psikologi untuk melanjutkan daftar menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) seperti yang dicita-citakannya sejak kecil. Kedua, karena dirinya ingin mendalami tentang psikologi.

Marisa mengungkapkan bahwa alasannya ingin menjadi anggota TNI adalah karena dirinya ingin ikut serta dalam memperkuat pertahanan di negeri ini. Meski sudah tiga kali gagal mendaftar untuk menjadi TNI, namun Marisa tidak patah semangat.“Jadi di sela-sela kuliah mungkin  saya tetap daftar terus,” ujar perempuan kelahiran Surabaya itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA