Melihat Melalui Sasana dan Jaka, Dua Tokoh pada Novel Pasung Jiwa

Untuk setiap nyala keberanian yang tersembunyi di balik ketakutan (Pasung Jiwa) Pasung Jiwa merupakan karya fiksi berupa novel

Gramedia

Untuk setiap nyala keberanian yang tersembunyi di balik ketakutan (Pasung Jiwa)

Pasung Jiwa merupakan karya fiksi berupa novel yang ditulis oleh Okky Madasari dan terbit pada tahun 2013. Novel ini menceritakan tentang dua karakter yang berusaha untuk keluar dari batas-batas kebebasan yang telah terstruktur oleh lingkungan, sosial, agama, dan hukum. Karya setebal 328 halaman ini juga menyampaikan kepada pembaca tentang bagaimana langkah yang diambil dapat muncul dari rasa kebersamaan. Tak hanya itu, melalui novel Pasung Jiwa  ini, pembaca mungkin merasa dekat dan familiar dengan apa yang terjadi dalam cerita.

Karakter pertama yang muncul adalah Sasana, seseorang yang memiliki keinginan untuk menjadi penyanyi. Ia digambarkan sebagai seorang yang membenci dirinya sendiri dan seolah merasa tertekan atas hal buruk yang telah terjadi padanya. Dalam perjalanannya, ia meyakini bahwa semua hal itu terjadi karena ia terlahir sebagai laki-laki. Seiring dengan perkembangan cerita, ia ambil bagian pada aksi unjuk rasa. Aksi yang menuntut agar beberapa buruh pabrik dipulangkan. Buruh yang hilang setelah protes kenaikan upah agar sesuai peraturan baru dari pemerintah.

Pada sepenggal kisah berlatar aksi buruh ini, kok, sepertinya tidak asing di telinga kita, ya? 

Sasana, yang seolah menderita dalam fisik laki-laki, juga tersiksa karena asumsi sekitar yang melihatnya sebagai orang sakit jiwa. Melalui bagian ini, pembaca seperti diajak mempertanyakan apakah ada kriteria untuk menentukan waras tidaknya seseorang, apakah benar bahwa jiwa-jiwa tersebut perlu disembuhkan, dan melihat bagaimana pasien dalam mengartikan itu semua. Ia merasa sekitarnya dibatasi sekat-sekat yang tidak terlihat yang membuatnya merasa terpisah. 

Kemudian, melalui tokoh bernama Jaka, pembaca kembali diajak untuk melihat bagaimana pekerja pabrik yang dikalahkan karena mencari keadilan. Lika-liku perjalanan Jaka mengantarnya pada sebuah organisasi yang dekat dengan aparat keamanan negara. Namun, pada poin-poin hidupnya setelah itu, pembaca diajak berpikir mengenai penegakan aturan agama yang dilakukan oleh sebuah perkumpulan. Mungkin kemudian akan muncul pertanyaan, “apakah penegakan perintah dengan cara ini sudah sesuai?” atau pertanyaan serupa lainnya.

Melalui tokoh Sasana, poin gender, norma dan lingkungan sosial, keadilan, dan kesehatan mental dapat kita lihat dan pahami sebagai hal yang bersambung satu sama lain. Konflik dengan diri sendiri yang tidak bertemu lingkungan yang tepat, kemudian dapat berpengaruh pada kondisi psikis dan psikologis. Diskusi dan analisis mengenai tokoh ini dapat dilihat dari beberapa sisi yang akhirnya bisa ditemukan pandangan baru untuk melihat sekeliling kita. 

Novel ini juga membuka diskusi dengan pembaca mengenai pandangan dalam beragama. Apakah ini benar? Apakah ini sesuai? Apakah ini tepat? Apakah dengan cara seperti ini? Apakah cara ini tepat? Dan ‘’apakah’’ lainnya. Jaka seolah terperangkap dan terkungkung pada dinding-dinding berupa pertanyaan tersebut. 

Pasung Jiwa menyampaikan kritik sosial yang dapat membantu pembaca melihat ulang realita yang ada. Berbagai hal terasa familiar atau secara langsung bisa dikenal. Beberapa kejadian yang mungkin membuat kita berpikir dan mengatakan “Iya, ini ada.” Juga mempertanyakan apa keberanian masih ada. 

Novel ini layak dibaca untuk membantu melihat sekitar secara lebih dekat. Namun, ada beberapa bagian cerita yang tidak boleh dibaca oleh yang masih di bawah umur. 

Sasana dan Jaka. Masing-masing seperti terperangkap dalam ruangan berdinding. Tak menemukan kunci pintu keluar, mereka bersikeras untuk membongkar. 

Kebebasan baru ada jika ketakutan sudah tak ada (h. 144)

Editor: Talita Lathifatur Rahman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA


🔎 Apa yang ingin kamu cari?
Search
🔥Terbaru