Dalam rintik hujan telah menepi
di ujung jalan tak terpakai.
Alunan lagu mama terus berputar di kepala
— membuatnya tak berguna.
Tanah – tanah basah oleh hujan, ramai
manusia berkeringat sebanyaknya yang manis.
Namun mata – mata itu buta, hanya melihat tanah ini
kosong tak bertuan, memikirkan uang – uang serta merintis
untuk membukanya.
Jas merah hanya digantung di almari mama,
telah membuka mataku, saat melihat, mendengar
wacana – wacana kosong sebuah berita.
Sekali lagi, aku ingin menyampaikan tanah
— itu bertuan.
***
Sekarang bagiku hantu telah selesai
menjaga tanah – tanah Ibu pertiwi.
Walaupun tangan terus menadah untuk ini,
supaya tanah itu kembali menunjukan warna – warni.
Rintik hujan masih sama,
membasahi tubuh serta pipi mama.
Hingga mataku kembali memerah,
— dengan hati merekah.
Aku kembali ingin
melihat tanah ini warna warni.
seperti ini, sebelum dikuasai
manusia tak hati hati,
serta tak sejati.





