Nama Heretica, merupakan representasi zaman ketika nafsu dapat dengan mudah mengendalikan kebenaran. Nama ini disematkan sebagai identitas sebuah grup band yang lahir di Kota Batu dengan formasi personel: Surya (Gitar Vokal), Dimas (Gitar), Odie (Bas), dan Samad (Drum).
Grup musik ini lahir di tengah kekacauan zaman, saat penyimpangan dianggap sebagai sebuah kebaikan dan begitu pula sebaliknya.
Dengan memainkan sub genre Melodic Black Metal, Heretica memulai gerilyanya di ruang musik bawah tanah pada tahun 2014.
Satu tahun setelah terbentuk, band ini menggarap sebuah single bertajuk “Belenggu” yang dirilis pada tahun 2015 sebagai sebuah anthem untuk menapaki jalan di tengah kekacauan zaman.
Satu tahun berselang, 2016 menjadi tahun yang cukup penting bagi Heretica dengan keluarnya single kedua bertajuk “Infernal Hellfire” yang dirilis bersamaan sebagai album split dengan band black metal asal Surabaya, Severity. Tahun ke tahun, panggung ke panggung terlewati dengan aroma kegelapan.
Heretica terus berkarya, menghibur setiap audiens dengan riff gitar yang padat dan gelap, dentuman drum yang agresif dan teriakan suara penuh amarah.
Dari berbagai dinamika yang terjadi dalam internal band dan komunitas musik di Kota Batu, Heretica memantapkan langkah untuk menggarap full album yang dimulai pada tahun 2021.
Berbagai materi lagu yang telah lama diaransemen mulai diabadikan di Karasu Home Recording Studio untuk proses rekaman full album. Penggarapan album ini tergolong tidak singkat, keseluruhan lagu rampung digarap pada tahun 2024. Di tengah perjalanan rekaman, Daniel ‘Natjaard’ hadir dengan suara pianonya yang harmonis sebagi komplimen lagu-lagu yang telah direkam sebelumnya.
Tujuh lagu mentah yang telah direkam kemudian dipoles dalam tahap mixing mastering oleh Wijayayasasa, seorang sound engineer terkemuka di Kota Malang. Hasil akhir dari rangkaian proses produksi album ini kemudian melahirkan sebuah karya otentik yang disebut sebagai “Veil of Eternal Dusk”: (1) Silence Behind the Shadow of Hate feat Daniel Natjaard; (2) Pengkultusan; (3) Belenggu; (4) Perpetual Darkspell; (5) Infernal Hellfire; (6) The Unsung Grief feat Daniel Natjaard; (7) Titian Senjakala.
Silence Behind the Shadow of Hate
Menceritakan tentang keterpurukan manusia yang tenggelam dalam amarah dan dendam yang menjadikan mereka sebagai makhluk beringas. Nafsu yang telah menguasai ruang batin kemudian bermanifestasi dalam tindakan-tindakan untuk membalaskan semua dendam yang telah terpendam cukup lama.
Pengkultusan
Manusia sebagai makhluk komunal yang berakal, kerap berselimut dari kebaikan dalam dimensi norma sosial atau agama untuk menutupi kebusukannya sendiri di depan manusia lain. Penyembahan manusia atas manusia lain dengan dasar status sosial atau agama menjadikan mereka sebagai makhluk yang buta. Manusia sebenarnya suka menyembah egonya sendiri, namun seringkali tidak mereka sadari.
Belenggu
Manusia dibekali akal dan seringkali menggunakannya sebagai alat untuk mengkonsepsi berbagai situasi. Amarah, kebencian, dan dendam yang ada dalam pikiran manusia bermuara pada kondisi yang merugikan manusia itu sendiri.
Perpetual Darkspell
Manusia yang dikuasai oleh nafsu akan melakukan berbagai cara untuk menunjukkan eksistensinya. Mulai abai dengan rasa malu, tidak lagi mengenal rasa kemanusiaan, hingga akan menganggap dirinya yang paling benar. Mereka berambisi untuk terlihat sempurna dengan menggunakan ajian sihir hitam yang bisa mencapai keabadian.
Infernal Hellfire
Manusia yang lalai akan berjalan membersamai iblis yang telah dikeluarkan dari surga. Banyak bentuk kerjasama antara kedua entitas ini, kekuasaan, jabatan, atau status sosial, adalah sarana kerjasama paling efektif untuk menyeret manusia ke dalam lingkaran yang telah dikuasai oleh iblis.
Titian Senjakala
Manusia yang telah berperang di sepanjang hidupnya akan menemui satu titik ketika fase hidupnya berada di ujung tanduk. Sekian banyak kemenangan yang telah diperoleh dari berbagai dinamika hidupnya akan di tutup dengan kesadaran akan kematian. Sebagian manusia akan tersenyum karena berhasil memenangkan pertarungan, sebagian lainnya akan menyesal karena kalah dari nafsunya sendiri.
Tujuh lagu, 1 diantaranya adalah instrumental, yang digarap secara serius oleh Heretica merupakan sebuah refleksi dari dinamika hidup manusia.
Ada kalanya manusia berkompetisi untuk memenangkan sebuah pencapaian, namun di lain waktu mereka juga bertarung untuk tujuan yang sia-sia.
Semua lagu yang telah dijelaskan di atas dapat didengarkan melalui kanal digital seperti Spotify: Heretica – Link: https://open.spotify.com/intl-id/album/4zFl8c9YP1RIcgLI0l65kd?si=aWoiosmRQ0GkNFSYUS_ctg
Selain itu, pembaca juga dapat mengakses album ini secara analog dengan membeli kaset yang tersedia dengan menghubungi beberapa kanal berikut ini:
Email: [email protected]
Instagram: @heretica_official
Nomor Whatsapp: 088238698450
Penulis: Moch. Dimas Galuh Mahardika
Editor: Clarisa Maharany





