Dalam kurun waktu 13 hari setelah kasus pertama, pada tanggal 15 Maret 2020 jumlah pasien positif COVID-19 dilaporkan bertambah menjadi 96 orang. Pada hari itu juga, Presiden Joko Widodo melakukan konferensi pers dan menghimbau agar kegiatan sekolah, bekerja, dan ibadah dilakukan di rumah serta melakukan social-distancing. Hal ini dilakukan untuk menekan penambahan jumlah pasien terjangkit COVID-19.

Setelah itu, pemerintah daerah mulai memberikan surat edaran untuk melakukan social-distancing dan menutup tempat-tempat pariwisata sampai berakhirnya kondisi status keadaan darurat bencana non alam. Beberapa perguruan tinggi juga mulai meniadakan kegiatan di kampus dan mengganti kelas konvensional dengan kelas daring.

Social-distancing adalah kegiatan yang menjauhi segala bentuk perkumpulan, menjaga jarak dengan manusia, dan menghindari segala bentuk pertemuan yang melibatkan banyak orang. Contoh kegiatan yang dimaksud antara lain kegiatan belajar mengajar, meeting, hingga kegiatan yang kini tren khususnya di kalangan kawula muda, yakni nongkrong. Menurut Ummul Khair dari Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta pada Online Sharing COVID-19 Session (20/3), social-distancing sangat diperlukan untuk menghentikan penyebaran virus, dalam hal ini COVID-19, karena kontak fisik dengan pembawa virus atau media tertentu yang dapat terpapar. “Jadi saat ini yang kita himbau memang melakukan social-distancing, berdiam diri di rumah, melakukan kegiatan-kegiatan yang mungkin lebih banyak manfaatnya dilakukan di rumah dibandingkan untuk keluar, kalau tidak sangat-sangat penting,” jelasnya.

Ahli geriatrik dari Universitas Boston, Thomas Perls, dalam artikelnya yang dirilis The Conversationsjuga mengungkapkan bahwa saat ini satu-satunya yang bisa dilakukan untuk melawan arus COVID-19 dan menekan pertumbuhannya adalah social-distancing. Meski tidak mencegah 100% penularan, tapi dengan mengikuti aturan sederhana ini, individu dapat memainkan peran penting dalam memperlambat penyebaran virus. Jika dilakukan dengan tepat dan dalam skala besar, social-distancing dapat menghancurkan atau memperlambat rantai transmisi dari orang ke orang. Thomas menegaskan bahwa sangat penting untuk tidak menyepelekan kemungkinan terjadinya paparan dan melakukan karantina terhadap diri sendiri.

Sejak diumumkannya langkah preventif social-distancing, pusat perbelanjaan pun mulai sepi, tempat-tempat wisata ditutup, dan beberapa jalur muncak gunung di Tanah Jawa pun ikut tutup demi mengikuti aturan pemerintah untuk mengantisipasi penyebaran virus.

Namun, penganjuran pemerintah tentang social-distancing hingga bekerja di rumah, tidak memungkinkan diterapkan pada beberapa pekerja. Lalu bagaimana tanggapan anak muda dan pekerja tentang hal ini?

Dian (20 tahun), Karyawati, Surabaya.

Merasa kesel dan agak khawatir. Walaupun saya kerjanya di kantor, tapi ada sekitar 20 karyawan laki-laki yang kerja di lapangan narik uang ke nasabah, berinteraksi langsung dengan berbagai macam orang diberbagai kota, khawatirnya disitu, apalagi posisi saya jadi kasir. Jadi setiap anak-anak pulang dari lapangan, setor uangnya langsung ke saya. Berharap pemerintah juga memperhatikan kondisi kesehatan pekerja juga supaya kedepannya juga semakin produktif terus.

Bagus Supriyadi (25 tahun), Nelayan, Tuban.

Sudah mendengar dari media soal social-distancing selama 14 hari, namun masih tetap bekerja. Alasannya untuk mencari menghasilkan. Tidak merasa takut sama sekali dengan virus corona, karena itu sudah ada yang ngatur, ngapain takut. Terkait virus corona harga ikan semakin turun. Karena yang ekspor ikan ke luar negeri sudah ditutup, jadi ya dijual ke pasar (ke pedagang kecil) meski harga turun nggak apa-apa yang penting hasilnya banyak. Semoga virus corona diangkat lagi sama Yang Maha Kuasa, biar orang-orang nggak takut lagi yang namanya virus corona itu.

