LKMM : Surat Sakti Legitimasi Calon Pimpinan Ormawa

Organisasi mahasiswa (Ormawa) dewasa ini harus mampu mentransformasikan diri menjadi lebih akomodatif, adaptif, kritis, dan solutif sebagai panjang tangan mahasiswa dan juga masyarakat. Ormawa dengan segudang tuntutannya seolah membuat para organisator di dalamnya terkesan progresif dobrak, dobrak, dan dobrak terhadap permasalahan yang sedang dan akan mereka hadapi. Berdiskusi lebih jauh mengenai Ormawa yang dapat disebutkan seperti BEM, UKM, HMJ, Hima atau apalah sebutannya pasti berurusan dengan ikhwal memimpin dan dipimpin. 

Menduduki jabatan pemimpin Ormawa menjadi hal yang seksi dan prestise untuk dicapai, namun berat dan penuh tantangan ketika didapatkan, diemban serta dituntaskan. Pertanggungjawaban calon pemimpin Ormawa hendaknya sudah selesai dengan diri sendiri dulu sebelum mengajukan diri sebagai pemimpin Ormawa. Perlu kapasitas dan kapabilitas yang mumpuni untuk menjadi nahkoda ideal bagi bahtera organisasi mahasiswa.

Menyiapkan calon pemimpin dengan kriteria tertentu bagi organisasi mahasiswa sebagai motor utama implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi atau lebih tepatnya “melatih calon pemimpin” organisasi mahasiswa telah diupayakan oleh pihak Kampus. Bahkan sudah disiapkan Buku Pedomannya oleh Kemdikbud Ristek sebagai rambu-rambu menu latihan bagi calon pemimpin yang ideal. 

Mulai dari Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM) tingkat pra dasar dan tingkat dasar (TD) sampai tingkat menengah (TM) dan tingkat lanjut (TL) sudah diramu dengan substansi yang sesuai tingkatannya. Bahkan dulu mahasiswa yang bisa mencapai tingkatan LKMM TL dapat dikatakan GOAT (istilah untuk seseorang yang dianggap terbaik di bidangnya) sebagai calon pimpinan Ormawa. Mau magang ketua BEM Fakultas, BEM Universitas sangatlah bisa, tanpa perlu punya paman sebagai rektor atau dekan pun bisa. Asalkan selama punya Sertifikat LKMM TL dan masih aktif sebagai mahasiswa bisa nyalon. Tapi terpilih tidaknya tunggu dulu hasil Pemilu Raya (Pemira).

Sertifikat LKMM dari pra dasar sampai dengan LKMM TL menjadi semacam surat sakti untuk mencalonkan diri sebagai pemimpin Ormawa dengan segudang tantangannya. Sertifikat LKMM memanglah dikeluarkan untuk mereka yang dinyatakan lulus kegiatan “Latihan Memimpin” dalam skup yang sangat kecil, ibaratnya seperti main mandi bola di Pasar Malam tempo lusa. Problematika, tantangan, dan tanggung jawab menjalankan kepengurusan Ormawa jelas tidak dapat diukur dengan satu lembar sertifikat hasil latihan memimpin dalam waktu kurang dari satu minggu. Sangat kerdil apabila menasbihkan LKMM sebagai syarat utama seorang calon pemimpin organisasi mahasiswa. Kalo boleh pinjem kata-kata Lord Almighty Rocky Gerung, “Ijazah itu tanda pernah sekolah, bukan tanda pernah berpikir.” Kalau dalam konteks ini, maka bunyinya, “Sertifikat LKMM itu menandakan mahasiswa pernah ikut pelatihan bukan pernah dan bisa memimpin”.

Mengutip dari buku panduan LKMM yang diterbitkan oleh Kemendikbud Ristek, bahwa tujuan LKMM untuk membekali mahasiswa agar memiliki kemampuan: 1. Manajerial sesuai tingkatan masing masing; 2. Kejujuran, responsibility, independensi-kerjasama, dan entrepreneurship; 3. Prestasi oriented bukan sensasi oriented; 4. Paradigma Ilmiah dalam bakti organisasi; 5. Kesadaran berbangsa dan bernegara yang tepat kepada NKRI dan; 6. Transformatif sesuai dengan kondisi zaman.

Pada poin kelima, ketika disisir lebih dalam akan ditemukan anasir Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tri Dharma Perguruan Tinggi memiliki tiga poros dengan poros pertama “Pendidikan”, kedua “Penelitian”, dan ketiga “Pengabdian”. Bukankah lebih konkret apabila calon pemimpin ormawa selain punya surat sakti seperti Supersemar juga mempunyai track record dalam upaya-upaya implementasi satu dari tiga Tri Dharma Perguruan Tinggi? Lho kok cuma satu? tiga dong harusnya, kan tri bukan eka.

Mahasiswa juga manusia, dia bukan Naruto yang punya privilege cakra Kyubi ekor Sembilan bisa mengeluarkan jurus tajuu kage bunshin no jutsu. Atau Luffy dengan buah iblis Hito Hito no Mi: Sun God Nika.

Akan sangat adil dan ideal apalagi untuk mencalonkan diri sebagai pimpinan tertinggi BEM di tingkat Universitas untuk syarat pencalonan itu pernah terlibat aktif dalam salah satu program implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tapi kalau boleh berkelakar lebih jauh lagi, saya menaruh kredit lebih di bidang pengabdian masyarakat, karena pada dasarnya organisasi mahasiswa di kampus adalah agen yang membawa pesan-pesan keresahan masyarakat dan mahasiswa di akar rumput. Merekalah yang mempunyai instrumen akademis yang dapat dikatakan mampu untuk paling tidak bersuara dan bertindak menjembatani solusi dengan masalah yang dihadapi dalam lingkungan pendidikan kampus serta lingkungan pendidikan masyarakat.

Para pemilih waktu Pemira akan yakin dan mantap dengan pilihan seperti Si A dengan track record Pernah advokasi pupuk di daerah bukit gersang, pernah terlibat penelitian sebagai ketua dalam riset kebaharuan media pembelajaran, atau pernah berkontribusi Indonesia Mengajar di perbatasan.

Bagi yang punya nalar dan bisa berpikir sedikit saja, auto nge-vote/milih dia. Meskipun ada lawan yang ayahnya Rektor sekali pun, pamannya itu Wakil Rektor kemahasiswaan sekali pun. Atau adiknya itu Youtuber dengan 5 juta subscriber famous di kampus sekali pun. Akan tetap memilih. “Sesuai Dengan Hati Nuraninya”

Penulis : Faizal Gustian Widianto/Kontributor

Editor : Afifah Fitri & Delta Nishfu

Tinggalkan komentar