The Scarecrow: Potret Gelap Penegakan Hukum di Masa Lalu

Sumber: Pinterest

Drama The Scarecrow merupakan drama thriller misteri yang mengangkat kisah investigasi pembunuhan berantai dengan nuansa gelap era 1980-an, drama ini disutradarai oleh Park Joon-woo dan ditulis oleh Lee Ji-hyun.

The Scarecrow menceritakan bagaimana usaha seorang detektif bernama Kang Tae-ju (Park Hae-soo) selama 33 tahun berusaha mengungkap kasus pembunuhan berantai di Desa Gangseong. Cerita bermula saat ia dimutasi dari seoul setelah dinilai melakukan kekacauan sehingga ia harus berurusan lagi dengan daerah masa kecilnya itu. 

Di daerah pedesaan tersebut, ia dihadapkan pada kasus pembunuhan berantai yang menyasar pada korban perempuan. Oleh karenanya, gadis-gadis di Desa Gangseong dihantui selama bertahun-tahun, sebab pelaku masih berkeliaran dan mengincar gadis lajang yang pulang hingga larut malam.

Keunggulan dari drama ini terletak pada sinematografi di setiap scene. Penggambaran latar 1900-an dikemas secara epik sehingga membuat penonton lebih dekat dengan tokoh sekaligus merasakan atmosfer kelam yang terjadi pada tahun tersebut. Namun, di sisi lain porsi adegan mengenai modus operasi pembunuh berantai lebih sedikit ditayangkan. Drama ini lebih banyak menampilkan hubungan antar-tokoh yang lebih kompleks serta upaya tokoh utama dalam mengungkap dalang di balik rangkaian pembunuhan tersebut. 

Bagi pencinta drama thriller, hal itu mungkin menjadi salah satu kekurangan, sebab ekspektasi penonton terhadap penggambaran aksi dan modus pembunuhan tidak terlalu banyak terpenuhi. Meskipun demikian, minimnya adegan tersebut membuat cerita lebih berfokus pada proses investigasi dan perjalanan tokoh utama dalam mencari kebenaran.Ā 

Drama ini menampilkan alur maju-mundur, mulai dari kehidupan Kang Tae-ju di tahun 1980 yang berprofesi sebagai detektif. Ia dibantu oleh reporter dan jaksa yang memiliki hubungan rumit dengannya untuk mengungkapkan kasus ini. Kemudian, jalan cerita mengarah pada Tae-ju di tahun 2019 yang masih berusaha menangkap pelaku pembunuhan berantai tersebut sebagai profiler kriminal. 

Lamanya dalam mengungkap pelaku dibalik tindakan kejam ini, membuat banyak orang di Desa Gangseong ditahan sebagai tersangka dalam kasus ini. Keterbatasan ilmu dalam teknologi forensik pada masa itu membuat penyelidikan belum dapat mengandalkan pemeriksaan DNA seperti sekarang. Polisi lebih banyak bergantung pada hasil autopsi, golongan darah, kesaksian, serta bukti-bukti fisik lainnya. Berbekal hanya dari golongan darah dan keterangan dari korban selamat yang belum tentu akurat, kepolisian di Desa Gangseong terperangkap pada petunjuk-petunjuk lama sehingga belum mampu mengungkap identitas pelaku.

Kebenaran yang Diabaikan Penegak Hukum

Drama The Scarecrow digarap berdasarkan kasus Hwaseong Serial Murders yang terjadi pada akhir tahun 1980-an. Kasus ini dianggap sebagai peristiwa terbesar dalam sejarah peradilan Korea Selatan. Dalam serial ini, sutradara dan penulis dengan berani menampilkan situasi sejarah kelam peradilan Korea Selatan di masa tersebut.

Bertahun-tahun belum membuahkan hasil, kepolisian dan penegak hukum pada masa itu mendapatkan tekanan dari masyarakat untuk segera menangkap pelaku. Namun, bukannya berkaca dari beberapa kasus lainnya, Kepolisian Korea menjadi semakin tidak cermat dalam menangkap pelaku pembunuhan di Desa Gangseong. Pada akhirnya, beberapa orang tidak bersalah ditangkap sebagai tersangka dalam kasus ini. 

Salah satunya tersangka dalam kasus pembunuhan berantai Gangseong adalah Lee Gi-Beom (Seong Geon-Hee), pemilik toko buku dan merupakan seorang aktivis. Ia menjadi korban paling tragis dari salah tangkap dan kebrutalan sistem polisi dalam menangani pelaku.

Lee Gi-Beom diculik dan mengalami kekerasan fisik selama interogasi maupun di dalam sel dari dua detektif korup agar mau menandatangani pengakuan palsu. Lee Gi-Beom sempat menolak memberikan apa yang polisi mau sehingga membuat ia terus disiksa selama berhari-hari.

