Bising yang Bertahan: Catatan dari Ruang-Ruang Musik Underground Malang

Setiap akhir pekan, di sudut-sudut kota yang jarang disorot lampu sorot, distorsi gitar dan teriakan parau masih terdengar.

"Men in The Cities" By Robert Longo

Setiap akhir pekan, di sudut-sudut kota yang jarang disorot lampu sorot, distorsi gitar dan teriakan parau masih terdengar. Bukan dari panggung besar dengan tiket berbayar mahal, melainkan dari ruang-ruang kecil: cafe yang menyulap sudutnya jadi panggung, gedung kesenian yang berbagi jadwal dengan latihan tari, atau bahkan aula yang dipinjam dari tetangga kampung. Di situlah musik underground Malang hidup bukan sebagai tontonan, tapi sebagai cara sekelompok anak muda bertahan dan bersuara.

Ekonomi yang Tumbuh dari Bawah

Banyak yang mengira musik underground berhenti di panggung dan moshpit. Padahal, di baliknya ada denyut ekonomi kreatif yang berjalan sendiri, tanpa sokongan industri besar.

Oki Honestian Adi adalah salah satu contohnya. Sejak merintis usaha merchandise musik lokal pada 2008, ia kini menjadi salah satu penjaga arsip sejarah musik di Malang lewat kaos dan merchandise band-band independen. 

Skena ini juga dijaga lewat kolektif-kolektif kecil yang rutin menggelar pertunjukan mingguan, menampilkan lima hingga sepuluh band secara bergantian sebuah ritme yang menjaga api komunitas tetap menyala di tingkat akar rumput.

Akan tetapi, jalur independen ini tidak sepenuhnya mulus. Persoalan klasik yang terus dihadapi para pelaku musik di Malang Raya adalah keterbatasan ruang publik yang layak untuk pertunjukan. 

Kota Malang sendiri masih relatif beruntung karena memiliki beberapa titik andalan seperti FMS Space, Gedung Kesenian Gajayana, dan Rocket Cafe di dekat Balai Kota. Situasi berbeda dialami komunitas di Kota Batu, yang harus meminjam aula warga atau ruang serbaguna karena minimnya venue representatif di sana.

Dari Kolektif ke Panggung yang Lebih Luas

Skena ini juga terus bergerak menuju ruang yang lebih formal tanpa kehilangan akar independennya. 

Pada Mei 2026, gelaran Gelombang Lokal 2026 di Malang menghadirkan program Band Submission sebuah proses kurasi terbuka bagi musisi dan band asal Malang untuk memperkenalkan karya mereka ke publik yang lebih luas, dinilai oleh kurator dari berbagai latar belakang industri musik. 

Salah satu band yang lolos kurasi, Monkey Rude, adalah kolektif ska reggae yang telah terbentuk sejak 2012 di wilayah timur Malang dan dikenal lewat pendekatannya yang hangat dan dekat dengan semangat komunitas.

Semangat kolektif serupa juga tampak dalam sejarah panjang skena ini. Band pionir seperti No Man’s Land pernah merilis dan mendistribusikan album mereka secara mandiri, sementara acara-acara seperti Kamar Gelap Fest berhasil mempertemukan berbagai genre dan komunitas dalam satu panggung. 

Media independen seperti Grave Dead turut berperan mempromosikan musisi lokal lewat live session dan playlist, membuka jalan bagi regenerasi band-band baru seperti Nan, Glorius Friends, dan Ruang Kendali untuk dikenal khalayak yang lebih luas.

Ruang yang Kian Diperebutkan

Akan tetapi tumbuh di jalur independen berarti juga terus bernegosiasi dengan ruang yang tersedia. Ketika perayaan Hari Buruh digelar di Malang pada Mei 2026, sejumlah kolektif musik keras seperti Hektar, Glich, DC Threat, dan The Reackless justru memilih tampil di tengah massa aksi. 

Bagi mereka, ini bukan sekadar hiburan, melainkan bentuk protes atas menyempitnya ruang berekspresi. Salah satu musisi yang terlibat menyebut bahwa prosedur perizinan acara musik kini semakin sulit, sehingga panggung yang biasanya digelar di ruang tertutup dipindah ke jalanan sebagai upaya merebut kembali ruang publik. 

Meski tampil di tengah aksi buruh, respons massa terhadap kehadiran mereka justru positif musik keras diterima sebagai bagian dari dinamika perjuangan, bukan gangguan.

Persoalan perizinan ini bukan isu yang berdiri sendiri. Di berbagai kota, termasuk Malang, semakin banyak kafe yang menghentikan pertunjukan musik karena kesulitan mengurus izin atau khawatir terkena sanksi, memaksa musisi kafe maupun musisi jalanan mencari cara lain untuk tetap tampil bahkan sekadar bernyanyi lewat siaran langsung dari kamar mereka sendiri.

Di sisi lain, ruang yang sempit dan minim pengawasan juga membuka celah risiko. Pada November 2025, sebuah acara gigs underground di Kota Batu berujung ricuh ketika terjadi pengeroyokan terhadap dua pengisi acara, dipicu kesalahpahaman saat penonton melakukan moshing.

Insiden ini jadi pengingat bahwa ruang alternatif yang dibangun secara swadaya oleh komunitas juga perlu diimbangi dengan tata kelola keamanan yang memadai bukan alasan untuk membatasi, tapi justru kebutuhan mendesak agar ruang berekspresi ini bisa terus dipercaya banyak pihak.

Bising yang Terus Dijaga

Musik underground Malang tidak pernah benar-benar berhenti tumbuh, meski ruang untuknya terus menyempit dari berbagai arah, izin yang rumit, venue yang terbatas, hingga risiko keamanan yang sewaktu-waktu bisa muncul di tengah kerumunan. Yang membuatnya bertahan bukan sokongan besar dari luar, melainkan kegigihan kolektif-kolektif kecil yang terus patungan alat, meminjam ruang, dan bergantian panggung.

Barangkali begitulah cara kota ini merawat kebisingannya: bukan lewat gedung megah atau sponsor besar, tapi lewat kepercayaan sederhana bahwa selalu ada tempat sekecil apa pun untuk suara yang ingin didengar.

Editor: Moch Fahmi A

Referensi:

  1. Disway Malang, “Menolak Manja, Oki Honestian Merajut Kemandirian Ekonomi lewat Kaus Musik Underground Malang”, 9 Juni 2026.
  2. Warta Pembaruan, “Gelombang Lokal 2026 Perkuat Ekosistem Musik Independen Malang”, 22 Mei 2026.
  3. Tugumalang.id, “Malang Underground, Mengeksplor Skena Musik Indie yang Berkembang Pesat”.
  4. Malang Raya Media, “Gigs di Jalan! May Day Malang Meledak, Hardcore-Punk Jadi Alat Perlawanan”, 1 Mei 2026.
  5. Blok-A Malang Raya, “Jadi Simbol Perlawanan, Panggung Musik Cadas Iringi Aksi May Day di Kota Malang”, 1 Mei 2026.
  6. Urbannews.co, “Musisi Terjepit Regulasi: Cafe Sepi, Jalanan Sunyi”, oleh Edo Maitreya, 5 Agustus 2025.
  7. Primetime News, “Gigs Underground di Kota Batu Ricuh, Vokalis Band Dikeroyok dan Dibacok”, 18 November 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA