Siang sekitar tiga puluh menit yang lalu, hujan deras yang mengguyur Kota Malang baru saja reda. Tanaman dan tempat duduk di Taman Singha Merjosari masih basah, bahkan genangan air di tengah-tengah taman sudah menyerupai danau minuman Thai tea.
Terlepas dari pemandangan langit mendung dan tanah becek itu, di kejauhan, lebih tepatnya di arena skateboard taman, terlihat para pemuda dan pemudi berbaju cheerful tengah asyik menggelar banner yang akan digunakan sebagai alas, menata poster tata tertib, hingga merapikan pakaian bekas layak pakai untuk mempersiapkan acara Festival Satu Mei.
Festival Satu Mei ini mereka gelar sebagai sarana untuk merayakan Hari Buruh dengan versi yang berbeda. Alih-alih berorasi menggunakan pengeras suara yang terasa lebih familier di telinga, kegiatan ini justru hadir dengan kalimat di posternya yang berbunyi, “bermain bergembira bersama-sama”.
Di ruang ini, siapa saja bisa memilih pakaian, memeriksa kesehatan, membaca buku, menulis puisi menggunakan mesin ketik kuno, mencukur rambut, hingga menyablon baju tanpa dipungut biaya sepeser pun. Majin, lelaki dengan rambut mullet sekaligus salah satu penyelenggara acara ini menjelaskan konsep ‘Ruang Bebas Uang’.
“Sebenarnya Ruang Bebas Uang itu, kami ingin membentuk suatu tempat yang di mana kita bisa menaruh [menyediakan] barang atau jasa, dan juga mengambil barang atau jasa itu secara gratis. Karena di dunia yang semakin apa-apa harus uang, di dunia yang semakin terkapitalisasi ini, [masih] ada loh gitu orang-orang yang enggak bisa mengakses itu dengan gratis,” Ucap lelaki berusia sekitar 25 tahun itu.
Acara ini sempat mundur dari jadwal aslinya lantaran hujan, tetapi ketika hari menjelang petang, pengunjung makin banyak berdatangan. Beberapa dari mereka asyik bermain-main mesin ketik, bermain basket, berdiskusi tentang buku, sampai ada pula yang tepar menertawakan kucing di tumpukan baju, lengkap dengan baju bayi yang tampak suitable dengan badan mungil kucing itu.


Di tengah keramaian, Majin dengan wajah mengerucutnya dan baju khas Jawa ‘Surjan’ yang dipakainya itu, terlihat serius mengecek tensi darah pengunjung untuk pemeriksaan kesehatan gratis. Di atas bangku kayu panjang dekat pakaian, telah tertata rapi peralatan medis ‘kecil-kecilan’ miliknya, yang terdiri dari alat cek tensi, gula darah, asam urat, dan kolesterol.
Majin mulai beraksi memindai alat-alat kesehatan di depannya, peralatan-peralatan ini tak semua datang dari kantong pribadinya, melainkan dari iuran sukarela kolektif untuk mendukung jalannya festival ini.
“Kami di sini kebetulan punya arah gerak yang sama gitu. Dalam artian sedikit banyak ide-ide yang kami bicarakan itu ya semua sama,” ujar Majin sembari mempersiapkan strip uji gula darah salah satu pengunjung.
Majin menegaskan jika ide ruang publik ini tidak datang dari satu orang, melainkan dari kawan-kawan yang merasa memiliki ide dan keresahan yang sama, lalu mencoba meresponsnya beramai-ramai.
Salah satu keresahan itu berkaitan dengan kerja dan kenyataan hidup para buruh. Fakta di lapangan memperlihatkan bagaimana upah para buruh yang dipekerjakan masih tertindas dan tidak sesuai dengan hasil keringat mereka.
“Ada hasil-hasil keringat kerjanya [buruh] yang enggak bisa dibayarkan pakai material. Karena kita punya keresahan yang sama soal kerja-kerja yang tak terbayarkan, jadi kami merespon ini dengan Ruang Bebas Uang ini,” ujar Majin.
Menurutnya, Hari Buruh itu tidak selalu harus blokade jalan maupun demonstrasi. Justru melalui gerakan ini, Hari Buruh bisa dirayakan lebih intim sekaligus dijadikan kesempatan untuk membentuk solidaritas antar buruh, antar teman, bahkan antar masyarakat.
“Pengen ngerespon bikin May Day yang enggak harus blokade jalan, tapi ya wis kita aktifin ruang-ruang ini. Kalau kami sih pengennya memang karena ini hari enggak hanya hari libur buruh ya, tapi hari solidaritas buat buruh. Ya, silakan buruh yang memanfaatkan apa yang ada di sini, silakan aja,” ujarnya dengan nada serius.
Terakhir, Majin berharap ruang seperti ini tidak berhenti di momen Hari Buruh ini saja. Dari pakaian-pakaian yang disediakan juga tidak mungkin habis dalam satu momen ini. Ia ingin ruang-ruang jejaring solidaritas seperti ini selalu hadir dalam setiap kesempatan.
Majin memindai tumpukan pakaian yang ada di depannya, “Bahkan kalau bisa setiap hari. Pengennya itu, kan. Kayaknya pakaian-pakaian ini enggak bakal habis dalam momen ini aja.”
“[Misal] ada bencana kayak kemarin Gunung Semeru itu kita juga [bisa] kirim. Intinya apapun yang bisa dimanfaatin buat ruang-ruang jejaring solidaritas, sebisa mungkin dimanfaatin. Jadi pengennya malahan enggak hanya satu agenda di satu tahun gitu sih,” ucap Majin.
Cahaya lampu taman mulai menunjukkan remangnya, sebagian orang masih asik berbincang satu sama lain seolah tak ada hari esok. Sementara yang lain mulai beranjak sambil membawa kresek besar hasil mengambil pakaian gratis siang tadi, sekaligus pengalaman baru.
Kita tak tau apakah pesan dari acara ini akan tercapai suatu hari. Tapi yang pasti, di Taman Singha Merjosari itu tidak dirayakan hari buruh dengan aba-aba keras, tidak ada orasi panjang maupun lautan massa dengan spanduk tuntutan. Taman itu justru ramai dengan tawa dan candaan yang hangat. Menonjolkan semangat solidaritas kelas pekerja dan kelas bawah yang erat.
Editor: Riska Yulistiya





