Aksi Solidaritas untuk Hana, Mahasiswa UM Desak Evaluasi Total Program UM BBM

Siar – Ratusan mahasiswa Universitas Negeri Malang mendatangi rektorat pada Kamis, (11/06) untuk menuntut evaluasi program UM Belajar

Salsabilla Azzahra/Siar

Siar – Ratusan mahasiswa Universitas Negeri Malang mendatangi rektorat pada Kamis, (11/06) untuk menuntut evaluasi program UM Belajar Bersama Masyarakat (UM BBM) setelah Hana Zahra Salsabila, mahasiswa S1 Pendidikan Tata Busana, mengalami kecelakaan ketika melakukan survei lokasi kegiatan UM BBM.

Pertemuan ini diinisiasi oleh beberapa kolektif mahasiswa, seperti Geram Cakrawala (Gerakan Mahasiswa Cakrawala) dan Arek Cakrawala UM (ACX UM), kemudian diikuti berbagai unsur mahasiswa lain, termasuk BEM.

Taufik, dari Geram Cakrawala mengatakan bahwa forum tersebut sejak awal dimaksudkan sebagai ruang duka bersama sekaligus wadah penyampaian aspirasi mahasiswa. 

“konteksnya (aksi protes ini) adalah betapa tidak becusnya kampus dalam melakukan program. Dalam melakukan penyiapan kebijakan yang yang akan dilaksanakan di kampus.” Tegas Taufik.

Menurutnya, salah satu tuntutan utama yang disampaikan mahasiswa adalah persoalan perlindungan dan jaminan keselamatan bagi peserta program. Ia menyoroti belum adanya skema asuransi yang memadai bagi mahasiswa UM BBM.

“karena Kita faktanya iri sama kampus UB yang punya asuransi ke tanah ketenagakerjaan terkait program-programnya, sedangkan kami enggak punya dan sudah menelan korban secara langsung,” Ujar Taufik.

Ketidakjelasan Sistem BBM di Fakultas Vokasi 

Selain menyampaikan solidaritas kepada Hana, sejumlah mahasiswa juga mengkritisi pelaksanaan program UM BBM. Salah satunya disampaikan oleh SF, mahasiswa Vokasi angkatan 2023.

SF menilai universitas belum memiliki arah kebijakan yang jelas terkait pelaksanaan UM BBM, khususnya bagi mahasiswa vokasi. Ia mengungkapkan bahwa keterlibatan mahasiswa vokasi angkatan 2023 dalam program tersebut tidak disosialisasikan secara jelas sejak awal.

Menurutnya, informasi mengenai kewajiban mengikuti UM BBM baru disampaikan melalui sosialisasi lanjutan yang secara khusus ditujukan kepada mahasiswa angkatan 2023.

SF menilai perubahan kebijakan tersebut menunjukkan bahwa perencanaan program belum matang. Ia juga mempertanyakan relevansi UM BBM dengan kebutuhan pendidikan vokasi yang lebih berorientasi pada dunia industri dan kegiatan magang.

“Kayak sekedar menyerahkan aja, tanpa benar-benar pertimbangan bahwa vokasi itu lebih butuhnya itu ke arah mana, ke industri kah atau ke pengabdian. Karena di sini jujur aku dari mahasiswa vokasi merasa terbebani saat ini,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa pelaksanaan UM BBM dinilai mendadak dan tidak dapat dikonversi dengan program magang yang menjadi kebutuhan utama mahasiswa vokasi.

“Karena pertama UM BBM ini mendadak, terus yang kedua enggak bisa dikonversi sama magang,” lanjutnya.

Tanggapan dari Pihak Kampus dan Langkah Selanjutnya

Menanggapi berbagai aspirasi mahasiswa, sejumlah pejabat universitas yang hadir dalam forum tersebut menyampaikan tanggapannya.

Wakil Rektor UM, Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, M.Pd., menyatakan bahwa universitas tengah melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan UM BBM menyusul kecelakaan yang menimpa Hana Zahra Salsabila. Ia mengatakan pihak kampus telah mengikuti perkembangan kasus tersebut dan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait.

“Karena di mana-mana akan terjadi peluang-peluang ya, untuk celaka kan ada peluang toh. Nah, makanya perlu ada jaminan asuransi,” Ujar Ibrahim.

Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM, Prof. Aji Prasetya Wibawa, S.T., M.M.T., Ph.D., menyatakan dukungannya terhadap usulan penyediaan asuransi bagi peserta program. 

“jadi kami akan mengupayakan sudah nanti kalau masalah asuransi bisa bicara dengan saya. Itu saja,” ungkapnya.

Meski demikian, sebagian mahasiswa mengaku belum puas dengan tanggapan yang diberikan pihak kampus. Salah satunya, Taufik. Menurutnya, jawaban pejabat kampus masih umum dan belum menyentuh pokok tuntutan mahasiswa.

“Meskipun intensi tapi yang dibicarakan masih normatif. Enggak konkrit dan kita tidak melihat adanya adanya sinyal-sinyal transformatif yang dilakukan oleh kampus.” Tegas Taufik.

“Jadi ini harapan kita semoga hasil-hasil dari aksi kita hari ini itu bisa menimbulkan transformasi di dalam pembuatan kebijakan di kampus.” Lanjutnya. 

Aksi ini berakhir sekitar pukul 18.30 WIB, ditutup dengan menyalakan lilin sebagai simbol belasungkawa untuk Hana Zahra Salsabila. 

Taufik berharap dengan adanya aksi ini menjadi momen refleksi bagi civitas UM. Selain itu, ia juga menegaskan bahwa mereka akan terus menuntut keadilan bagi korban dan seluruh mahasiswa UM terutama peserta BBM.

“kita akan terus menagih. Kita akan terus menunggu sampai bukti konkret itu keluar dan kita kita pakai representasi kita yaitu BEM untuk DPM untuk terus mendorong hal ini supaya direalisasikan.” Tegas Taufik.

Editor: Ani Rahmawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA


🔎 Apa yang ingin kamu cari?
Search
🔥Terbaru