Short Drama dan Generasi Scroll: Hiburan Instan, Adiksi Baru?

Di era digital yang semua hal dilakukan dengan serba cepat ini, membuat perubahan gaya hidup juga terasa begitu

Moch. Fahmi/ Siar

Di era digital yang semua hal dilakukan dengan serba cepat ini, membuat perubahan gaya hidup juga terasa begitu terlihat, terutama dalam cara kita mengonsumsi hiburan. 

Jika dulu orang rela duduk berjam-jam untuk menonton film di bioskop, atau mengikuti serial dengan puluhan episode yang satu episodenya berdurasi satu jam lebih, kini tren itu perlahan sedikit bergeser. 

Orang-orang generasi sekarang lebih betah mengonsumsi konten singkat, praktis, dan padat. Dari kebiasaan inilah lahir fenomena baru yang kini mendunia, short drama.

Akan tetapi, di balik euforia tersebut, ada hal yang perlu direnungkan.

Apakah budaya menonton singkat ini membuat kita kehilangan kemampuan menikmati karya panjang? Apakah kesabaran kita untuk mengikuti narasi yang lebih kompleks perlahan terkikis? Ataukah justru short drama adalah bentuk evolusi seni visual yang sesuai dengan zaman?

Short Drama: Jawaban Industri Hiburan Atas Kebiasaan Baru Masyarakat

Fenomena short drama ini pertama kali meledak dari negara Tiongkok dengan istilah duanju. Bentuknya sederhana: serial drama dengan durasi super singkat, hanya 59 detik hingga 2 menit per episode, dengan total puluhan episode, bahkan ada yang hingga 100 episode. 

Sekilas, format ini terlihat “tidak masuk akal”, bagaimana mungkin sebuah cerita bisa tuntas dalam durasi sesingkat itu? Tapi  justru di situlah letak daya tariknya. Cerita disajikan dengan alur cepat, konflik langsung muncul di awal, dan setiap akhir episode ditutup dengan cliffhanger yang memaksa penonton menekan tombol “next” (CNBC, 2025).

Tidak butuh waktu lama, duanju menjadi industri bernilai miliaran dolar di Tiongkok. Menurut CNBC (2025), pasar short drama di negara tersebut sudah mencapai USD 7 miliar. Bahkan, Global Times (2025) mencatat bahwa serial mikro ini sudah mulai dilirik pasar internasional, dari Asia Tenggara hingga Amerika. 

Korea Selatan pun ikut masuk ke tren ini. Platform Over the Top (OTT) TVING, salah satu platform terbesar di Korea Selatan, baru-baru ini mengumumkan akan segera meluncurkan short drama original yang memiliki konsep drama mini dengan format vertikal yang ramah untuk penonton mobile (Asiae, 2025). Sementara itu, di negara-negara Barat, platform seperti ReelShort dan DramaBox turut mempopulerkan tren ini dengan cerita-cerita klise namun menghibur, dari kisah cinta hingga balas dendam.

Namun, pertanyaannya, mengapa format singkat ini menjadi sangat digemari? Jawabannya bisa dilihat dari perilaku generasi sekarang. Kita hidup di era scroll, terbiasa berpindah cepat dari satu konten ke konten lain. Tiktok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts telah membiasakan otak kita untuk menikmati potongan konten singkat, bukan narasi panjang.

Akibatnya, daya fokus semakin pendek. Menonton film dua jam terasa melelahkan, sementara menonton drama mini 1 menit terasa lebih ringan dan menyenangkan. Dengan kata lain, short drama adalah jawaban industri hiburan atas kebiasaan baru masyarakat.

Short Drama: Kemajuan atau Kemunduran?

Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana teknologi membentuk cara kita menikmati seni. Jika dulu drama dipandang sebagai medium untuk mendalami emosi dan karakter, kini dengan adanya short drama, drama dipandang sebagai tontonan cepat penuh kejutan. 

Industri hiburan jelas membaca pola ini: masyarakat modern haus hiburan cepat, padat, dan adiktif. Maka, wajar jika short drama disebut sebagai “produk budaya generasi scroll.”

Kritik pun mulai muncul. Reuters (2024) mencatat bahwa sebagian pihak menilai short drama/ micro drama ini terlalu “rendah” dan cenderung memiliki kualitas dramatis dan murahan demi menarik klik. 

Meski begitu, menurut saya kemunculan fenomena short drama di era ini bisa dilihat sebagai sebuah inovasi segar yang berhasil menyesuaikan diri dengan industri teknologi dan hiburan yang serba cepat. Kehadirannya pun tidak serta merta menggeser posisi serial atau film berdurasi panjang yang masih digemari banyak penonton hingga saat ini. 

Justru short drama membentuk ruang penikmatnya sendiri, lengkap dengan fandom yang semakin berkembang. Pasar juga sudah membuktikan bahwa masyarakat menyukai format ini. Pada akhirnya, seperti yang sering terjadi dalam industri hiburan, selera publik lah yang kerap menjadi penentu arah perkembangan.

Satu hal yang pasti, short drama bukan sekedar tren musiman. Ia adalah refleksi perubahan cara kita hidup: cepat, instan, dan penuh distraksi. Sebuah cermin generasi yang tidak tahan untuk berlama-lama, tetapi di waktu yang sama ingin tetap terhibur. 
Pada akhirnya, apakah itu baik atau buruk? Jawabannya tergantung bagaimana kita menyikapinya. Yang jelas, short drama sudah menjadi bagian dari budaya pop global yang sulit diabaikan.

Editor: Moch. Fahmi Alfarizi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA


🔎 Apa yang ingin kamu cari?
Search
🔥Terbaru