Perjuangan perempuan sering ditemui pada berbagai unsur karya sastra baik dalam lagu, cerita pendek, puisi, novel, film, dan sebagainya. Masing-masing memiliki titik fokus dan langkah yang berbeda berdasarkan isu utama yang menjadi poros cerita. Resolusi yang dialami tiap karakternya pun berbeda, ada yang berakhir dengan menikmati hasil perjuangannya dan ada pula yang tetap struggle hingga penulis mengakhiri mereka. Sumarni, tokoh perempuan yang mendominasi cerita dalam novel Entrok karya Okky Madasari, menjadi salah satu perempuan yang berjuang untuk hidup keluarganya yang lebih baik dengan cara berdagang. Jalan terjal ia lalui sebagai gadis muda dengan mimpi sederhana, membeli satu bra atau di sini disebut entrok dengan uangnya sendiri.
Perbedaan pemberian upah kepada pekerja laki-laki dan perempuan membuatnya harus memutar otak agar bisa diberi upah berupa uang. Tak lama, ia berhasil mendapat uang dan memutarnya untuk dijadikan modal dagang. Hal yang ia lakoni ini memang tidak mudah baginya, ia sering kali mendapat cerita kehidupan pernikahan yang membuatnya speechless di usianya yang masih muda. Namun, keadaan sosial saat itu membuatnya terpaksa menerima pinangan laki-laki karena adat saat itu seolah menyampaikan bahwa perempuan dilarang menolak pinangan. Setelah berumah tangga, Sumarni tetap menjalankan usaha dagangnya karena itulah yang menjadi sumber penghasilan utama keluarganya.
Ketika pemilu tidak bisa tidak dilakukan dan Sumarni tak ingin libur berdagang, ia memilih membawa dagangannya ke tempat pemilu agar bisa langsung melanjutkan pekerjaannya setelah memilih. Namun, ia tak pernah tahu bahwa pada titik inilah ia “harus” mulai menyisihkan sekian nominal uang untuk diserahkan pada aparat keamanan.
Perjuangan Sumarni terus berlanjut karena ada rintangan lain yang harus ia lewati, biaya keamanan. Biaya yang ditagih tiap dua minggu sekali oleh aparat keamanan ini tidak memiliki kejelasan mengenai manfaat atau perlindungan yang sebenarnya diberikan kepada Sumarni. Ketika Sumarni menolak membayar biaya keamanan, keesokan harinya rumahnya didatangi oleh penduduk yang protes mengenai pekerjaannya dengan alasan yang tidak masuk akal. Selain biaya, tuduhan yang tidak benar atas kekayaannya juga menjadi rintangan bagi Sumarni. Kerja kerasnya untuk memiliki uang agar anaknya, Rahayu, bisa sekolah setinggi mungkin pun tetap dianggap sebagai hasil dari pesugihan dan memelihara tuyul. Beberapa kali Sumarni mendapat masalah yang, mau tak mau, harus berurusan dengan polisi dan biayanya tidak pernah sedikit. Semua ia lalui tanpa bisa bercerita dan mengeluh pada orang lain, termasuk anak dan suaminya sendiri. Tempat bersandarnya hanya satu, Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa.
Sumarni yang bisa dinilai sebagai independent businesswoman ini hidup dalam pernikahan dengan seorang suami yang menyandarkan dan mengandalkan kerja Sumarni untuk memenuhi kehidupannya. Meskipun begitu, Sumarni tak pernah berniat berpisah dengan suaminya yang sering mabuk dan main perempuan karena alasan harta yang telah susah payah ia kumpulkan, akan dibagi dua dengan suaminya, sedangkan suaminya sendiri tidak berkontribusi banyak karena hanya ngikut Sumarni.
Tidak sedikit masalah baru yang menyebabkan Sumarni memberikan beberapa bagian dari kekayaannya untuk diberikan pada “komandan” agar ia memenangkan argumennya dan masalahnya bisa selesai. Sayangnya, hal “maju tak gentar, membela yang bayar” semacam ini (yang masih sering terjadi) terulang beberapa kali dalam hidup Sumarni. Di penghujung cerita yang menunjukkan bahwa kekayaannya tidak sebesar di pertengahan, keinginan untuk mantu (menikahkan anak perempuan dengan acara dan resepsi besar), seolah menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia tidak lagi menjadi Sumarni dengan semangatnya, tetapi dikelilingi kebingungan.
Memori buruk dan tertekan atas perlakuan aparat di masa lalu membuatnya marah apabila ia mendengar kata tentara. Persembahan yang sering ia berikan kepada Mbah Ibu Bumi Bapa Kuasa pun hanya ia lihat dengan tatapan kosong. Impian atas hidup dengan kemampuan ekonomi memang sempat ia rasakan, tetapi hal tersebut dilalui juga dengan jalan terjal yang tidak mudah. Anggapan rendah terhadap perempuan, pemberian upah, larangan menolak pinangan, usaha dagang, gunjingan, biaya keamanan, anggapan salah karena perbedaan kepercayaan, dan berbagai hal lain yang telah ia lewati mengantarkannya pada akhir cerita yang menempatkannya dalam kesepian.
Hasil perjuangan Sumarni bisa dilihat melalui deskripsi atas tokoh Rahayu, anak perempuan yang berhasil mengenyam pendidikan hingga universitas melalui kemampuan akademiknya, yang tidak bisa dilepaskan dari kemampuan Sumarni untuk memberikan ragat. Tidak peduli seberapa mahal biaya sekolah anaknya.
Beberapa realitas yang dialami Sumarni dalam novel ini juga terjadi di kehidupan nyata di mana ditunjukkan oleh bahwa sebagian dari kita memang hidup di lingkungan tersebut. Meskipun perjuangan dan kemandirian Sumarni dalam novel Entrok berakhir dengan hidupnya yang berubah total, ada Sumarni-Sumarni lain yang mungkin sebelas dua belas mengalami hal yang sama yang sedang memperjuangkan hak mereka. Perjuangan perempuan bisa dan sering dimulai dari mereka yang berusaha agar hidupnya lebih baik dan melawan underestimate statement yang berada di sekelilingnya.
Women must have the right and their own choice to choose.
Editor: Talita Lathifatur Rahman





