Dalam memantapkan status Kota Malang sebagai kota destinasi wisata heritage, Senin (14/1) Pemerintah Kota (Pemkot) Malang meresmikan 32 bangunan heritage sebagai cagar budaya. Wali Kota Malang, Sutiaji, mengatakan bahwa peresmian cagar budaya ini menunjukkan kesungguhan dan perhatian seluruh masyarakat terhadap kelestarian cagar budaya, tak hanya Pemkot saja. Sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2018 tentang Cagar Budaya, upaya pelestarian dan pemanfaatan cagar budaya ditingkatkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, seni budaya, dan pariwisata. “Kami lakukan sistem penta helix. Keberadaan pemerintah sebagai regulator, stakeholder, maupun akademisi dan budayawan dalam mengkaji apapun harus berbau scientific dan budaya,” ujar Sutiaji saat ditemui awak media usai apel pagi di Balai Kota Malang.

Seluruh bangunan yang ditetapkan sebagai cagar budaya telah disahkan melalui Surat Keputusan (SK) tertanggal 12 Desember dan 31 Desember 2018, diantaranya bangunan sekolah, bank, hotel, gedung/kantor, monumen, pabrik, sarana ibadah, rumah tinggal, taman, struktur, dan toko. Bangunan heritage yang menjadi cagar budaya Kota Malang diharapkan akan terus bertambah, mengingat banyak sekali bangunan bersejarah yang tersebar di Kota Malang. Bangunan yang telah diresmikan tak boleh diubah dan pemilik rumah bangunan cagar budaya akan mendapatkan insentif dan pemotongan pajak. Dengan demikian, Sutiaji berharap ke depannya seluruh masyarakat dapat menghormati, mempertahankan, dan memberikan perhatian terhadap budaya bangsa supaya tidak punah.

Prasetyo, Duta Budaya dan Museum Kota Malang 2018, juga turut mengungkapkan harapannya terkait kegiatan ini. “Semoga kita semua dapat melestarikan dan merawat bangunan cagar budaya dengan tidak mengotori dan membuang sampah sembarangan,” tuturnya. Hal senada diungkapkan Anthea Putri Yasmin, mahasiswi Arsitektur Universitas Brawijaya yang menjadi anggota dari Volunter Cagar Budaya. Ia berharap dengan adanya peresmian yang memberikan plakat/sertifikat pada bangunan heritage membuat masyarakat  mengerti bahwa bangunan tersebut bukan hanya sekadar bangunan kuno, namun memiliki nilai historis dan budaya sehingga dapat menarik minat wisatawan. (snt//rzk)

Tinggalkan Balasan