Tidak akan pernah ada seseorang yang bisa mengambil ingatan milik orang lain (h. 175)
Tiba Sebelum Berangkat merupakan novel karya Faisal Oddang yang terbit pada tahun 2018. Novel setebal 216 halaman ini menyampaikan kisah yang berangkat dari sejarah di Sulawesi Selatan tahun 1950-an. Tidak hanya mengenai sejarah, tetapi juga gender, agama, dan kepercayaan yang dibalur dengan berbagai konflik. Dalam menyampaikan bagaimana alur cerita, Faisal menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu dan penjelasan yang ditulis oleh Mapata, tokoh yang menjadi poros cerita.
Dibuka dengan prolog yang mendeskripsikan penyiksaan yang dialami Mapata, tuduhan bahwa ia tergabung organisasi yang dianggap mengancam kehidupan bangsa dan agama akan mengantar pembaca pada berbagai peristiwa yang dimulai pada tahun 1952 di Sulawesi Selatan. Konflik antara Mapata dan penculiknya membuka jalan bagi peristiwa gurilla atau gerilya, Negara Indonesia Timur, DI/TII, serta perang untuk beberapa pihak yang memiliki kepentingan untuk muncul dalam cerita. Namun, konflik ini tak hanya melibatkan gerilyawan dan tentara, tetapi juga bissu, yaitu kaum rohaniawan dalam agama asli Bugis. Melalui bissu inilah, unsur sejarah dan gender dalam novel memiliki benang merah.
Mengenai pembahasan gender, telah diketahui bahwa bissu merupakan kaum rohani asli Bugis yang biasanya mendapat pertanda melalui mimpi atau sakit, tetapi tak semua keturunan suku Bugis dapat mengalaminya. Melalui pengenalan dan penjelasan mengenai bissu, pembaca dapat mengenal bahwa suku Bugis mengenal lima jenis gender, yaitu oroane (pria), makkunrai (wanita), calalai (perempuan berpenampilan laki-laki), calabai (laki-laki berpenampilan perempuan), dan bissu. Pembahasan bissu tak hanya sampai di situ, tetapi juga diceritakan bagaimana proses menjadi bissu, ritual penyucian, apa yang dipelajari, peran bissu dalam masyarakat Bugis, serta puasa dan nazarnya.
Tak hanya memperkenalkan tokoh bissu, novel ini dapat membuka diskusi dengan pembaca dengan topik ketertarikan sesama jenis yang mungkin akan dianggap tabu dan tidak nyaman oleh beberapa kalangan. Gender yang sulit dipisahkan dari kondisi sosial tergambar dalam hubungan antara Andi Upe yang seorang bangsawan dan Rusming, kondisi ini yang mendorong Andi Upe untuk bergabung dengan gerilya. Selain poin lima gender, gender dan sosial, poin yang lainnya berupa tokoh Mapata yang aktif dalam perkumpulan pemerhati gender dengan latar belakang anggota yang bermacam-macam, dengan salah satu kasusnya yaitu kematian seorang waria.
Di samping mengangkat sisi gender dan sejarah, Faisal menyisipkan pertanyaan mengenai agama yang dituliskan melalui pertanyaan Mapata dalam cerita. “Apa landasan negara terhadap pengakuan agama resmi?”, “Apakah eksistensi sebuah agama diukur dari banyaknya jumlah penganut?”, serta protes atas agama atau kepercayaan asli Indonesia yang dianggap sepele dan terpinggir. Selain itu Mapata mengkritisi mengapa bissu dianggap menyimpang dan diburu, bahkan di tanah Sulawesi Selatan.
Alur maju mundur yang digunakan membawa pembaca untuk melihat perjalanan Mapata menjadi seorang bissu dan hubungannya dengan Batari, teman sebaya Mapata saat sekolah dasar. Batari membantu dan memberikan penjelasan kepada Mapata atas kebingungannya mengenai apa yang dilalui saat menjadi toboto hingga menjadi bissu. Bersama Batari-lah, Mapata menjalani hidup dengan membuka lembaran barunya. Namun, berpisahnya Batari dan Mapata karena penangkapan pun tidak bisa dihindarkan. Saat satu per satu kisah mulai terungkap, penyekapan dan penyiksaan yang dialami Mapata perlahan mengantarnya pada rasa amarah akibat pengkhianatan.
Detail kecil cerita Mapata yang mungkin dianggap “menjijikkan”, memiliki kaitan dengan masa kecilnya. Namun, perlu diketahui bahwa ada beberapa bagian cerita yang merupakan adegan dewasa dan adegan lain yang mengandung unsur kekerasan yang sebaiknya tidak dibaca oleh anak-anak.
Bagi peminat isu gender, buku ini kiranya bisa menjadi salah satu pilihan untuk dibaca dan didiskusikan bersama, apalagi dikaitkan dengan budaya dari suatu wilayah. Tak hanya itu, pembaca bisa mendapat selayang pandang tentang karya lain yang memiliki keterkaitan dengan hal yang ada pada novel Tiba Sebelum Berangkat.
Editor: Talita Lathifatur Rahman





