Mahasiswa angkatan 2023 Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI), serta Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah (PBSID) diminta untuk menambah mata kuliah rumpun Bahasa Inggris pada saat memprogram Kartu Rencana Studi (KRS) di awal semester 7 lalu.
Awalnya, mata kuliah tersebut tidak ada pada sajian kurikulum Sistem Informasi Akademik (Siakad). Namun, pada semester 7 ini, mahasiswa mendapati adanya penambahan di sajian mata kuliah semester 1. Mahasiswa diminta untuk mengambil setidaknya satu mata kuliah saja.
Rumpun mata kuliah Bahasa Inggris tersebut terdiri atas enam mata kuliah, di antaranya, Basic English Skills, Basic English Proficiency, English for Oral Presentation, Intermediate English Skills, Intermediate English Proficiency, dan English for Job Interview, yang masing-masing berjumlah 2 Sistem Kredit Semester (SKS).
Tanggapan Mahasiswa BSI dan PBSID
Sasa [nama samaran], salah satu mahasiswa dari Prodi BSI mengatakan cukup terkejut dengan adanya mata kuliah Bahasa Inggris tersebut. Pasalnya, sebelum memasuki perkuliahan semester tujuh, ia sempat bertanya kepada Kepala Program Studi (Kaprodi) BSI mengenai mata kuliah yang akan diambil, yaitu Sosiopragmatik dan Seminar Proposal (Sempro) saja. Namun, saat memprogram KRS ternyata masih banyak mata kuliah yang harus diambil, salah satunya rumpun Bahasa Inggris.
“Jujur kaget, tiba-tiba banget. Soalnya kemarin waktu aku omong-omongan sama Kaprodi, aku sempat omong-omongan sebelum masa semester ini [semester 7] dibuka. Katanya, cuma Sosiopragmatik sama Sempro aja. Lah kok akeh, ono menulis drama barang, ono English barang (Lah kok banyak, ada menulis drama juga, ada Inggris juga),” ujarnya.
Berbeda dengan Prodi BSI, Arini Hana, salah satu mahasiswa Prodi PBSID mengatakan bahwa pengumuman adanya mata kuliah rumpun Bahasa Inggris sudah dihimbau oleh Kaprodi PBSID sebelum masa pemrograman KRS.
“Untuk penambahan matkul ini dari Kaprodi. Info di grup kan, kayak, ‘teman-teman mahasiswa minta tolong ini ya, kalian ambil, mengamankan Basic English Proficiency [salah satu pilihan mata kuliah Bahasa Inggris] ini,’ gitu, disuruh ngambil gitu kan,” ucapnya.
Beberapa mahasiswa BSI berasumsi bahwa penambahan mata kuliah ini sebagai upaya dari pihak kampus untuk mendongkrak skor Ujian Kemampuan Berbahasa Inggris (UKBIng) para mahasiswa yang belum memenuhi syarat kelulusan.
Asumsi tersebut kemudian diperkuat oleh Arini yang pernah berbincang langsung dengan Kepala Departemen Sastra Indonesia yang sekaligus merupakan Kaprodi PBSID.
“Karena ternyata mahasiswa Departemen Sastra Indonesia ini banyak yang: satu; enggak lolos UKBIng, dua; tidak segera mengambil UKBIng. Dan banyak yang kayak enggak lolos gitu loh, kayak ngulang-ngulang ulang gitu. Maka dari itu, kita disuruh untuk persiapan ini ngambilnya Basic English Proficiency [salah satu mata kuliah Bahasa Inggris],” ucapnya.
Bagaimana Dampaknya terhadap Mahasiswa Fast Track?
Meski dihimbau untuk mengambil satu mata kuliah atau 2 SKS saja, hal ini terasa sedikit memberatkan para mahasiswa semester akhir yang sangat identik sibuk dengan mata kuliah skripsi atau tugas akhir. Apalagi bagi mahasiswa S1 yang sekaligus menempuh jenjang S2 melalui program fast track dan sudah lulus UKBIng. Arini yang ternyata merupakan mahasiswa program fast track mengatakan bahwa ia tidak bisa mengambil lebih banyak mata kuliah S2-nya.
“Aku mahasiswa fast track, jadi itu aku pengennya kayak, ya udahlah orang udah lolos, gimana kalau aku enggak ngambil. Kayak lumayan kan 2 SKS tuh ngambil waktu kita 2 jam lah ya, [dengan] ada mata kuliah Basic Inggris ini jadinya aku enggak bisa ngambil banyak-banyak matkul di S2-nya gitu loh,” jelas Arini.
Di samping hal tersebut, tujuan adanya rumpun mata kuliah Bahasa Inggris tentu sangat positif. Menurut keterangan yang didapat Arini dari Kaprodi, selain untuk mengangkat nilai UKBIng, adanya mata kuliah ini merupakan upaya internasionalisasi sesuai dengan visi dan misi yang dilakukan oleh pihak departemen.
Ia juga mengungkapkan bahwa dengan adanya rumpun mata kuliah ini sebenarnya sangat membantu untuk mendongkrak nilai pada section dalam UKBIng, apalagi bagi mahasiswa S2 yang membutuhkan skor lulus lebih tinggi daripada mahasiswa S1.
Sasa juga tidak mempermasalahkan adanya penambahan mata kuliah ini, asalkan dihimbau terlebih dahulu sebelum memasuki masa KRS. Karena di prodinya, informasi mengenai penambahan mata kuliah Bahasa Inggris baru ia dapatkan setelah salah satu mahasiswa BSI lain bertanya di grup obrolan angkatan 2023.
“Sebelum KRS [seharusnya] dikasih tahu kalau kita itu ada kelas English, jadi kita ada persiapan gitu loh. Daripada yang kemarin itu kan enggak ada informasi sama sekali, kalau enggak di-trigger sama seseorang di grup,” ujar Sasa.
Ia berharap kedepannya apabila terdapat kebijakan baru, pihak prodi atau departemen dapat memberikan informasi dari jauh hari.
“Kalau misalnya emang ada kebijakan baru infoin aja, jangan langsung ndadak. Terus habis iku harapane yo [semoga] banyak mahasiswa sing lolos UKBIng [setelah diberikannya kelas Bahasa Inggris ini],” tambahnya.
Senada dengan Sasa, Arini juga berharap hasil belajar mahasiswa khususnya Departemen Sastra Indonesia di mata kuliah Bahasa Inggris ini dapat terlihat jelas pada saat UKBIng nanti.
“Dengan adanya matkul ini, semoga mahasiswa khususnya Departemen Sastra Indonesia, nantinya akan [terlihat] hasilnya, hasil belajar dan hasil mereka selama kelas itu ada kelihatan banget di UKBing. [Sebelumnya] dia enggak lolos, itu jadinya lolos, jadi biar kita enggak sia-sia gitu loh ngambil ini di semester 7 yang kita tuh harus ngerjain skripsi,” tandasnya.
LPM Siar telah menghubungi Kepala Departemen Sastra Indonesia untuk meminta keterangan. Namun, pihak terkait belum bersedia memberikan tanggapan hingga berita ini terbit.
Editor: Rika Aulia