Adegan tersebut tidak hanya menunjukkan kekejaman aparat, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kekuasaan dapat menghilangkan hak dari seorang individu. Gi-beom tidak lagi diperlakukan sebagai seorang yang harus dibuktikan kesalahannya, melainkan sebagai orang yang harus dipaksa mengakui kesalahan.

Ancaman jaksa juga turut mengeksploitasi Gi-beom dengan mengancam akan menangkap kakaknya atas tuduhan sebagai komunis jika ia tidak menyerah. Demi melindungi keluarganya, Lee Gi-beom terpaksa mengaku bersalah.

Dari serial ini, menjelaskan bahwa sistem penegakan hukum pada era tersebut amat buruk sehingga membuat orang yang tidak bersalah menerima hukuman yang harusnya tak ia jalani. Kisah Gi-beom memperlihatkan bagaimana seseorang dapat dijadikan kambing hitam ketika aparat gagal mengungkap kasus.

Ini mengingatkan pada berbagai masalah penegakan hukum di Indonesia pada masa lalu. Tekanan aparat, penyalahgunaan kekuasaan, serta pemaksaan terhadap pihak yang dianggap mudah dikorbankan pernah menjadi bagian dari sejarah kelam penegakan hukum di Indonesia. 

Pola tersebut dapat ditemukan dalam sejumlah kasus di Indonesia yang hingga kini masih menjadi sorotan. Penyelidikan dan proses hukum saat itu juga menuai dugaan adanya rekayasa serta sejumlah orang mendapatkan tekanan dan kemudian dinyatakan bersalah atas kasus tersebut. 

Dari drama The Scarecrow tidak hanya menghadirkan misteri pembunuhan berantai, tetapi juga menyampaikan kritik terhadap penegakan hukum di masa lalu. Dimana kekuasaan seseorang dapat membuat orang yang tidak bersalah menjadi korban dengan kekerasan dan ancaman. 

Ketika Buku Terus Dianggap sebagai Ancaman

(Cuplikan Drama The Scarecrow)

Bersamaan dengan penangkapan Lee Gi-beom, toko buku yang ia kelola dengan kakak laki-lakinya pun turut digeledah untuk mencari barang bukti atas kasus yang menimpanya. Dari hasil penggeledahan polisi dan jaksa ditemukan buku-buku kiri di sana. Maka hal itu segera menjadi santapan polisi untuk terus mengintrogasinya. 

Buku-buku inilah yang kemudian menjadi bahan polisi untuk mengancam Gi-beom. Polisi mengancam akan mengusik dan mengecap saudaranya sebagai komunis jika Gi-beom tidak segera mengakui dirinya sebagai pelaku dalam kasus pembunuhan berantai di Gangseong. 

Sekitar tahun tersebut, buku kiri memang dianggap sebagai ancaman untuk negara. Ketika segala sesuatu yang berkaitan dengan komunisme dan pemikiran kiri mendapat pengawasan ketat. Melalui konflik pada drama, seharusnya perbedaan pemikiran tidak menghalalkan tindakan kriminalisasi, intimidasi, ataupun pembungkaman terhadap seseorang. Padahal, buku seharusnya dipandang sebagai sumber pengetahuan dan ruang untuk mengenal berbagai pemikiran.

Krisis di masa lalu yang ditampilkan pada drama bisa kita lihat sampai sekarang di berbagai daerah Indonesia, dimana seseorang bisa ditangkap dan ditahan hanya karena menyimpan buku kiri di rumahnya atau sekadar melapak gratis. Peristiwa semacam ini menunjukkan bahwa stigma terhadap buku kiri ternyata tidak sepenuhnya hilang meskipun Indonesia telah memasuki babak baru. 

Buku masih dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya apabila memuat gagasan yang bertentangan dengan pemerintah. Karena itu, kepemilikan terhadap buku tertentu dapat membuat seseorang dicurigai dan diperiksa tanpa pertanda.

Keberadaan buku-buku yang dianggap berbahaya menunjukkan bahwa ketakutan terhadap gagasan dapat membatasi kebebasan berpikir. Serial ini pada akhirnya menyampaikan pesan bahwa hukum seharusnya menjadi alat untuk mencari kebenaran dan melindungi masyarakat, bukan menjadi alat untuk mempertahankan kekuasaan dan ketakutan. 

Pada akhirnya, The Scarecrow tidak sekadar mengajak penonton memecahkan misteri pembunuhan, tetapi juga mengajak penonton mempertanyakan bagaimana hukum dijalankan dan siapa yang memiliki kuasa di dalamnya. Kisah Lee Gi-beom memperlihatkan bahwa ketidakadilan dapat terjadi pada siapa saja ketika aparat lebih mengutamakan pengakuan daripada kebenaran.

Editor: Ani Rahmawati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA