Komite Aksi Kamisan Kota Malang menggelar aksi memperingati 28 tahun Reformasi di depan Balai Kota Malang, Kamis (21/5/2026). Aksi diikuti puluhan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari masyarakat umum, mahasiswa, hingga elemen gerakan di Kota Malang.
Aksi ini mengangkat tema “Ganyang Militerisme, Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat, Rebut Supremasi Sipil”.
Dalam kesempatan tersebut, massa menyampaikan kritik terkait demokrasi, kesejahteraan rakyat, korupsi, nepotisme, dan praktik militerisme di Indonesia.
Berlangsung dari pukul 15.00 WIB, peserta membawa poster, spanduk, serta menyampaikan orasi secara bergantian.
Salah satu peserta aksi, Tirta dari FISIP UB, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk respons terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap belum menyelesaikan persoalan kesejahteraan, demokrasi, korupsi, dan nepotisme.
“Reformasi seharusnya membawa perubahan yang lebih baik bagi rakyat. Namun sampai hari ini masih banyak persoalan yang belum terselesaikan, mulai dari kesejahteraan masyarakat, demokrasi, militerisme, korupsi, nepotisme, hingga kondisi ekonomi,” ujar Tirta.
Peserta lainnya, Taufik, mengatakan bahwa gerakan ini bertujuan membangkitkan kembali semangat Reformasi 1998 dan mengingat kembali peristiwa pada masa Orde Baru.
“Aksi ini itu kita coba untuk create, agar ingatan kolektif itu bisa terbangun lagi, dan nantinya itu bisa menjadi pantikan oleh semua kalangan bahwa pembebasan itu masih ada dan terus dilakukan, gitu sih,” ucap Taufik.
Menjelang akhir aksi, hujan turun membasahi halaman depan balaikota, massa membentuk barisan melingkar sementara orator membacakan pernyataan sikap terkait kondisi nasional dan sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai berdampak pada pelemahan ekonomi serta penurunan nilai rupiah.
Dalam pernyataan tersebut, massa menilai cita-cita Reformasi mulai menjauh dari prinsip demokrasi dan supremasi sipil.
“Kita tidak sedang melangkah maju, melainkan diseret mundur kedalam gelapnya era otoritarisme baru. Dibawah kepemimpinan hari ini, watak anti rakyat dan fasis makin nyata, berselingkuh dengan sistem kapitalisme ,imperialisme global demi mempertahankan akumulasi modal segelintir oligarki,” tegas perwakilan massa aksi yang membacakan pernyataan sikap.
Aksi berakhir pada pukul 18.30 WIB, melalui aksi ini, massa menegaskan bahwa cita-cita reformasi tidak boleh dikhianati oleh ambisi kotor para penguasa, sebaliknya ia harus menjadi pembelajaran bangsa untuk terus menjaga demokrasi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan terus menjaga supremasi sipil.
Penulis: Marfen Setiabudi (Magang Siar)
Editor: Ani Rahmawati





