Pentingnya Perempuan Berdikari: Membebaskan Diri dari Narasi Patriarki

Pada Rabu (6/3) Lanikaisoul & Friends bersama Semeru Art Gallery mengadakan kegiatan mingguan bertajuk “Ngobras -Ngobrol Santai, Refleksi

Rahma Nova/ Siar

Pada Rabu (6/3) Lanikaisoul & Friends bersama Semeru Art Gallery mengadakan kegiatan mingguan bertajuk “Ngobras -Ngobrol Santai, Refleksi Bersama Hari Perempuan Internasional”. Acara ini mengangkat tema “Perjuangan Hidup dan Mengapa Perempuan Berdikari? Apa Pentingnya Berdikari Bagi Perempuan?”, dan berlangsung di lantai 2 Semeru Art Space, Kecamatan Klojen, Kota Malang. 

Diskusi ini dipantik oleh Putriyani Asmarani, seorang pengajar, yang menyoroti bagaimana narasi tentang perempuan kerap terbelenggu oleh konstruksi patriarki, baik dalam folklor, mitologi, maupun sastra. Perempuan yang kerap disapa Putri mengangkat kisah-kisah dari mitologi Yunani yang selama ini membentuk persepsi masyarakat tentang peran perempuan. 

Dari mitologi banyak sosok perempuan yang dikisahkan sebagai makhluk mempesona namun berbahaya. Putri menceritakan bagaimana kisah-kisah mitologi Yunani yang berfokus di kisah para Dewi, yang turut berperan dalam membangun ideologis patriarki masyarakat dan mempersepsikan terkait bagaimana perempuan itu berperan di masyarakat, contohnya tulisan-tulisan dari Madeline Miller yang menulis dari kisah Yunani Kuno.

“Nah, kalau dari legenda yang betulan sebelum didekonstruksi, sebelum kekinian itu Sirse namanya jadi siluman ini dia bernama Sirse. Sirse itu ditendang dari kayangan karena dia mengkritik Zeus, Tuhan,” jelas Putri. 

Dijelaskan dalam legenda bahwa Sirse ini sangatlah cantik yang kecantikannya digunakan untuk memikat para pelaut lelaki yang singgah disana. Kisah ini menunjukkan bagaimana perempuan yang memilih untuk melawan otoritas laki-laki sering kali digambarkan sebagai ancaman dan mendapatkan perilaku yang tidak adil. 

Dalam cerita lain, ada kisah Penelope yang merupakan istri dari Odysseus, mereka memiliki seorang anak yaitu Telemachus. Dia digambarkan sebagai seseorang yang sangat rasional.

“Nah, Telemachus ini yang apa ya menurut saya? Dia gambarkan menjadi sosok yang sangat rasional. Misalnya dia yang memerintah ini dan itu, terus habis itu mengatur persediaan gabah atau perang dan lain-lain,” jelas Putri. 

Dikisahkan pula Odysseus tidak kembali dari perang, Penelope berinisiatif untuk melakukan sesuatu untuk suaminya. Mengetahui hal itu Telemachus melarang ibunya dan menyuruhnya untuk masuk ke kamar dan menangis dengan khusyuk. 

Putri menjelaskan penggambaran Telemachus ini menyimbolkan patriarkis  yang telah ada sejak dahulu. Bahkan ketika Telemachus meminta ibunya kembali ke kamar dan menangis dengan khusyuk, seolah tugas perempuan hanyalah meratapi keadaan tanpa memiliki ruang untuk bertindak.

Selain mitologi Yunani, folklor Indonesia seperti Wewe Gombel, Kuntilanak, atau sosok ibu dalam Pengabdi Setan sering menempatkan perempuan sebagai figur menyeramkan. 

Bahkan dalam aspek keagamaan perempuan digambarkan menjadi mulia ketika berkorban. Melihat contoh seperti kisah Maria dalam agama kristen yang menjadi mulia setelah dia berkorban. 

Dalam cerita rakyat, ayat-ayat keagamaan dan simbolisasi masyarakat pada zaman dahulu banyak ditemukan penggambaran diskriminasi terhadap perempuan, seperti dalam kisah Penelope dan Sirse.

Juga dalam cerita rakyat indonesia, penggambaran hantu atau setan seringkali menggunakan perempuan sebagai pelambangannya.

Meski begitu, masih ada beberapa kisah fiksi yang menggambarkan bagaimana perempuan dianggap bisa berperan lebih dari anggapan masyarakat yang menganggap perempuan kurang bisa berperan lebih di masyarakat. Seperti dalam salah satu cerita yang mengapresiasi kekuatan perempuan, tokoh ibu dalam novel Blora karya Pramoedya Ananta Toer. 

“Dan yang mengisi keluarga ini, yang membuat keluarga ini utuh itu Umi Saida. Jadi ibu dari Pramoedya Ananta Toer. Jadi ibunya ini ya yang mencari nafkah, yang harus ini apa memperhatikan sekolah anaknya,” jelas Putri.

Dalam sejarah, Putri menjelaskan juga bahwa terbukti dalam kisah-kisah Kerajaan Majapahit,  beberapa pengambilan keputusan perempuan memiliki peran besar disitu, seperti konflik diantara Tumapel Kediri, Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit. Karena hubungan perjodohan dari para pangeran dan perempuan-perempuan mereka.

Dari semua hal itu tidak dipungkiri bahwa perempuan pula memiliki nilai yang tinggi dan patut untuk  dihormati. Putri mengungkapkan itulah pentingnya kita sebagai perempuan harus menjadi perempuan yang berdikari, agar terlepas dari cerita-cerita patriarki dan merendahkan perempuan yang sudah mengakar dari zaman dahulu kala. 

Editor: Moch. Fahmi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA