Peringatan Hari Anak Nasional setiap tanggal 23 Juli tak hanya sebatas momentum untuk mengucapkan “Selamat Hari Anak Nasional” yang biasa disampaikan melalui media sosial.
Alangkah baiknya peringatan hari anak juga menjadi ajang bagi tiga pusat pendidikan, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat untuk merenungkan dan memikirkan perannya dalam mencetak generasi emas demi masa depan yang lebih cerah.
Menurut agpaii.or.id (16/8/24), Ki Hajar Dewantara yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia, mengembangkan konsep Tripusat Pendidikan yang melibatkan tiga lingkungan utama: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Konsep ini bertujuan menciptakan sinergi antara ketiga lingkungan tersebut dalam mendidik anak-anak, memahami bahwa upaya pendidikan tidak dapat dilakukan oleh tenaga pendidik saja, melainkan harus didukung oleh lingkungan sekitar.
Lingkungan keluarga menjadi pendidikan pertama seorang anak. Mengutip dari omong-omong.com (6/12/24), dalam hal pendidikan keluarga, kedua orang tua memainkan peranan penting bagi perkembangan kehidupan seorang anak. Pendidikan keluarga bisa jadi jauh lebih efektif daripada pendidikan di sekolah, karena adanya ikatan emosional antara orang tua dan anak yang sudah terbentuk.
Begitu meninggalkan lingkup keluarga, anak akan mulai mengenal lingkungan masyarakat yang juga membentuk pengetahuannya.
Lingkungan masyarakat yang sehat akan memberikan dampak yang positif bagi masyarakatnya, termasuk anak-anak yang tumbuh di sana. Banyak kegiatan yang dapat dilakukan di lingkungan masyarakat untuk memberdayakan anak-anak dan menemani proses belajarnya.
Salah satu contoh nyata peran masyarakat untuk anak-anak adalah Taman Baca Masyarakat (TBM). TBM adalah tempat atau wadah yang menyediakan bahan bacaan untuk masyarakat dengan tujuan meningkatkan minat baca dan literasi. TBM biasanya dikelola oleh masyarakat sehingga bisa menjadi salah satu sarana belajar dan bertumbuh bagi anak-anak di lingkungan masyarakat.
Tak hanya membaca dan belajar, TBM dapat pula menjadi tempat bagi anak-anak untuk berbagi kebersamaan sehingga dapat membentuk pribadi yang positif. Komunitas seperti ini bisa menjadi rumah kedua bagi anak-anak setelah sekolah. Berbeda dengan sekolah, proses belajar di TBM lebih santai dan nyaman bagi anak-anak. Mereka dapat bermain dan berdiskusi secara leluasa sesuai keinginan mereka sendiri.
Di sisi lain, lingkungan sekolah merupakan pendidikan formal bagi anak-anak untuk menimba ilmu dan berkembang secara terstruktur dengan berbagai teknik pembelajarannya. Di dalam lingkungan sekolah, giliran peran guru yang menjadi penting bagi perkembangan anak sekolah. Guru di sekolah dituntut untuk mencerdaskan anak bangsa. Di samping itu, guru juga harus bisa mendidik moral mereka.
Tetapi, di era sekarang ini banyak sekali dijumpai anak-anak khususnya pelajar sekolah yang mengalami penurunan moral.
Menurut Sudiarta & Porro (dalam Suarningsih, N. M., 2024), degradasi moral di Indonesia sudah menjadi fenomena umum. Penyimpangan sosial mulai dari hal kecil seperti memakai pakaian yang tidak pantas sebagai pelajar, datang terlambat, minuman keras, pergaulan bebas, penggunaan narkoba, tawuran, kekerasan, bahkan pembunuhan di lingkungan pendidikan, yang kini mudah kita lihat secara gamblang melalui berbagai media.
Ketika terjadi penurunan moral seperti ini, tentu banyak sekali faktor penyebabnya. Selain kemajuan teknologi, lingkungan sosial juga dapat menjadi faktornya. Tokoh-tokoh maupun situasi yang terjadi di lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah bisa berpotensi menjadi alasan penurunan moral.
Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah melakukan evaluasi terhadap anak untuk mengetahui di mana akar timbulnya penurunan moral.
Salah satu teman saya bercerita tentang pengalamannya saat mengunjungi salah satu sekolah MA di desanya dulu. Ia datang dengan niat baik untuk membagikan cerita dan motivasi selama duduk di bangku kuliah.
Alih-alih mendapat perhatian dan antusiasme dari siswa di sana, ia malah merasa kecewa dan miris melihat kondisi siswa yang tak memiliki percikan semangat terhadap pengalaman belajar yang ia sampaikan.
Hal ini merupakan salah satu contoh dari penurunan moral yang drastis dari anak zaman sekarang. Selain semangat belajar yang kurang, hal dasar seperti sikap menghargai dan menghormati orang lain sangat memprihatinkan. Ini menunjukkan bagaimana moral anak bisa menjadi buruk jika anak tidak diberikan lingkungan sosial yang sehat. Lingkungan yang mampu menciptakan semangat belajar dan moral yang baik dalam diri anak.
Hal ini menjadi tugas besar bagi ketiga pusat pendidikan untuk berbenah diri. Merenungkan bagaimana cara agar bisa menghasilkan anak-anak yang penuh dengan prestasi. Tak hanya unggul prestasi, namun juga harus apik moral. Dengan menciptakan lingkungan yang sehat dan positif di ketiga pusat pendidikan kita dapat membantu anak-anak menjadi individu yang literat, kritis, berprestasi dan memiliki nilai moral yang baik.
Mari kita bersama-sama berkomitmen untuk menjadikan seorang anak sebagai investasi terbaik masa depan bangsa.
Sumber:
DPP AGPAI. (2024, Agustus 16). Tri Pusat Pendidikan Ki Hajar Dewantara: Sinergi Rumah, Sekolah dan Masyarakat. agpaii.or.id. https://agpaii.or.id/tri-pusat-pendidikan-ki-hajar-dewantara/
Suarningsih, N. M. (2024, Juni 1). Mengatasi Degradasi Moral Bangsa Melalui Pendidikan Karakter. JOCER: Journal of Civic Education Research, 2(1), 1-7. https://journal.tirtapustaka.com/index.php/jocer/article/view/47/57
Waliyadin. (2024, Desember 6). Pendidikan Keluarga dan Pemenuhan Hak Anak. omong-omong.com. https://omong-omong.com/pendidikan-keluarga-dan-pemenuhan-hak-anak/
Editor: Moch Fahmi Alfarizi