Hafida Hedi Warda (20 tahun) Atlet Basket, Blitar.

Sebelumnya sudah denger soal social-distancing. Persoalan virus corona betul-betul menganggu intensitas latihan, ada beberapa jadwal latihan yang terganggu.Waktu dulu kan seminggu lathan 3 kali. Sempat tetap latihan tapi 1 minggu 1 kali biar ga terlalu rest. Dengan bertambahnya korban virus corona waspadanya pun semakin ditambah, soalnya takut atlet gampang capek terus imunnya turun gampang diserang virus. Apalagi yang cowok mau tanding soalnya kemaren lolos nasional. Jadi, rest dulu.

Semoga keadaan di dunia terutama Indonesia sendiri semakin membaik, agar kegiatan atau aktivitas lainnya berjalan dengan lancar baik perekonomian maupun lainnya semoga tidak ada hambatan.

Balqis Hanun Hanifah (20 tahun) Waitress, Malang.

Kerjaan lancar sih. Lebih banyak yang pake Gojek atau Grab daripada orang datang. Paling-paling ada yang datang itu ngerjakan skripsi. Pemasukan sih ya tetep. Tiap hari naik-turun gitu kayak hari-hari biasa sebelum adanya virus corona kan juga pasti ada naik-turunnya, tapi ya nggak drastis.

Fitriana Salehah (20 tahun) Penggiat Pengamatan Burung Liar, Malang.

Kan kalau pengamat burung itu kalau mengamati burung harus keluar, mungkin ke tempat kayak ke Cangar, pokoknya keluar deh, sedangkan dari pemerintah sendiri sudah menganjurkan kita untuk stay at home. Jadi kalau aku pribadi walaupun hobi sama pengamatan tapi tetep harus taat sama pemerintah soalnya itu juga untuk keselamatan kita. Bosen sih tapi udah perintah ya turutin biar selamat. Soalnya kalau misalkan pengamatan burung, kalau sendiri nggak apa-apa. Tapi kalau bareng sama temen-temen terus ada interaksi harus dijaga, harus ada social-distancing. Berisiko kalau keluar. Jadi ditahan dulu kalau mau pengamatan.

Agung Candra S. (20 tahun) Karyawan, Jogja.

Di Jogja udah ada yang kena virus corona, jadi banyak yang apa-apa diliburin.

Kalau di perusahaanku, karyawannya dibagi dua. Shift pagi sama sore. Shift sore mulai besok libur seminggu. Terus gantian minggu depannya shift pagi libur seminggu. Perusahaan nggak mau rugi, jadi jalan keluarnya begitu.

Ana Afrida Febrianti (21 tahun) Karyawati, Jakarta.

Cuma per Senin gue sudah work in store 4 hari, work in home 3 hari. Sebenernya yang gue takutin bukan hanya virusnya sih. Takutnya krisis moneter, makan apaan gue di kota, kecuali di kampung gue bisa metik sayuran di kebon. Cuman dikasih sebagian waktu untuk social-distancing. Ya kalo gak kerja gaji gue gimana gue makan apa, biaya hidup siapa yang nanggung, pulang kampung gak boleh takut bawa virus. Ya kalo bener-bener mau lockdown ya pemerintah harus nyiapin kaya semisal, sembako buat persediaan di rumah. Percuma kalo lockdown tapi gak mikirin masyarakatnya, gimana mereka makan, sedangkan disini kan negara ya berkembang, soalnya warga +62 juga bandel-bandel suruh di rumah malah buat kesempatan liburan.

Rangkuman tersebut menjadi tolak ukur opini masyarakat terkait kondisi dan imbauan terbaru dari wabah COVID-19. Tentu, pendapat yang muncul dapat saling berlawanan dan semua memiliki kepentingan pribadi masing-masing. Namun penting diketahui bahwa sejauh ini menjaga diri melalui social-distancing masih menjadi opsi utama guna mengurangi pandemi ini, seperti yang telah ditegaskan dalam beberapa pernyataan sebelumnya. Baiknya, kita mematuhi imbauan yang telah ada, dengan sebisa mungkin mengurangi interaksi fisik.

Penulis: Widhi Hidayat, Mita Berliana, Umniyah Juman Rosyidah

Penyunting: Rizka Ayu Kartini

Tinggalkan Balasan