Bedah Buku Sukacita Membaca: Strategi Membangun Literasi Yang Perlu Diteladani

Puluhan mahasiswa dan pegiat literasi menghadiri diskusi bedah buku Sukacita Membaca terbitan Marjin Kiri, yang diselenggarakan oleh Dialogika

Moch. Fahmi/ Siar

Puluhan mahasiswa dan pegiat literasi menghadiri diskusi bedah buku Sukacita Membaca terbitan Marjin Kiri, yang diselenggarakan oleh Dialogika pada Kamis (27/2) di Kafe Pustaka, Malang.

Diskusi ini berangkat dari keprihatinan terhadap rendahnya tingkat literasi di Indonesia. Buku Sukacita Membaca, mengulas perjuangan gerakan kiri dalam membangun semangat literasi, termasuk merangkum berbagai program yang pernah dijalankan di beberapa negara seperti Meksiko, Tiongkok, dan India.

Muhammad Asyrofi Al Kindi menjelaskan bagaimana gerakan literasi di Meksiko, Tiongkok, dan India telah berhasil mendorong kemajuan sosial serta menentang rezim yang menindas. Ia menekankan bahwa Indonesia perlu belajar dari model gerakan literasi yang telah diterapkan di negara-negara tersebut.

“Institusionalisasi dari literasi ini penting karena literasi mampu mengubah paradigma suatu negara. Di luar sana, banyak model-model yang ada dan kita harus bisa memilih serta bisa menerapkan model-model itu,” ungkap Asyrofi.

Berkaca Pada Pergerakan Literasi Di Meksiko, Tiongkok, dan India

Gerakan literasi di Meksiko dimulai pada 1920 untuk meningkatkan tingkat melek huruf yang hanya 22%. Presiden Alvaro Obregon membangun sekolah desa, melatih guru, dan mendirikan perpustakaan. 

Menteri Pendidikan Jose Vasconcelos melanjutkan upaya ini pada 1921 dengan membuka ribuan sekolah, menaikkan upah guru, serta menyediakan buku dan sarapan gratis. Kementerian Pendidikan Umum (SEP) memperluas akses dengan perpustakaan dan terjemahan buku. Tingkat melek huruf naik hingga 70%. Meski menghadapi kendala pada 1982, program literasi tetap berjalan hingga 1986, menjadikan gerakan ini bukti keberhasilan pendidikan di tengah perubahan sosial dan politik.

“Meskipun pemerintahan Meksiko tidak lagi kiri dan kepemimpinan partai politiknya sudah berubah, tapi tradisi membaca dan literaturnya masih kuat karena proyek-proyek literasinya itu mengakar. Itulah yang menyebabkan Meksiko tidak terlalu jatuh menjadi budak negara-negara barat, tapi juga memiliki identitas yang kuat,” pungkas Asyrofi.

Berbeda dengan Meksiko, Tiongkok fokus pada penyederhanaan bahasa, literasi pedesaan, dan integrasi praktikal. Gerakan ini bermula dari eksperimen di Yan’an dan Yanshi sebelum menjadi gerakan nasional. Pemerintah menyediakan bacaan di tempat kerja, mencetak buku murah, dan menyederhanakan bahasa dengan Pinyin pada 1955.

Hasilnya, jumlah perpustakaan meningkat dari 55 pada 1949 menjadi 182.960 pada 1958. Selain menaikkan angka literasi, Tiongkok mengintegrasikannya dengan budaya populer, membuktikan peran literasi dalam dominasi ekonomi dan budaya global.

Kerala, negara bagian di India selatan, menjadi contoh utama keberhasilan gerakan literasi. Dengan tingkat melek huruf yang tinggi, layanan kesehatan yang baik, dan tingkat kejahatan yang rendah, Kerala menunjukkan bagaimana literasi dapat berdampak luas pada kesejahteraan sosial. 

Keberhasilan ini tidak lepas dari peran kuat partai komunis yang telah aktif sejak 1920-an. Partai ini mendorong pembangunan perpustakaan di pedesaan, mempromosikan budaya membaca, serta berkolaborasi dengan universitas untuk menyelenggarakan seminar dan konferensi literasi. Inisiatif lainnya termasuk penamaan perpustakaan dengan nama pahlawan lokal untuk memperkuat identitas budaya masyarakat.

Lalu, Bagaimana Dengan Kondisi Literasi Indonesia?

Berdasarkan laporan UNESCO, Indonesia menempati posisi ke 62 dari 70 Negara dalam tingkat literasi. Menurut penjelasan Asyrofi, Amnesia sejarah dan literasi menjadi faktor menurunnya tingkat literasi di Indonesia. Hal ini terjadi Pasca peristiwa 65 di Indonesia, dimana pemerintah telah menghancurkan ingatan sejarah dan literasi masyarakat.

“Pasca 65 dan pasca 1980 ketika militerisasi saja besar-besaran, mengutip Ben Anderson, kita telah dirobotomi. Ingatan sejarah kita, ingatan literasi kita itu telah dihancurkan oleh militarisasi orde baru itu pada saat itu,” ucap Asyrofi.

Asyrofi juga sedikit mengkritisi kebijakan pemerintah saat ini, yang dinilai menjadi salah satu faktor lain mundurnya pergerakan literasi di Indonesia.

“Kalau kita bandingkan dengan di Indonesia, pembangunan literasi itu tidak dimulai dari pembangunan infrastruktur literasi seperti membangun penerbitan, sekolah, perpustakaan, gaji guru. Terus memberi makan gratis. Intinya pintar dulu baru makan. Nah, di Indonesia keadaan terbalik ya,” ungkap Asyrofi.

“Gaji guru menyedihkan, Buku juga mahal. Itulah yang menyebabkan teman-teman ya kita tahu sendiri program makan gratisnya akhirnya tidak efektif. Kenyang dulu, akhirnya apa? Kurang lebih malas membaca,” tambahnya.

Sebagai resolusi, Ia mengajak para peserta diskusi untuk menghadiri  komunitas-komunitas yang menggerakkan literasi khususnya di Kota Malang seperti Sabtu Membaca, Palma, Duduk Baca, dan kafe-kafe yang mendukung literasi seperti Kafe Pustaka dan Kedai Rupa Duta. Tempat-tempat dengan orang yang tak pernah putus asa menggerakkan literasi.

Editor: Karunia Citra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA


🔎 Apa yang ingin kamu cari?
Search
🔥Terbaru